Rabu, 23 Februari 2011

Hati-Hati Menuliskan Wallahu A’lam

PENULIS artikel keagamaan (Islam) atau media Islam lazimnya mengakhiri tulisan dengan kalimat Wallahu a’lam (artinya: “Dan Allah lebih tahu atau Yang Mahatahu/Maha Mengetahui). Sering ditambah dengan bish-shawabi, menjadi Wallahu a’lam bish-shawabi. (ash-shawâb = benar/sesuai. Jadi, wallahu a’lam bish shawab/shawabi artinya = "Hanya Allah yang Mahatahu kebenarannya/ kesesuaiannya").

Hal itu untuk menunjukkan, Allah Swt-lah yang mahatahu atau lebih tahu segala sesuatu dari kita. Hanya Allah yang Mahabenar dan Pemilik Kebenaran mutlak. Kebenaran yang kita tuliskan itu relatif, nisbi, karena kita manusia tempat salah dan lupa.

Namun coba perhatikan, banyak yang keliru dalam penulisannya, yaitu dalam penempatan koma di atas (‘).Catatan: sebutan “koma di atas” untuk tanda baca demikian sebenarnya tidak tepat, tapi disebut “tanda petik tunggal” juga tidak tepat karena petik tunggal itu begini ‘…’ dan bukan pula “apostrof” (tanda penyingkat untuk menjukkan penghilangan bagian kata) karena dalam kata itu tidak ada kata yang dihilangkan/disingkat. Kita sepakati aja deh ya, namanya “koma di atas”.

Penulisan yang benar, jika yang dimaksud “Dan Allah Mahatahu” adalah Wallahu a’lam (tanda koma di atas setelah huruf “a” atau sebelum huruf “l”). Tapi sangat sering kita jumpai penulisannya begini: Wallahu ‘alam (koma di atas sebelum huruf “a”).

Jelas, Wallahu a’lam dan Wallahu ‘alam berbeda makna.
Yang pertama, (Wallahu a’lam) artinya “Dan Allah Mahatahu/ Maha Mengetahui atau Lebih Tahu”. Yang kedua (Wallahu ‘alam) artinya “Dan Allah itu alam”, bahkan tidak jelas apa arti ‘alam di situ? Kalau ‘alamin atau ‘aalamin, jelas artinya alam, seperti dalam bacaan hamdalah –alhamdulillahi robbil ‘alamin.

Jadi, kalau yang kita maksud itu “Dan Allah Mahatahu”, maka penulisan yang benar adalah Wallahu a’lam, bukan Wallahu ‘alam.

Mari kita bedah. Eh, tunggu dulu… Saya bukan ahli bahasa Arab nih, cuma tahu dikit banget. Yang jago bahasa Arab, mohon koreksinya ya…

A’lam itu asal katanya ‘alima artinya tahu. Dari kata dasar ‘alima itu kemudian terbentuk kata ‘ilman (isim mashdar, artinya ilmu/pengetahuan), ‘alimun (fa’il/pelaku, yakni orang yang berilmu), ma’lumun (pemberitahuan, maklumat), dan sebagainya, termasuk a’lamu/a’lam (lebih tahu).

Tanda petik tunggal atau koma di atas (‘) dalam a’lam itu transliterasi bahasa Indonesia untuk huruf ‘ain dalam bahasa Arab (seperti Jum’ah, Ka’bah, Bid’ah, Ma’ruf, dan sebagainya). Kata a’lam artinya “lebih tahu”. Jadi, kian jelas ‘kan, penulisan yang benar: Wallahu a’lam, bukan Wallahu ‘alam.

Tentu, kesalahan penulisan itu tidak disengaja, salah kaprah aja alias kesalahan yang sering dilakukan, secara sadar atau tidak sadar, merasa benar –padahal salah—karena tidak ada yang mengoreksi. Saya yakin, maksudnya Wallahu a’lam, “Dan Allah Mahatahu”. Wasalam.  

Wallahu a’lam bish-shawabi...

Sumber : http://www.romeltea.com/tag/wallahu-a%E2%80%99lam/


Haruskah Hancur Dulu Jasad Ini, baru Menyesal…!!!

Hancur busuk dalam beberapa hari saja. Pernah dijelaskan, ada riwayat mengatakan bahwa ketika 3 hari roh terpisah dari jasad, dia minta izin turun ke dunia melihat keadaan jasadnya. di sana, roh sangat prihatin melihat jasadnya mulai menggelembung dan mulai keluar cairan menjijikkan.

Wahai jasad…” kata roh, “engkau tersiksa merana, ingatkah engkau di dunia selalu bermegah-megahan!”

Tiga hari dari kematian ia melihat jasad seperti itu. sekarang 5 hari dari kematian, kembali minta izin kepada Allah untuk melihat jasad, dimana jasad itu sudah mulai banyak dikerumuni cacing-cacing tanah, banyak cairan busuk, mulai digerogoti dan menjijikkan. spontan roh menjerit keras dan kembali lagi ke asalnya.

Kemudian 7 hari dari kematian minta izin lagi kepada Allah untuk melihat jasadnya. roh semakin sedih dan prihatin, sebab keadaan jasad sudah hancur dan tidak berbentuk lagi… dan roh merintih,
Wahai jasadku, beginikah keadaanmu setelah berpisah denganku!mana bentuk-bentuk yang kamu banggakan dulu, yang kau sanjung karena cantik”

roh kembali ke langit di tempat sesuai amal perbuatan.

(diambil dari: Misteri Kehidupan Manusia di Alam Akherat, Ust. Labib Mz)
"Wahai jasad, mestikah hancur dulu, baru menyesal…!!!"
:'(

Sumber : http://pengayuhkereta.wordpress.com/2010/08/23/haruskah-hancur-dulu-jasad-ini-baru-menyesal/


Wallahu a’lam bish-shawabi...
Semoga bermanfaat
Silahkan SHARE ke rekan anda jika menurut anda note ini bermanfaat...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar