Minggu, 27 Februari 2011

Ini Tentang Cinta Dan Ini Tentang Seni dalam Mengambil Keputusannya

Ini Tentang Cinta Dan Ini Tentang Seni dalam Mengambil Keputusannya

“Dijadikan Indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah lading. Itulah kesenangan dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik” [ Ali Imran : 14]

Cinta adalah garis tipis antara nafsu dan ketulusan. Hanya karena kekaguman semu terhadap penampilan fisik dan cover luar, banyak orang telah tertipu dalam memutuskan sebuah pilihan cintanya.

Padahal sebuah keputusan adalah momentum vital yang tak boleh kita remehkan. Karena keputusan cinta yang salah, akhirnya jangan aneh kalau perjalanan cinta anda isinya cuma pertengkaran, saling mencurigai, acuh tak acuh dengan kekasihnya sendiri, kebosanan, mulai melirik ke yang lain, tidak puas dengan semua yang ada pada kekasihnya terutama ketika sudah mulai melihat kekurangan demi kekurangan yang ada pada kekasihnya yang akhirnya berujung pada penyesalan panjang atau hancurnya sebuah perjalanan cinta. Padahal waktu dulu ketika pertama kali melihat sang pujaan, hati kita berdebar, setiap waktu kita penuh rindu, gundah dan lusinan kegelisahan, ditambah hidup yang penuh kekhawatiran atas keadaan kekasih kita.

Mengapa sekarang semuanya berubah? Mengapa bisa demikian? Jawabannya sederhana, bukan hanya kita tertipu oleh penampilan luar tapi kebanyakan kita juga terlalu cepat terbuai dalam mengambil keputusan. Umar Bin Khatab ra pernah menyarankan kepada kita bahwa untuk mengetahui kepribadian asli seseorang ada 3 hal yang harus dilakukan. Pertama adalah melakukan perjalanan jauh bersama orang tersebut, kedua adalah melakukan transaksi bisnis dan yang ketiga adalah bertetangga dengannya. Inti dari pesan khalifah Umar ini adalah kita tidak boleh tergesa-gesa dalam memberikan penilaian buruk dan baiknya seseorang. Apalagi dalam urusan orang yang akan kita jadikan belahan jiwa kita. Salah salah bisa menyesal deh kita akhirnya.

Jika kita sudah terpesona kepada keindahan fisik secara berlebihan. Kesalahan pertama ini akan diikuti dengan sikap gegabah selanjutnya. Sikap gegabah itu adalah sikap tergesa-gesa dalam mengagumi seseorang hanya karena keindahan fisiknya yang menurut kita cantik atau tampan, atau karena kita baru saja melihat sebuah kebaikan sesaat, secara kasat mata dalam dirinya. Memang berprasangka baik terhadap seseorang itu adalah hal yang disunnahkah, tapi bersikap waspada dan memberikan sedikit waktu kepada diri kita untuk mempertimbangkan secara matang sebuah keputusan cinta juga adalah sifat kehati-hatian yang sangat dianjurkan oleh Islam.

Agar cinta dapat bermuara pada kapal yang tepat dengan pemimpin dan pendamping yang tepat membutuhkan sebuah proses yang tidak cepat. Begitulah keputusan cinta harus dipersiapkan dengan matang dan seksama hingga ketika ia mengarungi samudera kehidupan ia selalu siap dengan managemen dan strategi yang baik dalam menghadapi semua dinamika keluarga dan kehidupan. Dalam prosesnya cinta adalah menggabungkan dua buah karakter manusia yang berbeda untuk menjadi kekuatan yang mampu mewarnai kehidupan yang isinya beragam. Disana ada keindahan kehidupan, namun disana ada juga badai yang selalu datang silih berganti dan tidak menentu. Oleh karena itu kesalahan dalam memilih sebuah kekasih hidup kita akan memberikan pengaruh besar dalam langkah ke depan cita-cita kehidupan kita.

Pertimbangan yang tepat adalah hal vital yang harus kita perhitungkan. Rasulullah SAW pernah mengingatkan kita tentang 4 hal yang harus diperhatikan dalam memilih seorang pasangan hidup. Pertama karena fisiknya, kedua karena keturunannya, ketiga karena kekayaannya dan keempat adalah sebaik-baiknya sebuah pilihan adalah karena agamanya.

Keputusan cinta itu seperti seni. Ia berbicara dengan kejernihan imajinasi akan cita-cita kehidupan yang tinggi. Jika kita mau seni itu memiliki nilai jual maka kita juga harus tahu bagaimana cara mengolah bahan baku perasaan kita agar bisa menjadi seni terindah yang memiliki nilai jual yang sangat mulia yang kita sering menyebutnya cinta sejati. Nilai jual itu hanya bisa kita dapatkan dalam keseimbangan guratan perasaan dan resep perpaduan antara logika, hati dan hakikat ibadah kita sebagai hamba Allah. Banyak orang salah memilih sebenarnya bukan karena ia tidak bisa memilih dengan tepat, tapi kebanyakan karena ia tidak mampu menyeimbangkan resep kehidupan tersebut dengan porsi dan takaran yang tepat dan seimbang.


Antara Perasaan, Logika Dan Hati Yang Bersih
“Dan kebanyakan mereka hanya mengikuti dugaan. Sesungguhnya dugaan itu tidak sedikitpun berguna untuk melawan kebenaran. Sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan” [Yunus : 36]

Perasaan adalah hal yang paling menjebak dalam sebuah gejolak cinta. Karena dari mata ia akan turun ke hati itulah bahasa populernya. Karena mitos tentang cinta itu buta tidak mesti ada jika kita mampu mengelola perasaan kita untuk tidak terlalu membuncah sebelum saatnya. Perasaanlah yang melahirkan rindu, resah, gundah, gelisah, egoisme dan sejuta hasrat yang mematikan nurani. Terlalu banyak mempercayakan keputusan cinta kita pada perasaan hanya akan membuat kita menjadi orang yang lemah. Berapa banyak kasus patah hati, putus asa, hilang semangat hidup, dendam hingga bunuh diri disebabkan cinta yang tak kesampaian. Semua itu bisa terjadi karena eksistensi perasaan terlalu mendominasi di dalam diri kita. Inilah mengapa banyak orang mengatakan cinta itu buta, yap! benar! Cinta itu buta karena kita telah membutakan hati nurani kita dengan perasaan yang terlanjur kita penjarakan diatas hawa nafsu kita sendiri.

Logika adalah sisi lain yang menemani langkah fitrah perasaan, ibarat kita sedang naik sebuah kendaraan. Perasaan adalah gas penambah kecepatan kendaraan kita maka logika akan bekerja sebagai remnya. Dengan adanya logika kita jadi bisa berpikir panjang tentang semua efek dan kemungkinan yang baik ataupun yang buruk tentang pilihan hidup kita. Dari logika lahir pertimbangan, analisa, perencanaan hingga kehati-hatian.

Setelah perasaan dan logika maka kita perlu mesin penggerak jiwa yang lain. Dialah hati kita. Perasaan lahir karena sentuhan hati begitu juga logika yang berprasangka baik lahir karena hati yang jauh dari penyakit. Pastikanlah sebelum kita membuka perasaan kita, sebelum kita mengejewantah dalam setiap pertimbangan cinta kita, pastikan bahwa hati kita dalam posisi yang bersih dan netral. Tidak berpihak pada pengharapan untuk memiliki, tidak juga skeptis dan merasa tidak layak untuk memiliki. Perasaan dan logika ibarat dua sisi timbangan, maka hati adalah tiang penyeimbangnya. Jika ia sedikit bergeser ke kanan, maka sisi kiri akan terasa lebih berat begitu juga sebaliknya.
“Sesungguhnya janji Allah itu benar.” [Al Mu’min : 77]


Keutamaan hati
Suatu ketika Lukman Al Hakim yang sedang menyembelih seekor kambing di datangi anaknya dan bertanya mana bagian manusia yang paling baik. Lukman Al Hakim mengambil bagian hati dari kambing tersebut dan menunjukkannya kepada anaknya. Begitu juga ketika anaknya menanyakan bagian terburuk dari manusia, Lukman Al Hakim tetap menunjukkan hati dari kambing tersebut. Begitu vital kontribusi hati dalam mempengaruhi seseorang adalah suatu hal yang tidak bisa kita bohongi.

Baik atau buruknya sebuah perasaan dan logika semua kembali kepada kualitas hati kita. Jika hati kita kotor dan penuh maksiat maka itupun akan mempengaruhi bentuk apresiasi perasaan dan pikiran kita. Pertanyaannya adalah bagaimana cara memiliki hati yang bersih dan kuat dari cobaan yang mampu mengotori kemurniannya?

Ibarat tubuh yang membutuhkan energi dari makanan seperti nasi, sayur mayur dan lauk pauk lainnya. Maka begitupun hati membutuhkan input energi. Hati juga membutuhkan makanan agar ia tidak sakit apalagi mati. Kualitas hati manusia itu terbagi menjadi tiga jenis, pertama adalah hati yang mati, kedua adalah hati yang sakit dan ketiga adalah hati yang sehat.

Kata Rasulullah SAW hati itu seperti besi, jika ia tidak dirawat ia akan berkarat lalu kropos dan mudah hancur dan patah, lalu mati tak berguna. Hati yang mati adalah hati yang sudah tidak bisa lagi menerima nasehat kebaikan. Ia sudah disesatkan oleh dominasi nafsunya yang terdorong oleh nilai-nilai yang jauh dari semua nasehat kebaikan. Pintu pencerahannya sudah ditutup dari semua bentuk hidayah Allah. Ia sudah tersesat karena kebodohannya sendiri.

Hati kita menjadi mati karena kita begitu sering mendustakan kebenaran Allah Swt. Kemaksiatan yang lahir dari sikap menyepelekan tuntunan hidup Allah Swt telah membuat hati menjadi sakit lalu mati karena tertutup oleh tumpukan noda hitam yang lahir karena maksiat demi maksiat yang kita lakukan. Mencintai sesuatu atau seseorang lebih daripada Allah Swt merupakan salah satu maksiat yang membutakan hati kita dari cahaya hidayah Allah. Apalagi kalau maksiat itu telah berubah menjadi sebuah rutinitas dan kebutuhan yang akhirnya telah membiasakan kita menjadikan itu bagian dari keseharian hidup kita, hingga tak ada lagi rasa bersalah dan takut kepada Allah Swt, maka percayalah kalian tidak akan pernah menemukan jejak cinta sejati dengan keputusan yang berasal dari hati yang mati seperti ini.


Ikhtiar dari sebuah misteri keputusan cinta
“tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyenangi sesuatu padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” [Al Baqoroh : 216]

Maka begitu juga ketika kita ingin mendapatkan kisah cinta terbaik dalam diri hidup ini, kita harus sadar tidak ada rasa cinta terbaik selain sentuhan cinta Allah kepada hidup kita. bahwa kita berikhtiar ingin mendapatkan yang terbaik bagi diri kita adalah hal yang sangat dibolehkan. Namun ketahuilah bahwa yang terbaik menurut kita belum tentu baik menurut Allah begitu juga sebaliknya. Beginilah akhirnya titik akhir perenungan dari usaha penyeimbangan perasaan, logika dan kebersihan hati akhirnya tetap berujung pada mulianya keridhoan Allah terhadap perjalanan cinta kita.

Menggapai keridhoan Allah, itulah akhir rahasia yang harus kita ketahui. Keridhoan Allah terhadap keputusan cinta kita akan menuai berkah. Berkah Allah tidak diukur dari materi semata, tapi juga kemampuan mengelola keluarga dalam proses pencocokan dua perbedaan manusia. Keberkahan adalah ikhtiar jiwa yang penuh keikhlasan baik di saat saat suka ataupun di saat duka. Keberkahan adalah energi bagi ruh dikala lemah, karena keberkahan adalah rasa syukur yang akan menghiburnya untuk tabah dan tegar diantara dinamika badai kehidupan. Keberkahan adalah persepsi dari pondasi ketakwaan. Karena dalam kondisi apapun hatinya akan lapang, dalam situasi segenting apapun jiwanya akan tetap tenang dan yakin akan pertolongan Allah. Keberkahan adalah kemampuan mengelola perbedaan menjadi kekuatan, dan menata kekurangan menjadi motivasi. Itulah makna berkah Allah yang paling hakiki, ia bukan materi atau hasrat duniawi yang membuta. Tapi dia adalah energi yang selalu membuat kita makin dekat dengan Allah dalam kondisi selonggar apapun atau bahkan sesulit apapun.

Inilah inti dari seni mengambil keputusan itu, inilah corong untuk melihat kesuksesan cinta itu. Beginilah semestinya cinta itu di tumbuhkan oleh kematangan analisa dan konsep hidup yang jelas. Ia tidak sekedar bicara tentang memilih, mengungkapkan dan meminang. Tapi cinta juga mempunyai hakikat yang paling mendasar harus dipahami oleh para pecinta yaitu memberi. Hakikat percintaan yang utama adalah memberi, bukan meminta apalagi menuntut. Memberi apa yang bisa kita berikan kepada orang yang kita cintai adalah ibadah. Dan itulah hakikinya sebuah pembuktian cinta yang di dalam bersemai ruang ibadah yang mulia. Karena itu orang orang yang ingin mendapatkan kenikmatan cinta terbaik iya harus tahu bagaimana seni memberikan cinta kepada orang yang saling mencintai bersama kita.


Vitalitas dan konsekuensi
“Mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan sholat.” [ Al Baqoroh : 45]

Memberikan cinta terbaik harus dengan vitalitas terbaik. Karena itu dia tidak sembarangan. Semua itu memerlukan analisa akurat. Karena pertemuan cinta adalah kebahagiaan tapi dia bisa jadi masalah yang menyesakkan hati karena kita sedang memaksakan sebuah momen bukan menunggu momen yang tepat. Akhirnya yang kita temukan hanyalah perasaan yang rapuh, hati galau, pikiran yang gundah, air mata yang menyakitkan dan hati yang patah. Karena resiko ketergesa-gesaan adalah terpeleset dan jatuh. karena itu hati-hatilah.

Selain itu juga, hari ini ada begitu banyak wanita terenggut harga dirinya, melakukan seks bebas entah dalam kondisi terpaksa atau suka sama suka. Akhirnya semua bermuara pada penyesalan, penyesalan melahirkan rasa bersalah, dari rasa bersalah ada dua kemungkinan lagi yang lahir. Yang satu ia akan kapok dan menjaga diri untuk bertaubat atau ia justru makin larut dalam kehidupan bebas yang menyedihkan itu. Tidak sedikit memilih mencari ketenangan dan perhatian dengan jatuh ke pelukan demi pelukan laki-laki yang tidak jelas tanggung jawabnya. Tidak sedikit wanita yang terlanjur menjalani kehidupan prostitusi dengan alasan terlanjur basah. Kenistaan peradaban yang awalnya hanya dimulai karena masalah keputusan.

Maka sebelum kau memutuskan kondisikan semua perasaan, logika dan kebersihan hatimu pada titik cinta tertinggi menembus khasanah sidratul muntaha. Arahkan semua mata hati untuk melihat dengan jeli, jika kau tak sanggup maka mintalah malam malam menemanimu dengan sejuknya sentuhan wudhu dan heningnya sayup sayup syair kehidupan ketika kau bercumbu dengan Penciptamu di sepertiga malam yang sunyi. Karena di sana ada petunjuk vitalitas yang akan menuntunmu dari sikap ketergesa-gesaan. Disana ada kekuatan yang menjaga jiwa kita dari lelahnya melawan egosentris kedagingan yang setiap orang memilikinya.

Pastikanlah bahwa kondisi perasaan, logika dan hati kita dalam posisi yang sabar dan tenang. Tenang dalam keadaan berbunga bunga yang tidak berlebihan dan tidak juga dalam keadaan pesimis yang menyedihkan. Pastikan bahwa kita siap dengan semua resiko, siap melihat malam berarti anda harus siap melihat siang, siap melihat bulan berarti anda juga siap melihat mentari. Karena itulah hidup berputar seperti roda, seperti permainan rollercoaster, kadang kita diatas kadang kita dibawah, kadang semua sesuai harapan kita, kadang tidak juga. Karena apa? Karena garis hidup kita sudah ada yang menulis. siap menerima berarti siap ditolak. Siap menikmati kelebihan berarti siap juga mensyukuri kekurangan. Siap berharap berarti siap untuk untuk tidak diharapkan. Siap untuk menikahi istri seperti Khadijah ra berarti kita harus siap menjadi seperti Nabi Muhammad SAW. Pertimbangkanlah dalam kondisi hati yang bersih, perasaan yang tenang, logika yang sehat dan niat yang lurus.

Jangan biarkan nafsu kita memimpin kita untuk memilih sebuah momen pemberian cinta. Karena yang ada di sana hanya penyesalan pada akhirnya atau hanya kebahagiaan sesaat. Namun jika kita berhasil memenangkan pertempuran jiwa ini dan memilih karena kemuliaan ibadah. Niscaya waktu akan memperlihatkan pada kita apa itu kecantikan yang tak pernah keriput dan menua bahkan takkan pernah mati mengiringi umur bumi.

Kejelian sikap kita adalah hal yang menentukan, namun ketergesa-gesaan hanya akan membawa kita pada keterpurukan dan kenikmatan yang singkat. Karena itu bersabarlah..jangan menangkan hawa nafsumu..libatkan Allah, biarkan Dia yang menentukan yang terbaik bagi kita. Itupun jika memang kita percaya kepada vitalitas cinta, karena itu hanya datang dari keridhoan Allah, karena hanya Dialah sebaik baik cinta itu bisa kita dapatkan.

Bagaimana bukti kedahsyatan?
Pada saat itu kau tak menemukan satupun penyesalan dalam jiwa ketika kau memberikan cintamu pada mahligai kepribadian yang telah di pilih Allah untuk memimpin atau menemani sejarah hidupmu yang selanjutnya. Bahkan ketika kau mengetahui satu persatu tabir kekurangannya yang terbuka di hadapanmu..semua itu menjadi suatu kesempurnaan dirinya di hadapanmu. Kau akan memandang itu sebagai sebuah ladang amal kehidupan, sebuah peta yang mencerahkanmu akan jalan menuju cinta yang abadi. Kenapa kau bisa sebijak itu? Karena kisah cintamu dipenuhi keridhoan dan menuai berkah kehidupan ilahi.

Selamat mengambil keputusan semoga kita tidak salah dalam memaknai momentum kehidupan itu. Percayalah kita mungkin paling tahu apa yang kita mau, tapi Allah lebih tahu apa yang kita butuhkan. Maka keputusannya tetap ditangan anda begitu pula dengan semua resikonya.

“Maka berpegang teguhlah engkau pada (Dien) yang telah di wahyukan padamu. Sungguh, engkau berada di jalan yang lurus.” [As Zukhruf : 43]

Oleh : Muhammad Thufail Al Ghifari


Sumber : http://smaemunah.multiply.com/journal?&page_start=60


Wallahu a’lam bish-shawabi... (hanya Allah yang Mahatahu Kebenarannya)
Catatan ini kami tujukan untuk kami pada khususnya
dan untuk semua pembaca pada umumnya...
Jika terjadi kesalahan dan kekurangan disana-sini dalam catatan ini...
Itu hanyalah dari kami...
dan kepada Allah SWT., kami mohon ampunan...

Semoga Allah SWT. memberi kekuatan untuk kita amalkan... Amin
Wassalam...

Semoga Bermanfaat...
Silahkan COPY atau SHARE ke rekan anda jika menurut Anda note ini bermanfaat...

Lampirkan sumbernya ya... Syukron

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar