Kamis, 24 Februari 2011

Bermanfaatlah...

Beberapa waktu lalu saat putra sulung saya menerima raport kenaikan kelas, ia dengan tersenyum malu menunjukkan nilai-nilainya yang lumayan baik. Saya dan istri ikut tersenyum, setelah memberikan pujian-pujian dan motivasi padanya. Anak sulung saya ini memang pantas mendapatkan pujian. Meski ia tidak masuk dalam 10 besar rangking dikelas tetap saja kami merasa nilai anak kami ini cukup baik, mengingat effortnya dalam belajar yang minim tetapi ternyata nilai yang ia dapatkan diatas ekspektasi kami.

Istri saya cerita kalau anak saya ini dikenal sebagai “ustadz” di kalangan teman dan gurunya, karena seringkali menjadi imam shalat bagi rekan-rekannya ketika waktu shalat tiba. Tersenyum saya bangga saya mendengar cerita itu. Dan tambah lebar senyum saya teringat kejadian beberapa waktu sebelumnya ketika kami sedang menuju ke rumah orang tua untuk silaturahim, anak saya ini bersenandung dangdut, lagu yang tengah populer waktu itu. Karuan saja saya dan umminya langsung bertanya, “abang hapal dari mana lagu itu?” Anak saya cuma tersenyum, dan menjawab sekenanya, “lupa ingat dimana.”

Kami mencoba mengingat-ingat dimana kiranya dia dengar lagu itu, dirumah kami tidak pernah putar lagu dewasa, nasyid saja jarang. Di mobil meski sesekali saya putar lagu, selalunya hanya nasyid atau iwan fals. Di rumah kawannya? Biasanya kalau main di rumah kawannya dia selalu main games. Di sekolah pasti tidak mungkin. Hmmm ternyata di mobil antar-jemput sekolahnya. Duh dia di atas mobil jemputan itu kan hanya sebentar, bagaimana mungkin bisa hafal satu lagu dengan baik? Belum pertanyaan penuh keheranan itu berhenti, istri saya sudah panik, dan langsung mengecek hafalan surat-surat pendek Qur’an yang sudah dihafal anak saya, satu persatu dicek, dan ternyata masih hafal, lega kami.

Setelah selesai saya dengan ingatan itu, saya kemudian memberikan pesan-pesan ringan pada anak saya, sambil dia menonton kartun kesukaannya. Saya pesankan; abang, abi ga masalah loh nilai-nilai di pelajaran sekolah biasa-biasa aja, yang penting abang bisa jaga akhlak abang. Yang paling penting buat ummi dan abi, abang jadi anak shaleh, patuh sama orang tua, sayang sama adik-adik, baik sama guru, baik sama teman-teman. Kalau ada teman yang susah abang bantu, berbagi rizki sama orang yang membutuhkan dan jangan lupa shalatnya, kalau bisa jamaah di masjid. Abi sama ummi lebih bahagia kalau abang bisa jaga dan bagus akhlaknya. Mendengar pesan-pesan saya itu, anak saya cuma mengangguk-angguk. Dalam hati saya berharap pesan itu sampai dan membekas dihatinya sampai kapanpun.

Betul, saya sedang belajar mengajarkan anak (dan mungkin juga untuk diri sendiri) tentang konsep kemanfaatan. Saya sangat terkesan sekali dengan pesan Nabi; sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia lain. Pesan ini menjadi konsep yang ingin sekali menjadi parameter disemua sisi kehidupan saya dan keluarga. Itu mengapa saya pesankan konsep itu pada anak saya, agar ia memiliki ukuran, pedoman dan arah dari setiap tindakannya. Fokus pada pencapaian kemanfaatan diri yang maksimal. Dan semua jalan menuju kesana harus diseriusi.

Saya sendiri terkadang keliru untuk fokus dalam hidup ini. Saya salah dalam berkonsentrasi. Seringkali saya hanya sebatas konsentrasi pada jalan-jalan menuju pribadi yang bermanfaat, dan merasa jalan itulah tujuannya, proses itulah akhirnya. Jalan atau proses apa itu? Proses mencari nafkah, mengumpulkan harta, menimba ilmu. Kekeliruan saya atau juga mungkin anda adalah merasa bahwa menjadi hartawan adalah tujuan dan sasaran hidup yang paling puncak, atau menjadi seorang penuh dengan gelar-gelar keilmuan yang membuat status intelektual ada pada posisi tertinggi sebagai sebuah pencapaian akhir dan lambang kesuksesan hidup, atau menjadi pejabat, penguasa membuat status sosial terangkat dan hal itu menjadi sasaran hidup yang tertinggi.

Nah, saya tidak ingin diri saya, anak saya dan keluarga saya memiliki konsep hidup seperti itu. Saya ingin mereka tahu bahwa tujuan hidup lebih dari setakat itu. Menjadi hartawan akan baik jika harta-hartanya membuat diri tidak menjadi hina dan harta itu juga bermanfaat bagi manusia lain yang terlunta-lunta karena kesusahan ekonomi, cendikia akan mulia jika ilmunya mampu menjaga diri dari kemaksiatan dan memberikan solusi bagi manusia disekitarnya yang bermasalah, sementara para pejabat dan penguasa akan sangat bermakna ketika ia tidak hanya asyik dengan kekuasaannya tetapi mampu menjadi alat untuk fastabiqul khairat serta meringankan urusan semua orang yang telah meletakkan amanah di pundak mereka. Apapun cita-cita kita, ingin seperti apa kita menjadi, ia akan sangat berarti ketika ia memberikan kemanfaatan bagi manusia lain. Dan tentu saja dengannya kita semakin dekat dengan Allah SWT.

Sekali lagi, konsep kemanfaatan inilah yang menjadi salah satu cermin untuk melihat apakah langkah dan tujuan kita memiliki arah yang benar. Tetapi saya juga tidak ingin sibuk dengan selalu memikirkan ini. Saya ingin semuanya mengalir saja, membantu orang dengan segala kemampuan menjadi kebiasaan yang tidak memerlukan pikiran dan pertimbangan yang terlalu panjang. Tapi inipun sedang saya perjuangkan, saya sedang latih, hati, akal, tangan, lisan dan semua yang melekat pada diri saya untuk sejalan dengan konsep yang saya yakini ini. Dan pada saat yang sama saya sedang bereksperimen untuk menjadikan ini semua pada diri anak saya.

Sumber :  http://abiaqsa.blogspot.com/2010/08/bermanfaatlah.html

Wallahu a'lam...
Semoga bermanfaat
Silahkan SHARE ke rekan anda jika menurut anda note ini bermanfaat...

Lampirkan sumbernya ya... Syukron

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar