Minggu, 27 Februari 2011

MOTHER'S DAY


Tanggal 22 Desember… Hari Ibu,
terkenang kita akan Ibu kita. Kelembutannya..kebaikannya..peluhnya..capenya beliau mengurus kita, mendidik dan mendo’akn kita..

Islam, tanpa mengenal hari tertentu, mewajibkan setiap anak selalu mengistimewakan seorang Ibu. Mungkin kita tidak pernah menyadari, begitu banyak yang telah dilakukan oleh Ibu. Ibu mengandung kita selama 9 bulan, jihad berjuang melawan rasa sakit ketika melahirkan, mengesampingkan waktu istirahatnya untuk menyusui, juga merawat ketika kita sehat apalagi saat sakit, dan banyak lagi hal lainnya yang mustahil dapat kita hitung dan kita balas seluruh pengorbanannya. Ibu selalu berjuang untuk anak dan keluarganya. Alangkah mulianya seorang Ibu. Bahkan Rasulullãh pernah bersabda,
”seandainya kita diberi kemampuan membayar setiap tetes ASI, tidak akan ada seorang pun yang dapat melunasi jasa Ibu seumur hidup kita”.

Untuk itu, Islam begitu mengistimewakan seorang Ibu, seperti yang banyak kita temui di dalam al-Quran, hadis, dan kisah-kisah teladan.

Allãh berfirman,
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu-bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil’,” (QS al-Isrã’ [17]: 23-24). Amin.

Sabda Rasul,
"Syurga ada di bawah telapak kaki Ibu."

Seorang lelaki datang kepada Nabi seraya berkata, “Wahai Nabi Allãh! Saya muda dan kuat, siap bertindak dan berbakti, dan ingin sekali pergi ke medan jihad untuk kemajuan Islam! Tetapi Ibu saya tidak membiarkan saya meninggalkannya untuk pergi berperang.” Nabi yang mulia bersabda,
“Pergilah, tinggallah bersama Ibumu. Saya bersumpah kepada Tuhan yang memilih saya sebagai Nabi, bahwa pahala yang engkau dapatkan untuk melayaninya meskipun hanya semalam, dan membahagiakannya dengan kehadiranmu, jauh lebih besar daripada pahala perang jihad selama satu tahun.”
Bayangkan ..berbakti terhadap ibu disamakan dengan berjihad di medan perang…
Subhanallah…

Seorang lelaki datang kepada Nabi seraya berkata, “Wahai Nabi Allãh! Tunjuki saya, kepada siapa saya mesti berbuat baik untuk mendapatkan manfaat yang sempurna atas amal kebajikan saya?” Beliau bersabda,
“Berbuat baiklah kepada Ibumu.” Lelaki itu bertanya dua kali lagi, Beliau menjawab dua kali, ”Ibumu.” Lelaki itu bertanya lagi untuk yang keempat kalinya, ”Dan sesudah Beliau?” Nabi menjawab, “Kepada Ayahmu.”
Ibu dan Ayah adalah 2 orang manunsia yang paling berjasa dalam kehidupan kita..sepantasnyalah kita berbakti pada mereka..

Dari sebuah kisah sufi, “Adalah hak Ibumu agar engkau mengingatnya bahwa beliau telah mengandungmu dalam rahimnya selama beberapa bulan. Memeliharamu dengan sari hidupnya. Mengerahkan semua yang ada padanya untuk memelihara dan melindungimu. Dia tidak memedulikan rasa laparnya, sedangkan engkau diberinya makan sepuas-puasnya. Dia mengalami rasa haus sementara dahagamu dipuaskan. Dia mungkin tak berpakaian layak, tapi engkau diberinya baju yang baik-baik. Dia mungkin berdiri di panas terik matahari, sementara engkau berteduh dalam bayangannya. Dia meninggalkan tidurnya yang enak demi tidurmu yang pulas. Dia melindungimu dari panas dan dingin. Dia menanggung semua kesusahan itu demi engkau! Maka engkau layak untuk mengetahui, bahwa engkau tak akan mampu bersyukur kepada Ibumu secara pantas, kecuali Allãh menolongmu dan memberikan keridaan untuk membalas akal-budinya.”

Dari kisah seorang alim-ulama. Seseorang berkata kepada orang yang Ibunya meninggal, “Tidak pantas engkau yang berkedudukan alim bersikap resah dan mengucurkan air mata, hanya karena kematian seorang perempuan tua.” Ulama besar itu mengangkat kepalanya dan menjawab, “Sepertinya engkau belum menyadari kedudukan mulia seorang Ibu. Saya berhutang budi atas kedudukan saya kepada pendidikan yang diberikan Ibu kepada saya, serta kerja kerasnya. Ibulah yang meletakkan dasar kemajuan saya, mengantarkan saya kepada kedudukan akhlak sebagai ulama seperti sekarang ini.”

Seorang pemuda sakit parah. Nabi pergi menjenguknya. Pemuda itu tampak kepayahan. Nabi berkata kepadanya, “Akuilah keesaan Allah dan ucapkan kalimat syahadat: La ilaha illallah!”  Tapi, pemuda itu tidak dapat mengucapkannya. Kemudian Nabi bertanya kepada seorang perempuan yang hadir, “Apakah dia mempunyai Ibu?” Perempuan itu menjawab, “Ya. Saya adalah Ibunya.” Nabi bertanya lagi, “Apakah engkau tidak rela kepadanya?” Perempuan itu mengiyakan, “Ya. Saya tidak rukun dengan dia selama enam tahun!” Nabi meminta perempuan itu memaafkan kesalahan putranya. Perempuan itu berujar, “Wahai Nabi Allah! Saya akan melakukannya demi engkau.” Kemudian Nabi menoleh kepada pemuda itu sambil berkata, “Sekarang ucapkanlah La ilaha illallah!”  Pemuda itu dengan lancar dapat mengucapkannya.

Sumber : http://umayanah.wordpress.com/2009/12/21/mothers-day-dalam-islam/


IBU DALAM PANDANGAN ISLAM

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...
segala puji bagi Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, yang telah mengangkat kita dari setitik air yang hina menjadi mahluk yang sempurna, shalawat berserta salam tak lupa kami curahkan untuk nabi Muhammad shalallahualaihi wassalam yang atas perjuangannya membawa kita kepada agama yang hak

Ibu... betapa indah dan sucinya kata ini. Kata yang membawa wanginya keramahan dan cinta kasih ke dalam jiwa, dan membuat kita merasakan kehangatan dan kemurniannya.

Dunia barat sekarang baru menemukan nilai mulia Ibu, sedangkan umat Islam telah berabad-abad mempercayai kedudukannya yang mulia berdasarkan ajaran Ilahi melalui Islam. Islam percaya pada nilai ibu yang luar biasa, dan telah menarik perhatian manusia melalui berbagai ungkapan dan pernyataan. Bahkan Islam menganggap bahwa mencapai tahap akhir kesempurnaan, yakni Surga, tergantung pada keridhoan sang Ibu. Rasulullah bersabda : "Syurga terletak di bawah telapak kaki Ibu..."

Dalam memuliakan kedudukan Ibu, Islam tidak membatasi diri pada nasihat, perintah dan anjuran lisan. Tetapi Islam juga memandang perintah dan larangan Ibu sebagai suatu kewajiban untuk dilaksanakan dalam hal-hal tertentu. Misalnya apabila seorang anak ingin berpuasa sunnah, atau melakukan suatu perjalanan yang disunnahkan, tetapi sang Ibu melarangnya, maka wajiblah untuk si Anak menaati Ibunya. Apabila anak itu melawan kehendak ibunya, maka bukan saja ia tidak memperoleh pahala karena amalnya itu, melainkan ia justru memperoleh dosa dikarenakan penolakannya untuk menaati ibunya.

Hal lain dimana perintah ibu dihormati sebanding dengan Allah ialah apabila perintah Allah berlawanan dengan larangan Ibu, dengan syarat bahwa perbuatan itu tidak termasuk dalam perintah yang wajib seperti shalat fardhu atau puasa di bulan Ramadhan. Misalnya dalam masalah Jihad, orang yang mampu berperang harus ikut serta dalam pertempuran. Tetapi apabila seorang muda memenuhi semua persyaratan untuk pergi berjihad, kecuali bahwa ibunya tidak mengizinkannya pergi (dengan syarat bahwa keabsenannya tidak membahayakan umat Islam), maka ia boleh untuk tidak ikut peperangan semata-mata karena larangan ibunya.

Kisah seorang anak yang ingin sekali pergi ke medan Jihad untuk kemajuan Islam. Tetapi ibunya tidak mengizinkan meninggalkannya untuk pergi berperang. Nabi yang Mulia bersabda :
"Pergilah untuk tinggal bersama ibumu. Saya bersumpah kepada Tuhan yang memilih saya sebagai Nabi, bahwa pahala yang engkau dapatkan untuk melayaninya meskipun hanya semalam, dan membahagiakannya dengan kehadiranmu, jauh lebih besar dari pahala perang jihad selama satu tahun"

Islam memandang penghormatan kepada orang tua dan pelaksanaan hak-hak mereka sebagai kewajiban manusia terbesar setelah perintah Ilahi. Al-Qur'an mengatakan dalam hubungan ini,
"...bersyukurlah kamu kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu..." (Qs. Luqman : 14).

Perlu diperhatikan bahwa disini Allah Ta'ala segera setelah menyebut Hak-Nya sendiri, menyebutkan hak kedua orang tua.

Seorang lelaki datang kepada Nabi seraya berkata, "Wahai Nabi Allah... Tunjuki saya, kepada siapa saya harus berbuat baik untuk mendapatkan manfaat yang sempurna atas amal kebajikan saya?" Beliau bersabda, "Berbuat baiklah kepada Ibumu...". Lelaki itu bertanya dua kali lagi, "Dan sesudah beliau?" Nabi menjawab, "Kepada Ibumu...". Lelaki itu bertanya, "Kepada orang lain siapakah saya mesti berbuat baik pula?" Nabi bersabda, "Kepada Ayahmu..."

Allah memberikan kecerdasan pada setiap perempuan. Karena itu pada perempuanlah anak dititipkan. Sebuah ibroh yang perlu kita teladani dari seorang perempuan yang telah menjadi sosok Ibu yaitu Siti Hajar. Beliau mengajarkan sebuah makna kecerdasan tak lagi berbatas pada kecerdasan akal. Kecerdasan ini pula yang kemudian diwarisi oleh sahabiyah-sahabiyah si masa Rasulullah, antara lain Aisyah, Fathimah, Asma binti Abu Bakar, Hafsah binti Umar bin Khaththab, dan sederet nama besar lainnya. yang telah melahirkan generasi Mujahid sekelas Hasan dan Husain, serta Abdullah bin Zubair bin Awwam.

Kecerdasan itu niscaya tak pernah hilang, selama keikhlasan senantiasa bersemayam di hati seorang wanita. Mereka adalah perempuan-perempuan yang sama dengan kita. Mereka adalah perempuan-perempuan yang diciptakan sama dengan apa yang kita miliki. Dengan demikian, kecerdasan yang mereka milikipun tak mustahil kita miliki.

Kecerdasan yang sebenarnya adalah yang berasal dari sebuah hati yang sepenuhnya tunduk dihadapan kehendak-Nya. Kecerdasan itu hadir dari sebuah keikhlasan dan prasangka baik pada setiap takdir yang dibentangkan oleh Yang Maha Perkasa dalam kehidupan.

Sungguh, ketundukkan hatilah yang telah menghantarkan Hajar, seorang ibu yang sebelumnya hanyalah seorang budak, mampu mendidik anaknya (Nabi Ismail) hingga beranjak remaja, saat kembali bertemu dengan suaminya (Nabi Ibrahim). Tanpa keluh, tanpa hasrat untuk meninggalkan anggapan buruk tentang Ayah dalam benak anaknya. Hanya kepasrahan yang ditularkannya pada sang anak, tentang keyakinan bahwa perintah Tuhan nya tak akan membuat seorang hamba menderita.

Akhirnya dengan segenap kekuatan dan potensi, kita kaum perempuan untuk belajar melakukan yang terbaik. Jangan ada pandangan perempuan itu makhluk yang lemah. Sesungguhnya semua perempuan suatu saat akan menjadi seorang ibu yang diamanahi seorang anak sebagai tanggung jawab utama. Di pundak kita tertumpu kewajiban untuk menjadikannya Mujahid dan Mujahidah sejati. Semoga Allah subhanahuwataala selalu menuntun kita dalam meniti kehidupan yang semakin berat tantangannya. Dan kita akan selalu menghormati, menyayangi orang tua kita. Selalu mendoakan orang tua kita agar diampuni semua kekhilafannya. Amiin Ya Allah...

yang benarnya datangnya hanya dari Allah yang Maha Mengetahui dan yang salah datangnya dari saya, gudangnya salah dan dosa…

Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh...

Sumber : http://darmaccti.blogspot.com/2009/12/ibu-dalam-pandangan-islam.html


Wallahu a’lam bish-shawabi... (hanya Allah yang Mahatahu Kebenarannya)
Catatan ini kami tujukan untuk kami pada khususnya
dan untuk semua pembaca pada umumnya...
Jika terjadi kesalahan dan kekurangan disana-sini dalam catatan ini...
Itu hanyalah dari kami...
dan kepada Allah SWT., kami mohon ampunan...

Semoga Allah SWT. memberi kekuatan untuk kita amalkan... Amin
Wassalam...

Semoga Bermanfaat...
Silahkan COPY atau SHARE ke rekan anda jika menurut Anda note ini bermanfaat...

Lampirkan sumbernya ya... Syukron

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar