Minggu, 20 Februari 2011

Kisah Kisah tentan Seekor Burung

oleh Kms Meyheriadi pada 02 Februari 2011 jam 21:03
Alkisah seekor burung yang cerdik tak sengaja terjatuh dalam perangkap. Si burung berkata kepada pada s Pemburu, "Tuan, kamu telah makan banyak sapi dan domba. Kamu telah mengurbankan banyak unta,tetapi kamu tak pernah kenyang. Tentulah kamu tak akan kenyang dengan memakan tubuhku yang kecil ini. Izinkanlah saya memberimu 3 NASIHAT supaya kamu dapat memutuskan sendiri apakah aku ini bijaksana atau bodoh. Dengan ketiga nasihat ini kamu akan beruntung. Yang akan kukatakan pertama adalah: JANGAN MEMPERCAYAI HAL YANG ABSURD DARI SIAPAPUN."

Setelah memberikan nasihat pertama yang berat ini, si burung melepaskan diri dan terbang ke atas dinding. "JANGAN MENANGISI MASA LALU. Itu nasihat kedua," kata si burung. "Jika sesuatu berakhir dan berada di luar kekuasaannya, jangan menyesalinya."

Lalu ia berkata kepada si Pemburu, "Ada sebuah permata tersembunyi dalam tubuhku. Beratnya 10 gram. Seperti halnya kamu adalah jiwa yang hidup, mutiara itu pun adalah sebuah peruntunganmu dan anak-anakmu. Sekarang kamu kehilangan mutiara itu karena kamu ditakdirkan tidak memilikinya, padahal mutiara itu tak akan ditemukan lagi."

Si Pemburu menjadi sedih. Burung itu berkata, "Bukankah sudah kunasihati, kamu jangan menangisi masa lalu? Karena sudah berlalu, buat apa kautangisi? Kamu tidak mengerti nasihatku atau kamu tuli. Lalu, nasihat lain yang kuberikan kepadamu adalah agar kamu tak tersesat dan mempercayai pernyataan yang absurd -beratku sendiri tidak sampai 3 gram, mana mungkin ada 10 gram mutiara dalam tubuhku?"


Si Pemburu menyadari kesalahannya, "Jadi, apa nasihatmu yang ketiga?"
"Kalau kamu tidak mengambil pelajaran dari apa yang sudah kukatakan," kata si burung, "BUAT APA KUKATAKAN YANG KETIGA KALAU AKU TAK MELIHAT PENGARUHNYA?"

Bagaimana pendapat anda setelah membaca kisah diatas? hikmah apa yang terkandung didalamnya yang bisa diambil?

Sumber : http://bulancahaya9.blogspot.com/2010/07/kisah-seekor-burung.html


Kisah Seekor Burung Kenari

Ini adalah sebuah kisah seekor burung, seekor burung kenari yang memiliki kecantikan luar biasa. Dan berikut ceritanya…
Disuatu kota entah berantah sebuah keluarga memelihara seekor burung kenari, burung itu telah dipelihara sejak kecil dan sekarang sudah cukup dewasa, sehingga kecantikan yang luar biasa terpancar darinya. Semua orang yang melihat burung kenari ini sudah pasti mengagumi kecantikannya dan seandainya burung itu diikutkan dalam kontes kecantikan burung sudah dapat dipastikan menjadi juara pertama. Tapi karena burung kenari itu burung peliharaan, burung itu hanya tinggal di dalam sangkar dan hanya tahu dunia luar hanya sebatas apa yang ia dengar. Sang burung kenari  selalu membayangkan betapa indahnya dunia luar itu. Namun walau hanya tinggal di dalam sangkar selama hidupnya, sang burung kenari selalu diperlakukan dengan sangat baik.

Suatu ketika sang pemilik burung kenari itu harus segera pergi keluar kota. Karena terburu-buru, pemilik burung kenari lupa untuk mengunci sangakar sang burung. Mengetahui sangakarnya tidak terkunci, sang burung kenari sangat senang karena akhirnya ia dapat pergi keluar sangkar dan melihat dunia luar yang di dalam pikirannya sangat indah dan menyenangkan. Burung kenari itu mulai mendorong-dorong pintu sangkarnya. Awalnya sang burung kenari mengalami kesulitan namun setelah beberapa kali mendorong pintu sangkarnya, akhirnya sang burung dapat keluar dari sangkarnya. Ia terbang kesana kemari di dalam rumah, terlihat burung kenari itu sangat senang sekali bisa keluar dari sangkar. Luapan kegembirannya bagaikan seorang pemain bola yang baru saja mencetak gol. Sang burung berkeliling rumah dan ia pun menemukan sebuah celah kecil di jendela rumah. Semakin bahagialah sang burung kenari karena ia sekarang benar-benar bisa melihat dulia luar yang dalam pikirannya sangat indah dan menyenangkan.

Sang burung kenari terbang keluar rumah, dan semakin riang ia di dunia luar. Dengan senangnya, sang burung  kenari itu hingap di beberapa ranting pohon. Karena kecantikannya, sang burung kenari selalu menjadi pusat perhatian burung-burung lainnya, semua burung terpesona oleh kecantikan sang burung kenari. Mengetahui hal tersebut, sang burung kenari menikmatinya walau terkadang ia merasa tidak percaya diri karena ia baru saja mengenal dunia luar. Burung kenari sekarang sudah bebas dan sangat menikmati dunia luar.

Tetapi ternyata sang burung kenari terbuai oleh kenikmatan dunia luar dan status terkenalnya itu. Ia lupa untuk menyadari dirinya bahwa di dunia luar itu juga terdapat bahaya yang mengancam hidupnya. Ia terlalu menikmati kesenangannya sehingga keamanan dirinya terlupakan. Suatu ketika, sang burung kenari sedang asik bermain-main disebuah pohon.

Sang burung kenari lompat kesana-kemari, terbang kesana-kemari tetapi ternyata dari kejauhan ada yang memperhatikannya. Seekor burung elang dengan mata tajamnya memperhatikan gerakan-gerakan sang burung kenari. Perlahan namun pasti sang burung elang terbang dan mulai mendekati burung kenari itu yang masih saja menikmati kesenangannya, menikmati kebebasannya dari sangkar.

Dan tiba-tiba… ZAPPPPP!!!! dengan cepat sang burung elang mencengkram burung kenari itu dengan kuku-kuku tajamnya dengan kuat. Burung kenari mencoba melepaskan diri namun apa daya, sang elang terlalu kuat baginya, tak ada harapan lagi bagi sang burung kenari. Kini burung kenari yang cantik itu hanya tinggal sebuah kisah dan kenangan, sangkar pun kini telah kosong dan benar-benar kosong karena sang burung kenari telah pergi selamanya.

oleh: Haidar Ahmad

begitulah kisah seekor burung kenari, saya tidak akan memberikan kesimpulan dari kisah itu ataupun pesan moralnya, silahkan pembaca kisah itu mengambil apa yang ada dibalik kisah itu, semoga kisah dari saya itu dapat memberi manfaat bagi pembaca sekalian, terima kasih.

Sumber : http://haidarahmad.wordpress.com/2009/07/06/kisah-seekor-burung-kenari/


Cinta Bersyarat Mawar pada Gelatik

Ada sebuah kisah yang diceritakan oleh seorang Romo, malam ini. Cerita ini adalah kisah tentang seekor burung gelatik dan setangkai mawar putih.

Sekali peristiwa, di sebuah hutan hiduplah bermacam-macam binatang dan tumbuh-tumbuhan. Ada seekor burung gelatik yang sangat kecil - terkecil diantara burung gelatik yang pernah dimiliki Mama Gelatik - dan setangkai mawar putih yang hidup berdampingan.

Singkat cerita, si burung gelatik jatuh cinta pada si mawar putih. Lalu, si burung gelatik memberanikan diri menyatakan pada mawar putih.

“Mawar, bolehkah aku mencintaimu setulus hatiku dan segenap jiwaku?” tanya si Gelatik. Sayang sekali, si Mawar ternyata tidak mencintai Gelatik.

“Tidak. Aku tidak mencintaimu, Gelatik,” balas Mawar. Lalu Gelatik pun kembali ke sarangnya dan berpikir tentang penolakan si bunga mawar. Apa ya yang membuat Mawar menolakku? Apakah karena tubuhku yang kecil? Apakah karena bulu tubuhku kurang gagah kalau terbang?

Tak berapa lama, tersiarlah kabar bahwa si Mawar Putih jatuh sakit. Saking sayangnya, si Gelatik pun memberanikan diri untuk menjenguk mawar. Ia membawa buah dan obat-obatan untuk si mawar. Lalu, gelatik pun mengatakan kepada mawar : “Mawar, bolehkah aku merawatmu dengan segenap hatiku dan seluruh jiwaku?” tanya Gelatik. Bukannya senang, Mawar justru semakin marah.

“Gelatik! Aku akan mencintaimu kalau kau bisa mengubah tubuhku yang putih ini menjadi merah!” begitu jawab Mawar Putih.

Gelatik bingung, bagaimana mungkin? Mawar putih tetaplah putih, tak mungkin berubah warna. Gelatik pun pulang tanpa sempat merawat mawar sambil merenungi permintaan mawar.

Sesampainya di rumah, Gelatik bersemadi. Ia mencari ketenangan sekaligus petunjuk untuk memenuhi permintaan Mawar. Dan ternyata, Gelatik mendapatkannya.

“Aha! Aku mendapatkan jalan keluar untuk mawar,” katanya. Dengan riang gembira dia menemui Mawar.
“Mawar Putih, aku bisa memenuhi permintaanmu. Aku bisa menjadikan tubuhmu itu merah,” katanya. Sang Gelatik pun langsung mematuk sayapnya dan mematahkan kakinya sehingga dari seluruh tubuhnya keluar darah dan jatuh pada si mawar putih. Mawar Putih kini menjadi berwarna merah, tapi Gelatik kehabisan darah.

“Gelatik, kini aku sadar, aku begitu mencintaimu.” katanya Mawar pada Gelatik yang sedang meregang nyawa. Terlambat, tak lama Gelatik pun mati. Sementara Mawar menikmati merah pada tubuhnya yang ternyata darah Gelatik.

Sebenarnya, ketika di tengah kisah itu diceritakan kembali, aku sudah menebak apa yang akan dilakukan oleh Gelatik Kecil. Darah. Ya, dia akan mengeluarkan darahnya sendiri untuk memenuhi permintaan Mawar yang sangat tidak masuk akal. Bagaimana mungkin menjadikan mawar putih menjadi merah, kecuali dengan menyiramkan warna merah, bukan?

Permintaan mawar juga sangat tidak masuk akal. Cintanya penuh syarat. Aku akan mencintaimu, kalau…. Ya, bentuk cinta penuh syarat menjadi lambang egoisme mawar. Seakan-akan tak bisa ditawar lagi tapi menjadi penentu apa yang akan menjadi tujuan Gelatik. Bisa tidak?! Pembuktian, itu intinya. Gelatik itu memberikan darahnya sebagai bentuk sebuah pengorbanan akan cintanya pada Mawar. Dan pastinya Gelatik mengetahui, bahwa ketika darahnya diberikan, dia tak akan bisa mencintai Mawar seperti harapannya semula. Gelatik ikhlas, demi kebahagiaan Mawar.

Cerita malam ini mengingatkanku pada kejadian sore ini, tentang seorang sahabat. Dia memang memberikan sinyal “cinta tanpa syarat” pada seseorang. Dia “mungkin” menyukai dalam diam. Dan lagi-lagi, dia tak meminta apa-apa sebagai bentuk pembalasan akan cintanya yang kalau di-skala-kan 1-100 berada pada skala 50. Dia memberikan segala bentuk perhatiannya, yang bisa dilakukannya dari jauh pada “setangkai Mawar” yang egois.

Dia memegang teguh kata pepatah : mencintai tak harus menuntut balas lalu berniat untuk memiliki, bukan? Sahabat, cintamu mirip kisah Gelatik  yang mencintai mawar..[SV]

Sumber : http://muda.kompasiana.com/2010/12/12/cinta-bersyarat-mawar-pada-gelatik/


Kisah seekor burung Pipit

Ketika musim kemarau baru saja mulai, seekor Burung Pipit mulai merasakan tubuhnya kepanasan, Lalu mengumpat pada lingkungan yang dituduhnya tidak bersahabat.

Dia lalu memutuskan untuk meninggalkan tempat yang sejak dahulu menjadi habitatnya, terbang jauh Ke utara yang konon kabarnya, udaranya selalu dingin Dan sejuk. Benar, pelan pelan dia merasakan kesejukan udara, makin ke utara makin sejuk, dia semakin Bersemangat memacu terbangnya lebih ke utara lagi.

Terbawa oleh nafsu, dia tak merasakan sayapnya yang mulai tertempel salju, makin lama makin Tebal, Dan akhirnya dia jatuh ke tanah karena tubuhnya terbungkus salju. Sampai ke tanah, salju Yang menempel di sayapnya justru bertambah tebal.

Burung pipit tak mampu berbuat apa apa, menyangka bahwa riwayatnya telah tamat. Dia merintih Menyesali nasibnya. Mendengar suara rintihan, seekor Kerbau yang kebetulan lewat datang menghampirinya. Namun si Burung kecewa mengapa yang datang hanya seekor Kerbau, dia menghardik si Kerbau agar menjauh Dan Mengatakan bahwa makhluk yang tolol tak mungkin mampu berbuat sesuatu untuk menolongnya. Si Kerbau tidak banyak bicara, dia hanya berdiri, kemudian kencing tepat diatas burung tersebut. Si Burung Pipit semakin marah Dan memaki maki si Kerbau. Lagi-lagi si Kerbau tidak bicara, dia maju Satu langkah lagi, Dan mengeluarkan kotoran ke atas tubuh si burung. Seketika itu si Burung tidak dapat bicara karena tertimbun kotoran kerbau. Si Burung mengira lagi bahwa dia Pasti akan mati tak bisa bernapas.

Namun perlahan lahan, dia merasakan kehangatan, salju yang membeku pada bulunya pelan pelan Meleleh oleh hangatnya tahi kerbau, dia dapat bernapas lega Dan melihat kembali langit yang Cerah. Si Burung Pipit berteriak kegirangan, bernyanyi keras sepuas puasnya-nya.

Mendengar Ada suara burung bernyanyi, seekor anak kucing menghampiri sumber suara, mengulurkan Tangannya, mengais tubuh si burung Dan kemudian menimang nimang, menjilati, mengelus Dan Membersihkan sisa-sisa salju yang masih menempel pada bulu si burung. Begitu bulunya bersih, Si Burung bernyanyi Dan menari kegirangan, dia mengira telah mendapatkan teman yang ramah Dan baik Hati.

Namun apa yang terjadi kemudian, seketika itu juga dunia terasa gelap gulita bagi si Burung, Dan Tamatlah riwayat si Burung Pipit ditelan oleh si Kucing.

Dari kisah ini, banyak pesan moral yang dapat dipakai sebagai pelajaran:
1. Halaman tetangga yang nampak lebih hijau, belum tentu cocok buat Kita.
2. Baik Dan buruknya penampilan, jangan dipakai sebagai satu satunya ukuran.
3. Apa yang pada mulanya terasa pahit Dan tidak enak, kadang kadang bisa berbalik membawa hikmah Yang menyenangkan, Dan demikian pula sebaliknya.
4. Ketika Kita baru saja mendapatkan kenikmatan, jangan lupa Dan jangan terburu nafsu, agar Tidak kebablasan.
5. Waspadalah terhadap Orang yang memberikan janji yang berlebihan.

Sumber : http://indosingleparent.blogspot.com/2010/08/kisah-seekor-burung-pipit.html


ANWAR DAN SANG BURUNG KECIL

Ketika Anwar sedang berjalan pulang dari sekolah, hujan mulai turun sangat lebat. Setelah makan malam, sebelum memulai pekerjaan rumahnya, dia bertanya kepada ibunya apakah dia boleh melihat hujan dulu sebentar. Ibu bilang bahwa Anwar boleh melihatnya sebentar saja. Anwar melihat ke jendela dan mulai memperhatikan hujan yang turun di luar. Ada orang berjalan di jalanan dengan memakai payung, dan yang tidak mempunyai payung merapatkan diri mereka ke bangunan.

Tak lama kemudian, gumpalan hujan mulai terbentuk di mana-mana. Mobil yang lewat memuncratkan air ke sisi jalan dan orang berlarian dari pemberhentian agar tidak kebasahan. Anwar berpikir betapa menyenangkannya berada di dalam rumah dan dia harus lebih bersyukur kepada Allah Yang telah memberinya makanan dan rumah yang hangat untuk tinggal. Pada saat itu juga, seekor burung jelatik hinggap di bingkai jendela. Anwar berpikir bahwa burung malang itu pasti sedang mencari tempat berteduh dari hujan, dan dia segera membuka jendela.

“Hai, namaku Anwar,” katanya. “Kamu boleh masuk kalau kamu mau.”
“Terima kasih, Anwar,” kata sang burung kecil. “Aku ingin menunggu di dalam sampai hujan reda.”
“Kamu pasti kedinginan di luar sana,” Anwar ikut merasakan “Aku belum pernah melihat burung sedekat ini sebelumnya.

Lihat betapa tipisnya kakimu! Bagaimana kakimu dapat menahan badanmu hingga tegak?”
“Kamu benar, Anwar,” sang jelatik setuju. “Kami burung memiliki kaki yang tipis dibanding tubuh kami. Namun, biarpun demikian, kaki-kaki tersebut mampu menahan tubuh kami dengan sangat mudah. Ada banyak otot, pembuluh darah dan syaraf didalamnya. Bila kaki kami lebih tipis atau lebih tebal lagi, akan sulit bagi kami untuk terbang.”
“Terbang pasti rasanya sangat menakjubkan,” pikir Anwar. “sayapmu terlalu tipis, juga, namun kalian masih dapat terbang dengannya. Jadi, bagaimana kamu dapat terbang sedemikian jauhnya tanpa merasa
lelah?”

“Saat pertama kali kami terbang, kami menggunakan banyak sekali tenaga karena kami harus mendukung berat badan kami pada sayap kami yang tipis,” mulai sang jelatik. “Namun begitu kami di udara, kami menjadi santai dengan mebiarkan tubuh kami terbawa angin. Jadi, karena kami menghabiskan lebih sedikit tenaga dengan cara ini, kami tidak menjadi lelah. Saat angin berhenti bertiup, kami mulai mengepakkan sayap kami lagi. Karena kelebihan yang telah Allah ciptakan untuk kami, kami dapat terbang dalam jarak yang sangat jauh.”

Anwar kemudian bertanya, “Bagaimana kamu dapat melihat sekelilingmu saat sedang terbang?”
Sang jelatik menjelaskan: “Organ indera terbaik kami adalah mata kami. Selain memberikan kemampuan untuk terbang, Allah juga memberikan kami indera penglihatan yang sangat hebat. Jika kami tidak memiliki indera penglihatan bersamaan dengan kemampuan ajaib kami untuk bisa terbang, hal itu sangatlah berbahaya bagi kami. Kami dapat melihat benda yang sangat jauh dengan lebih jelas daripada manusia, dan kami memiliki jangkauan penglihatan yang luas. jadi begitu kami melihat bahaya di depan, kami dapat menyesuaikan
arah dan kecepatan terbang kami. Kami tidak dapat memutar mata kami seperti manusia karena mata kami diletakkan pada pencengkramnya. namun kami dapat menggerakkan kepala kami berputar dengan cepat untuk memperluas wilayah penglihatan kami.”

Anwar mengerti: “Jadi, itulah mengapa burung selalu menggerakkan kepala mereka: untuk melihat ke sekeliling mereka. Apakah semua mata burung seperti itu?”

“Burung hantu dan burung-burung malam hari lainnya memiliki mata yang sangat lebar,” sang jelatik melanjutkan. “Berkat sel khusus dalam mata mereka, mereka dapat melihat dalam keremangan. Karenanya, burung hantu dapat melihat dengan sangat baik untuk berburu di malam hari. Ada juga jenis burung yang disebut burung air; Allah menciptakan mereka agar mereka dapt melihat dengan sangat baik di dalam air. Mereka mencelupkan kepala mereka ke dalam air dan menangkap serangga atau ikan. Allah menciptakan kemampuan ini dalam burung-burung ini agar mereka dapat melihat dengan jelas di dalam air dan menangkap mangsa mereka.”
“Tidak semua paruh burung sama, nampaknya. Mengapa demikian?”

Anwar bertanya.
“Allah menciptakan berbagai jenis paruh yang berbeda untuk burung yang berbeda untuk melakukan pekerjaan yang berbeda,” demikian jawabannya. “Paruh kamu sesuai dengan sempurna terhadap lingkungan di mana kami tinggal. Ulat dan cacing sangat lezat bagi kami para burung pemangsa serangga. dengan paruh kami yang tipis dan tajam, kami dapat dengan mudah mengambil ulat dan cacing dari bawah daun pohon. Burung pemakan ikan biasanya memiliki paruh
yang panjang dengan bentuk seperti sendok pada ujungnya untuk menangkap ikan dengan mudah. Dan burung yang makan dari tumbuhan memiliki paruh yang membuat mereka dapat makan dengan mudah dari jenis tumbuhan yang mereka sukai. Allah telah menyediakan dengan sempurna untuk setiap makhluk di Bumi dengan memberikannya kemampuan yang dia butuhkan.”

Anwar punya pertanyaan lain untuk sang jelatik:
“Kamu tidak mempunyai telinga seperti yang aku punya, namun kamu masih dapat mendengarkan aku
dengan sangat baik. Bagaimana bisa?”

“Indera pendengaran sangatlah penting bagi kami para burung. Kami menggunakannya untuk berburu
dan saling memperingatkan akan adanya kemungkinan bahaya sehingga kami dapat melindungi diri kami. Sebagian burung memiliki gendang pendengaran yang membuat mereka mampu mendengar suara yang paling kecil. Pendengaran burung hantu sangat peka akan suara. Burung Hantu dapat mendengar tingkat suara yang tidak dapat didengar manusia,” sang jelatik memberitahukannya.

Anwar kemudian bertanya: “Kalian para burung berkicau dengan sangat merdu. Aku senang mendengarkan kalian. Untuk apa kalian menggunakan suara kalian?”

Sang burung mengangguk: “Sebagian dari kami memiliki kicauan yang berbeda untuk mengusir musuh kami. Terkadang kami membuat sarang kami di dalam lubang pada batang pohon, dan ketika musuh mencoba masuk, kami mendesis layaknya ular. Penyusup tersebut berpikir bahwa ada ular di dalam sarang itu, sehingga kami dapat melindungi sarang kami.”

“Apa lagi yang kalian lakukan untuk melindungi sarang kalian dari musuh?” Anwar ingin tahu.
“Kami membangun banyak sarang tipuan untuk menyesatkan musuh kami,” kata sang burung. “Dengan cara ini kami membuat para penyusup tersesat dan melindungi sarang dan telur kami yang telah kami sembunyikan di daerah tersebut. Untuk melindungi sarang kami dari ular berbisa, kami menutupi jalan masuk dan membuatnya sangat berliku-liku. Kewaspadaan lainnya adalah membangun sarang pada pohon yang cabangnya berduri.”

"Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang diangkasa bebas. Tidak ada yang menahannya selain daripada Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang beriman."  (QS. an-Nahl, 16:79)

Sumber : http://dimassanasini.blogspot.com/2010/09/anwar-dan-sang-burung-kecil.html


Wallahu a’lam bish-shawabi... (hanya Allah yang Mahatahu Kebenarannya)

Jika terjadi kesalahan dan kekurangan disana-sini dalam catatan ini...
Itu hanyalah dari kami...
dan kepada Allah SWT., kami mohon ampunan...

Semoga Allah SWT. memberi kekuatan untuk kita amalkan.
Wassalam...

Semoga Bermanfaat dan bisa kita ambil hikmahnya... amin
Silahkan COPY atau SHARE ke rekan anda jika menurut anda notes ini bermanfaat...

Catatan :
Lampirkan Sumbernya ya... Syukron

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar