Jumat, 25 Februari 2011

Jadilah Engkau Lembut

Kawan.. ternyata ada rahasia dibalik sebuah kelembutan atau sebuah sifat kebalikan dari keras, menyakiti,  atau marah.

Kebaikan itu tidak sama dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang di antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.”  (QS. Fushshilat: 34-35)

Yups.. rahasianya sebuah kelembutan adalah sebuah kejahatan bisa berubah menjadi kesetiaan seorang teman, terlebih seorang kawan yang memang diperlakukan dengan kebaikan atau kelembutan. Bayangkan dari sebuah rasa benci berubah menjadi rasa kasih sayang yang besar sehingga menjadi seseorang yang sangat setia. Setia di kala sedih ataupun senang. Terlebih seseorang yang sudah berkawan , mungkin kelak ketika waktu, kesempatan, serta ruang begitu terbatas untuk saling bertemu dan  menyapa kerinduan itu akan hadir.

Coba kita bersama ingat kembali bagaimana Nabi Musa pergi dari rumahnya yang indah dalam sebuah kerajaan yang diagung-agungkan oleh rakyat ayah angkatnya, Firaun. Kemewahan dan keagungan tempat tersebut tidak dapat membuatnya tenang karena adanya rasa takut akan kebengisan dan kekerasan hati dari para penduduk setempat karena sebuah kesalahan yang tidak pernah Nabi Musa niatkan untuk membunuh tetapi untuk melerai perkelahian yang ada.  Perkelahian seorang bangsa israel atau bangsa budak pada saat itu dengan seorang bangsa pengikut Fir’aun. Kemudian Nabi Musa pergi dengan tergesa-gesa bahkan tanpa alas kaki selama 8 hari ia terus berjalan tanpa bekal dan air.  Hingga ia menemukan tempat yang mampu menerimanya dengan kelembutan dan memberikan kesempatan untuk memperbaiki dirinya meskipun hanya sebagai pembantu untuk mengurus hewan ternak namun karena di dalam keluarga tersebut ada kelemah-lembutan maka ia merasa nyaman tinggal di sana meninggalkan semua kemewahan yang ia terima.

Kawanku.. kelembutan hadir karena Rahmat Allah. Jadi ketika ingin senantiasa berada di dalam RahmatNya maka berusahalah memberikan kelembutan hati bagi orang-orang sekitar. Kelembutan akan mengekalkan hubungan antara manusia, karena tiada satupun manusia di muka bumi ini yang ingin menerima perlakuan kasar. Oleh karenanya ketika sifat kasar yang kita hadirkan mungkin itulah yang akan membuat kita dijauhi oleh orang-orang sekitar kita karena orang-orang tersebut tidak nyaman bersama-sama kita.

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali ‘Imran: 159)

Coba kita igat pula sejenak kisah perang uhud…
Ayat di atas diturunkan untuk meneguhkan hati rasulullah untuk tetap berbuat lemah lembut terhadap kesalahan para sahabat yang berdampak banyaknya sahabat syahid. Bukankah ketika sebuah pasukan kalah dalam pertempuran kemudian ditambah dengan kondisi saling menyalahkan atau berlaku kasar malah akan semakin melemahkan barisan. Ketikapun ada kesedihan akan kehilangan, bukankah Allah Maha Melihat setiap usaha yang dilakukan dan Allah tiada pernah sedikitpun hanya menilai hasil akhir dari perjuangan yang ada. Bahkan Allah menjamin ganjaran syurga bagi manusia yang memperoleh gelar syahid di pertempuran. Namun yang perlu disoroti adalah bayangkan mungkin saja ketika Rasulullah tiada tetap memperlakukan sahabat tersisa dengan kelembutan dan memaafkan kesalahan mereka, mungkin Islam tidak pernah kita nikmati hingga bumi Indonesia kini.

Kawan… Lemah lembutlah engkau seperti inginnya engkau Allah senantiasa berlaku lemah lembut terhadapmu. Bukankah kita jua tak pernah selalu suci dari kesalahan ?

“Sesungguhnya Allah Maha Lembut, menyukai orang yang lembut dan sesungguhnya Allah memberikan kepada kelembutan apa yang tidak diberikannya kepada sikap kasar.” (HR. Muslim).

Kawan… Lemah lembutlah engkau seperti inginnya engkau memperoleh janji Allah akan pengharaman api neraka membakarnya yang sudah dijanjikan bagi orang-orang yang berlaku lemah lembut

“Maukah kalian aku beritahukan tentang orang yang diharamkan masuk neraka? atau siapa orang yang neraka diharamkan membakarnya? ketahui neraka diharamkan pada setiap orang yang rajin mendekatkan diri kepada Allah, yang bersikap lemah lembut, toleran, dan suka mempermudah.”  (HR. At-Tirmidzi)

Kawan… janganlah kekasaran yang kita terima menghalangi kita untuk tetap bersikap lembut kepada orang tersebut, bukankah Rasulullah pernah lebih menerima kekasaran dari penduduk Thaif tapi beliau mencontohkan untuk bersabar ?
Kawan… bukankah Rasulullah mengajak kepada kebaikan dengan sikap lembutnya, yang berhasil mengubah orang kafir yang selalu melempari beliau dengan kotoran dengan sentuhan kelembutan hati beliau untuk menjenguknya tatkala orang tersebut sakit ?

Kawan… mari kita terus mencoba menanamkan sifat lembut itu pada diri-diri kita, karena tak kan menyesal orang yang berlaku lemah lembut terhadap sesamanya.

Bukankah salah satu ciri Allah mencintai orang-orang beriman adalah ketika mukmin tersebut berlaku lemah lembut terhadap mukmin lainnya ?

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.”  (QS. Al-Maa’idah: 54)

Sumber : http://bienennest.wordpress.com/author/bienennest/page/2/


Wallahu a’lam bish-shawabi... (hanya Allah yang Mahatahu Kebenarannya)
Catatan ini kami tujukan untuk kami pada khususnya
dan untuk semua pembaca pada umumnya...
Jika terjadi kesalahan dan kekurangan disana-sini dalam catatan ini...
Itu hanyalah dari kami...
dan kepada Allah SWT., kami mohon ampunan...

Semoga Allah SWT. memberi kekuatan untuk kita amalkan... Amin
Wassalam...

Semoga Bermanfaat dan bisa kita ambil hikmahnya... Amin
Silahkan COPY atau SHARE ke rekan anda jika menurut anda notes ini bermanfaat...

Catatan :
Lampirkan sumbernya ya... Syukron

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar