Senin, 28 Februari 2011

HARI PAHLAWAN NASIONAL

PERINGATAN HARI PAHLAWAN NASIONAL
10 NOVEMBER

Hari ini, 65 tahun yang lalu, terjadi "Peristiwa 10 November". Peristiwa perang besar ini, terjadi di Kota Surabaya, Jawa Timur.

Berikut latar belakangnya. Pada tanggal 15 September 1945, tentara Inggris mendarat di Jakarta dan pada tanggal 25 Oktober mereka mendarat di Surabaya. Tentara Inggris didatangkan ke Indonesia atas keputusan dan atas nama Sekutu, dengan tugas untuk melucuti tentara Jepang, membebaskan para tawanan yang ditahan Jepang, dan memulangkan tentara Jepang ke negerinya. Tetapi, di samping itu, tentara Inggris juga memeliki tujuan rahasia untuk mengembalikan Indonesia kepada pemerintah Belanda sebagai jajahannya.

Berbagai perkembangan yang terjadi telah menunjukkan hal itu dan meledakkan kemarahan rakyat Indonesia di berbagai daerah. Hal ini menyulut berkobarnya bentrokan-bentrokan bersenjata antara pasukan Inggris dengan beraneka-ragam badan perjuangan yang dibentuk oleh rakyat. Puncaknya adalah terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur, pada tanggal 30 Oktober.

Karena terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby itu, maka penggantinya (Mayor Jenderal Mansergh) mengeluarkan sebuah ultimatum. Dalam ultimatum itu disebutkan bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas. Batas ultimatum adalah jam 6 pagi tanggal 10 November 1945.

Ultimatum tersebut ditolak oleh Indonesia. Alasannya, antara lain, Republik Indonesia sudah berdiri, dan Tentara Keamanan Rakyat sebagai alat negara juga telah dibentuk.

Maka, pada tanggal 10 November (pagi), tentara Inggris mulai melancarkan serangan besar-besaran, dengan mengerahkan sekitar 30 000 serdadu, 50 pesawat terbang dan sejumlah kapal perang. Ribuan penduduk menjadi korban, banyak yang gugur dan luka-luka. Tetapi, perlawanan para pejuang tetap berkobar di seluruh kota, dengan bantuan yang aktif dari penduduk. Pihak Inggris salah menduga bahwa Kota Surabaya bisa direbut dalam waktu tiga hari saja, salah. Mereka perlu waktu sampai sebulan!

"Peristiwa 10 November", pada kemudian hari, diperingati sebagai Hari Pahlawan Nasional. Bukan hanya untuk mengenang begitu banyaknya pahlawan yang gugur, atau lamanya pertempuran dan besarnya kekuatan lawan.

Bung Tomo dalam rapat umum di Malang berpidato untuk mengumpulkan pakaian untuk korban surabaya, April 1947 [ IPPHOS; 20000808 ]

Namun, juga untuk mengingatkan kita pada peran dan pengaruhnya, yang begitu besar padajalannya revolusi. "Peristiwa 10 November" bisa menggerakkan rakyat untuk ikut serta, baik secara aktif maupun pasif, dalam perjuangan membela bangsa dan Tanah Air.

Pahlawan Kehidupan
Berkaitan dengan Hari Pahlawan Nasional, motivator kita Andrie Wongso mengatakan, "Jika kita mau menggali lebih dalam, kita terlahir untuk jadi pemenang. Selalu ada jiwa seorang patriot dalam diri setiap insan, yang akan menjadikan kita sebagai pahlawan.

Tentu, kita tak harus angkat senjata di medan laga untuk menjadi pahlawan sebenarnya. Melakukan berbagai hal positif dan memberi makna dalam kehidupan ini, bisa menjadi kita seorang pahlawan.

Oleh karena itu, pada Hari Pahlawan Nasional ini, saya mengajak agar kita bersama kembali menengok ke dalam diri sendiri, tentang apa-apa saja yang sudah kita lakukan. Jika sukses yang didapat, terus pertahankan! Jika gagal yang terjadi, teruslah berjuang. Jika kebaikan yang kita petik, segera bagikan. Jika keburukan yang kita tuai, evaluasi dan segera lakukan perbaikan. Saya yakin, jika semangat ini terus dipertahankan, niscaya, kita akan tampil sebagai ‘pahlawan-pahlawan' kehidupan. Salam sukses, luar biasa!"

Sumber :   http://www.andriewongso.com/awartikel-3066-Peristiwa_Luar_Biasa-Peringatan_Hari_Pahlawan_Nasional


Hari Pahlawan, Sejarahnya, Pidato Bung Tomo, dan Zaman ini

Hari Pahlawan, Sejarahnya, Pidato Bung Tomo, dan Zaman ini.
Mungkin butuh waktu untuk memahami kembali tentang hari pahlawan. Ada beberapa pertanyaan di benak, mengapa 10 November, bagaimana sejarah peristiwanya, kemudian tentang makna kata pahlawan itu sendiri, lalu tentang peringatannya dan maknanya dalam kehidupan sekarang. Saya pun menilik mesin pencari berharap dapat memberi cukup gambaran.

Tak lepas dari sejarah panjang bangsa Indonesia, penguasaan negeri ini oleh Bangsa Belanda dengan penuh kekerasan selama tiga ratusan tahun tentu membawa luka yang tak ringan. Rangkaian kejadian besar dialami bangsa ini pada tahun1945 setelah lama hidup tertindas hingga akhirnya sampai pada peristiwa besar perang melawan Belanda dan Inggris pada tanggal 10 November 1945.

Berdasar dari sumber wikipedia, urutan kejadian yang berkaitan adalah diawali dengan masuknya tentara Jepang ke Indonesia. Pada 1 Maret 1942, tentara Jepang mendarat di Pulau Jawa, dan tujuh hari kemudian, tepatnya, 8 Maret, pemerintah kolonial Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang berdasarkan perjanjian Kalidjati. Sejak itulah, Indonesia diduduki oleh Jepang.

Tiga tahun kemudian, Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu setelah dijatuhkannya bom atom (oleh Amerika Serikat) di Hiroshima dan Nagasaki. Peristiwa itu terjadi pada bulan Agustus 1945. Mengisi kekosongan tersebut, Indonesia kemudian memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945.

Rakyat dan para pejuang Indonesia berupaya melucuti senjata para tentara Jepang. Maka timbullah pertempuran-pertempuran yang memakan korban di banyak daerah. Ketika gerakan untuk melucuti pasukan Jepang sedang berkobar, tanggal 15 September 1945, tentara Inggris mendarat di Jakarta, kemudian mendarat di Surabaya pada 25 Oktober.
Tentara Inggris didatangkan ke Indonesia atas keputusan dan atas nama Sekutu, dengan tugas untuk melucuti tentara Jepang, membebaskan para tawanan yang ditahan Jepang, serta memulangkan tentara Jepang ke negerinya. Tetapi, selain itu, tentara Inggris juga membawa misi mengembalikan Indonesia kepada pemerintah Belanda sebagai jajahannya. NICA (Netherlands Indies Civil Administration) ikut membonceng bersama rombongan tentara Inggris.

Rakyat Indonesia yang telah merasa merdeka setelah diproklamirkannya kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 merasa tidak rela dengan kedatangan pasukan Inggris dan Belanda tersebut. Belanda dan Sekutu pun tidak rela jika kekuasaan jatuh ke bangsa Indonesia karena mereka lah yang telah mengalahkan Jepang sehingga berhak mendapatkan kekuasaan mereka kembali atas negeri ini.

Konflik antara rakyat Indonesia dengan tentara Sekutu dan Belanda pun tak terhindarkan. Sekutu dan Belanda melakukan tindakan politik dengan berlindung pada organisasi sosial akhirnya berujung pada Insiden di Hotel Yamato, Tunjungan, Surabaya.

Gencatan senjata pun diadakan antara pihak Indonesia dan pihak tentara Inggris pada tanggal 29 Oktober 1945, keadaan berangsur-angsur mereda. Tetapi walau begitu tetap saja terjadi keributan antara rakyat dan tentara Inggris di Surabaya.

Bentrokan-bentrokan bersenjata dengan tentara Inggris di Surabaya, memuncak dengan terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, (pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur), pada 30 Oktober 1945. Mobil Buick yang sedang ditumpangi Brigjen Mallaby dicegat oleh sekelompok milisi Indonesia ketika akan melewati Jembatan Merah. Karena terjadi salah paham, maka terjadilah tembak menembak yang akhirnya membuat mobil jenderal Inggris itu meledak terkena tembakan. Mobil itu pun hangus.

Setelah terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, penggantinya (Mayor Jenderal Mansergh) mengeluarkan ultimatum yang merupakan penghinaan bagi para pejuang dan rakyat umumnya.

Dalam ultimatum itu disebutkan bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas. Batas ultimatum adalah jam 6.00 pagi tanggal 10 November 1945.

Ultimatum tersebut ditolak oleh Indonesia. Sebab, Republik Indonesia waktu itu sudah berdiri (walaupun baru saja diproklamasikan), dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) sebagai alat negara juga telah dibentuk.
Selain itu, banyak sekali organisasi perjuangan yang telah dibentuk masyarakat, termasuk di kalangan pemuda, mahasiswa dan pelajar. Badan-badan perjuangan itu telah muncul sebagai manifestasi tekad bersama untuk membela republik yang masih muda, untuk melucuti pasukanJepang, dan untuk menentang masuknya kembali kolonialisme Belanda (yang memboncengi kehadiran tentara Inggris di Indonesia).

Pada 10 November pagi, tentara Inggris mulai melancarkan serangan besar-besaran dan dahsyat sekali, dengan mengerahkan sekitar 30.000 serdadu (26.000 didatangkan dari Divisi ke-5 dengan dilengkapi 24 tank Sherman), 50 pesawat tempur, dan sejumlah besar kapal perang.

Berbagai bagian kota Surabaya dihujani bom, ditembaki secara membabi-buta dengan meriam dari laut dan darat. Ribuan penduduk menjadi korban, banyak yang meninggal dan lebih banyak lagi yang luka-luka. Tetapi, perlawanan pejuang-pejuang juga berkobar di seluruh kota, dengan bantuan yang aktif dari penduduk.

Pihak Inggris menduga bahwa perlawanan rakyat Indonesia di Surabaya bisa ditaklukkan dalam tempo 3 hari saja, dengan mengerahkan persenjataan modern yang lengkap, termasuk pesawat terbang, kapal perang, tank, dan kendaraan lapis baja yang cukup banyak.

Namun di luar dugaan, ternyata para tokoh-tokoh masyarakat yang terdiri dari kalangan ulama’ serta kyai-kyai pondok Jawa seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah serta kyai-kyai pesantren lainnya mengerahkan santri-santri mereka dan masyarakat umum (pada waktu itu masyarakat tidak begitu patuh kepada pemerintahan tetapi mereka lebih patuh dan taat kepada para kyai) juga ada pelopor muda seperti Bung Tomo dan lainnya. Sehingga perlawanan itu bisa bertahan lama, berlangsung dari hari ke hari, dan dari minggu ke minggu lainnya. Perlawanan rakyat yang pada awalnya dilakukan secara spontan dan tidak terkoordinasi, makin hari makin teratur.

Pertempuran besar-besaran ini memakan waktu sampai sebulan, sebelum seluruh kota jatuh di tangan pihak Inggris.

Naskah Pidato Bung Tomo
Bismillahirrohmanirrohim.. MERDEKA!!!

Saudara-saudara rakyat jelata di seluruh Indonesia terutama saudara-saudara penduduk kota Surabaya kita semuanya telah mengetahui bahwa hari ini tentara inggris telah menyebarkan pamflet-pamflet yang memberikan suatu ancaman kepada kita semua kita diwajibkan untuk dalam waktu yang mereka tentukan menyerahkan senjata-senjata yang telah kita rebut dari tangannya tentara jepang mereka telah minta supaya kita datang pada mereka itu dengan mengangkat tangan mereka telah minta supaya kita semua datang pada mereka itu dengan membawa bendera puitih

tanda bahwa kita menyerah kepada mereka

Saudara-saudara di dalam pertempuran-pertempuran yang lampau kita sekalian telah menunjukkan bahwa rakyat Indonesia di Surabaya pemuda-pemuda yang berasal dari Maluku pemuda-pemuda yang berawal dari Sulawesi pemuda-pemuda yang berasal dari Pulau Bali pemuda-pemuda yang berasal dari Kalimantan pemuda-pemuda dari seluruh Sumatera pemuda Aceh, pemuda Tapanuli, dan seluruh pemuda Indonesia yang ada di surabaya ini di dalam pasukan-pasukan mereka masing-masing dengan pasukan-pasukan rakyat yang dibentuk di kampung-kampung telah menunjukkan satu pertahanan yang tidak bisa dijebol telah menunjukkan satu kekuatan sehingga mereka itu terjepit di mana-mana

hanya karena taktik yang licik daripada mereka itu saudara-saudara dengan mendatangkan presiden dan pemimpin2 lainnya ke Surabaya ini maka kita ini tunduk utuk memberhentikan pentempuran tetapi pada masa itu mereka telah memperkuat diri dan setelah kuat sekarang inilah keadaannya

Saudara-saudara kita semuanya kita bangsa indonesia yang ada di Surabaya ini akan menerima tantangan tentara inggris itu dan kalau pimpinan tentara inggris yang ada di Surabaya ingin mendengarkan jawaban rakyat Indoneisa ingin mendengarkan jawaban seluruh pemuda Indoneisa yang ada di Surabaya ini dengarkanlah ini tentara inggris ini jawaban kita ini jawaban rakyat Surabaya ini jawaban pemuda Indoneisa kepada kau sekalian

hai tentara inggris kau menghendaki bahwa kita ini akan membawa bendera putih untuk takluk kepadamu kau menyuruh kita mengangkat tangan datang kepadamu kau menyuruh kita membawa senjata2 yang telah kita rampas dari tentara jepang untuk diserahkan kepadamu tuntutan itu walaupun kita tahu bahwa kau sekali lagi akan mengancam kita untuk menggempur kita dengan kekuatan yang ada tetapi inilah jawaban kita: selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membikin secarik kain putih merah dan putih maka selama itu tidak akan kita akan mau menyerah kepada siapapun juga

Saudara-saudara rakyat Surabaya, siaplah! keadaan genting! tetapi saya peringatkan sekali lagi jangan mulai menembak baru kalau kita ditembak maka kita akan ganti menyerang mereka itu kita tunjukkan bahwa kita ini adalah benar-benar orang yang ingin merdeka

Dan untuk kita saudara-saudara lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka semboyan kita tetap: merdeka atau mati!

Dan kita yakin saudara-saudara pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita sebab Allah selalu berada di pihak yang benar percayalah saudara-saudara Tuhan akan melindungi kita sekalian

Allahu Akbar!
Allahu Akbar!
Allahu Akbar!
MERDEKA!!!

Peristiwa berdarah di Surabaya ketika itu juga telah menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia. Perlawanan lain seperti di Jakarta, Bogor, Bandung sampai dengan aksi membakar kota 24 Maret 1946 dan Mohammad Toha meledakkan gudang amunisi Belanda, Palagan Ambarawa, Medan, Brastagi, Bangka dll. Perlawanan ini terus berlanjut baik dengan senjata maupun dengan negosiasi para pimpinan negeri seperti perjanjian Linggajati di Kuningan, perjanjian di atas kapal Renville, perjanjian Roem-Royen sampai akhirnya Belanda mengakui kedaulatan Indonesia pada Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda pada tahun 1949.

Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat yang menjadi korban ketika itu hingga akhirnya momen 10 November dijadikan sebagai Hari Pahlawan.

Apa makna kata “pahlawan” ? menurut KBBI online, pahlawan = kb. orang yang pemberani dalam mengorbankan jiwa dan raga untuk membela kebenaran; pejuang yang gagah berani.

Peringatan hari pahlawan diadakan setiap tahun di Indonesia dengan berbagai kegiatan, namun apakah hal itu membuat bangsa ini lebih baik? atau meningkatkan nilai kepahlawanan di masyarakat? Mampukah melahirkan para pahlawan di zaman sekarang ini?

Kita tentu prihatin atas apa yang melanda kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia ini. Negeri dengan banyak suku bangsa, budaya, yang terpisah oleh bentuk kepulauan. Berbagai pemikiran, idiologi, pendapat, intrik, doktrin, propaganda, konspirasi meramaikan situasi. Kemerdekaan dari penjajahan bangsa lain yang tercapai dengan banyak sekali pengorbanan dan energi, bagaimana bangsa ini kini mengisinya?

Siapa yang telah melihat, bahwa bangsa ini telah mengisinya berbagai sisi, namun sisi negatif masih nampak jelas. Kemerdekaan oleh bangsa ini telah dinikmati untuk memuaskan hawa nafsu, pesta pora, bersenang-senang dan hura-hura. Juga memenuhi ambisi, berebut kekuasaan, berlomba menumpuk harta, kebebasan berekspresi tak peduli rusaknya moral dan dampak negatif sosial, demonstrasi melampiaskan amarah dan anarkis, kekerasan, kekacauan, kerusuhan dan teror, korupsi, kolusi dan manipulasi. Belum lagi kerusakan yang lebih parah yaitu kerusakan dan kejahatan yang mengatasnamakan agama, merubah dan menyelewengkan ajaran agama, dikira sebagai kebaikan namun sebenarnya kejahatan yang sangat besar bahaya kerusakannya. Terasa kering kehidupan bangsa ini, bencanapun tak jarang mengguncang negeri ini namun manusia tak juga menyadari.

Mana rasa syukur kita? dikatakan bahwa kemerdekaan ini adalah rahmat dari Allah Yang Maha Esa. Lalu bagaimana sikap bangsa ini kepada-Nya? Lupa, melupakan atau tak mau ingat? Sibuk terbuai dengan dunia seakan kan hidup selamanya dan banyak juga yang putus asa menghadapi kehidupan. Sedikit sekali mengingat-Nya, mempelajari dan mengamalkan petunjuk-Nya. Semangat sekali mempelajari dunia namun tak juga jaya dunia negeri ini.

Harapan kembali pada kita untuk instrospeksi, mengenali jati diri, bukan hanya sebagai bangsa namun sebagai manusia yang sedang menempuh perjalanan kembali pada Allah Tuhan Yang Maha Tinggi. Kembali pada petnjuk-Nya yang penuh kebaikan, cahaya kehidupan, cahaya langit dan bumi.

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (lihat.QS.7.Al-A’raaf:96)

Semoga Allah -ta’ala- mengampuni kita, merahmati kita dan memberi kita hidayah-Nya.

Sumber : http://danangwirawan.wordpress.com/2009/11/11/hari-pahlawan-sejarahnya-pidato-bung-tomo-dan-zaman-ini/


Wallahu a’lam bish-shawabi... (hanya Allah yang Mahatahu Kebenarannya)
Catatan ini kami tujukan untuk kami pada khususnya
dan untuk semua pembaca pada umumnya...
Jika terjadi kesalahan dan kekurangan disana-sini dalam catatan ini...
Itu hanyalah dari kami...
dan kepada Allah SWT., kami mohon ampunan...

Semoga Allah SWT. memberi kekuatan untuk kita amalkan... Amin
Wassalam...

Semoga Bermanfaat...
Silahkan COPY atau SHARE ke rekan anda jika menurut Anda note ini bermanfaat...

Lampirkan sumbernya ya... Syukron

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar