Selasa, 22 Februari 2011

Lidah Tak Bertulang

Renungan: Menjaga Lidah

Sedikit renungan pendek untuk kita hayati bersama-sama…. Pepatah mengatakan, lembut lidah tidak bertulang, tetapi kata-katanya menusuk seperti belati. Berhati-hati, jenayah menggunakan lidah tidak akan kita nampak dosanya di hadapan mata, tetapi dosa-dosa ini akan diperlihatkan di kampung akhirat nanti.

Lidah untuk berkata-kata tetapi adakah kita menggunakan lidah untuk meluahkan perkataan yang elok-elok? Sebabnya yang sering berlaku, kita menggunakan lidah untuk berbual kosong, mengumpat, bercakap perkara sia-sia sehingga kadang kala melampaui batas.


Jenayah lidah juga menjadi racun yang mematikan kasih sayang dalam pergaulan sesama insan, menyuburkan benih dendam dan kebencian dalam persaudaraan.

Apabila manusia terdedah kepada bahaya fitnah, saling mencela, berprasangka buruk atau menghina secara terang-terangan maka akan rusaklah kehidupan yang asalnya aman dan damai.

Disebabkan itu, Rasulullah SAW mengingatkan kita dalam sabdanya yang bermaksud,  
“Sesungguhnya seorang hamba Allah mengucapkan satu perkataan yang dibenci Allah, menyebabkan dia terjerumus ke dalam api neraka (jahanam).” (Hadis riwayat Bukhari).

Banyak sekali peringatan mengenai bahaya lidah ini. Dalam bahasa kita, istilah yang kita gunakan adalah mulut jahat. Lidah memang tidak bertulang, mudah berkata tetapi kadang kala percakapan itu menolak seseorang ke jurang neraka.
Dalam hal ini, Rasulullah SAW bersabda lagi yang bermaksud,  
“Tidak ada sesuatu yang menjerumuskan manusia ke dalam api neraka kecuali dosa-dosa percakapan kotor dan jahat.” (Hadis riwayat ahli sunnah dan Ahmad).

Berbahasa kasar dan mulut jahat bukan tabiat orang beriman. Hal ini seperti sabda Rasulullah SAW yang bermaksud,
“Seseorang mukmin bukan seorang yang suka mencaci atau suka melaknat orang lain dan dia juga tidak bersifat jahat di samping ia tidak bersikap buruk.”(Hadis riwayat at-Tirmidzi).

Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud,
“Tidak lurus (istiqomah) iman seseorang hamba itu sehingga hatinya lurus dan hatinya tidak akan lurus sehingga lurus lidahnya.” (Hadis riwayat Ahmad).

Maksud istiqomah ialah tetap teguh di atas jalan yang betul lurus yang membawa keredhaan Allah SWT. Dasar istiqomah adalah istiqomah hati iaitu lurusnya hati di atas tauhid. Apabila hati telah beristiqomah kepada Allah dalam erti kata takut, cinta, tawakkal dan mengagungkan Allah maka seluruh anggota tubuh akan taat kepadanya.

Anggota terpenting selepas hati yang mesti diberi perhatian serius agar beristiqomah ialah lidah karena lidah adalah terjemahan hati yang menggambarkan pemikiran seseorang.

Oleh itu, peliharalah lidah sebaik-baiknya. Strategi paling berkesan bagi menghindari maksiat lidah sudah diajar Baginda SAW melalui penyaksian Ummul Mukminin Aisyah yang berkata,  
“Sesungguhnya Rasulullah sentiasa berzikir kepada Allah setiap saat.” (Hadis riwayat Muslim).

Zikrullah menjamin hati yang sempurna, hati yang hidup dan jasad sentiasa bergerak untuk kebaikan.

Sumber : http://dewidanronald.wordpress.com/2010/12/07/renungan-menjaga-lidah/


Lidah Tak Bertulang
Penulis : Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi

Banyak orang merasa bangga dengan kemampuan lisannya (lidah) yang begitu fasih berbicara. Bahkan tak sedikit orang yang belajar khusus agar memiliki kemampuan bicara yang bagus. Lisan memang karunia Allah yang demikian besar. Dan ia harus selalu disyukuri dengan sebenar-benarnya. Caranya adalah dengan menggunakan lisan untuk bicara yang baik atau diam. Bukan dengan mengumbar pembicaraan semau sendiri.

Orang yang banyak bicara bila tidak diimbangi dengan ilmu agama yang baik, akan banyak terjerumus ke dalam kesalahan. Karena itu Allah dan Rasul-Nya memerintahkan agar kita lebih banyak diam. Atau kalaupun harus berbicara maka dengan pembicaraan yang baik. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.” (Al-Ahzab: 70)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Al-Imam Al-Bukhari hadits no. 6089 dan Al-Imam Muslim hadits no. 46 dari Abu Hurairah)

Lisan (lidah) memang tak bertulang, sekali engkau gerakkan sulit untuk kembali pada posisi semula. Demikian berbahayanya lisan, hingga Allah dan Rasul-Nya mengingatkan kita agar berhati-hati dalam menggunakannya.

Dua orang yang berteman penuh keakraban bisa dipisahkan dengan lisan. Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa dipisahkan karena lisan. Suami istri yang saling mencintai dan saling menyayangi bisa dipisahkan dengan cepat karena lisan. Bahkan darah seorang muslim dan mukmin yang suci serta bertauhid dapat tertumpah karena lisan. Sungguh betapa besar bahaya lisan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat yang dibenci oleh Allah yang dia tidak merenungi (akibatnya), maka dia terjatuh dalam neraka Jahannam.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6092)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Sesungguhnya seorang hamba apabila berbicara dengan satu kalimat yang tidak benar (baik atau buruk), hal itu menggelincirkan dia ke dalam neraka yang lebih jauh antara timur dan barat.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6091 dan Muslim no. 6988 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu mengatakan:
“Hadits ini (yakni hadits Abu Hurairah yang dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim) teramat jelas menerangkan bahwa sepantasnya bagi seseorang untuk tidak berbicara kecuali dengan pembicaraaan yang baik, yaitu pembicaraan yang sudah jelas maslahatnya dan kapan saja dia ragu terhadap maslahatnya, janganlah dia berbicara.” (Al-Adzkar hal. 280, Riyadhus Shalihin no. 1011)

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu mengatakan:
“Apabila dia ingin berbicara hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga nampak maslahatnya.” (Al-Adzkar hal. 284)

Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu mengatakan:
“Ketahuilah, setiap orang yang telah mendapatkan beban syariat, seharusnya menjaga lisannya dari semua pembicaraan, kecuali pembicaraan yang sudah jelas maslahatnya. Bila keadaan berbicara dan diam sama maslahatnya, maka sunnahnya adalah menahan lisan untuk tidak berbicara. Karena pembicaraan yang mubah bisa menarik kepada pembicaraan yang haram atau dibenci, dan hal seperti ini banyak terjadi. Keselamatan itu tidak bisa dibandingkan dengan apapun.”

Keutamaan Menjaga Lisan
Memang lisan tidak bertulang. Apabila keliru menggerakkannya akan mencampakkan kita dalam murka Allah yang berakhir dengan neraka-Nya. Lisan akan memberikan ta’bir (mengungkapkan) tentang baik-buruk pemiliknya. Inilah ucapan beberapa ulama tentang bahaya lisan:
  1. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu: “Segala sesuatu akan bermanfaat dengan kadar lebihnya, kecuali perkataan. Sesungguhnya berlebihnya perkataan akan membahayakan.”
  2. Abu Ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu: “Tidak ada kebaikan dalam hidup ini kecuali salah satu dari dua orang yaitu orang yang diam namun berpikir atau orang yang berbicara dengan ilmu.”
  3. Al-Fudhail rahimahullahu: “Dua perkara yang akan bisa mengeraskan hati seseorang adalah banyak berbicara dan banyak makan.”
  4. Sufyan Ats-Tsauri rahimahullahu: “Awal ibadah adalah diam, kemudian menuntut ilmu, kemudian mengamalkannya, kemudian menghafalnya lantas menyebarkannya.”
  5. Al-Ahnaf bin Qais rahimahullahu: “Diam akan menjaga seseorang dari kesalahan lafadz (ucapan), memelihara dari penyelewangan dalam pembicaraan, dan menyelamatkan dari pembicaraan yang tidak berguna, serta memberikan kewibawaan terhadap dirinya.”
  6. Abu Hatim rahimahullahu: “Lisan orang yang berakal berada di belakang hatinya. Bila dia ingin berbicara, dia mengembalikan ke hatinya terlebih dulu, jika terdapat (maslahat) baginya maka dia akan berbicara. Dan bila tidak ada (maslahat) dia tidak (berbicara). Adapun orang yang jahil (bodoh), hatinya berada di ujung lisannya sehingga apa saja yang menyentuh lisannya dia akan (cepat) berbicara. Seseorang tidak (dianggap) mengetahui agamanya hingga dia mengetahui lisannya.”
  7. Yahya bin ‘Uqbah: “Aku mendengar Ibnu Mas’ud berkata: ‘Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang benar selain-Nya, tidak ada sesuatu yang lebih pantas untuk lama dipenjarakan dari pada lisan.”
  8. Mu’arrifh Al-‘Ijli rahimahullahu: “Ada satu hal yang aku terus mencarinya semenjak 10 tahun dan aku tidak berhenti untuk mencarinya.” Seseorang bertanya kepadanya: “Apakah itu wahai Abu Al-Mu’tamir?” Mua’arrif menjawab: “Diam dari segala hal yang tidak berfaidah bagiku.”
(Lihat Raudhatul ‘Uqala wa Nuzhatul Fudhala karya Abu Hatim Muhamad bin Hibban Al-Busti, hal. 37-42)


Buah Menjaga Lisan
Menjaga lisan jelas akan memberikan banyak manfaat. Di antaranya:
  1. Akan mendapat keutamaan dalam melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6090 dan Muslim no. 48)
  2. Akan menjadi orang yang memiliki kedudukan dalam agamanya. Dalam hadits Abu Musa Al-Asy’ari, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika ditanya tentang orang yang paling utama dari orang-orang Islam, beliau menjawab: “(Orang Islam yang paling utama adalah) orang yang orang lain selamat dari kejahatan tangan dan lisannya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 11 dan Muslim no. 42) Asy-Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali mengatakan: “Hadits ini menjelaskan larangan mengganggu orang Islam baik dengan perkataan ataupun perbuatan.” (Bahjatun Nazhirin, 3/8)
  3. Mendapat jaminan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk masuk ke surga. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadits dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu: “Barangsiapa yang menjamin untukku apa yang berada di antara dua rahangnya dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan) maka aku akan menjamin baginya al-jannah (surga).” (HR. Al-Bukhari no. 6088) Dalam riwayat Al-Imam At-Tirmidzi no. 2411 dan Ibnu Hibban no. 2546, dari shahabat Abu Hurairah raadhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang dijaga oleh Allah dari kejahatan apa yang ada di antara dua rahangnya dan kejahatan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan) maka dia akan masuk surga.”
  4. Allah akan mengangkat derajat-Nya dan memberikan ridha-Nya kepadanya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu: “Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat dari apa yang diridhai Allah yang dia tidak menganggapnya (bernilai) ternyata Allah mengangkat derajatnya karenanya.” (HR. Al-Bukhari no. 6092) Dalam riwayat Al-Imam Malik, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali dalam Bahjatun Nazhirin (3/11), dari shahabat Bilal bin Al-Harits Al-Muzani radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya seseorang berbicara dengan satu kalimat yang diridhai oleh Allah dan dia tidak menyangka akan sampai kepada apa (yang ditentukan oleh Allah), lalu Allah mencatat keridhaan baginya pada hari dia berjumpa dengan Allah.”

Demikianlah beberapa keutamaan menjaga lisan. Semoga kita diberi kemampuan oleh Allah untuk melaksanakan perintah-Nya dan perintah Rasul-Nya dan diberi kemampuan untuk mengejar keutamaan tersebut.

Sumber : http://alhannan.ft.ugm.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=50%3Alidah-tak-bertulang&catid=4%3Aakhlaq&Itemid=4


Wallahu a’lam bish-shawabi... (hanya Allah yang Mahatahu Kebenarannya)
Jika terjadi kesalahan dan kekurangan disana-sini dalam catatan ini...
Itu hanyalah dari kami...
dan kepada Allah SWT., kami mohon ampunan...

Semoga Allah SWT. memberi kekuatan untuk kita amalkan.
Wassalam...

Semoga Bermanfaat
Silahkan COPY dan SHARE ke rekan anda jika menurut anda notes ini bermanfaat...

Lampirnya sumbernya ya... Syukron

Tidak ada komentar:

Posting Komentar