Senin, 21 Februari 2011

Menilai Diri Sendiri Oleh Orang Lain, Bolehkah?

(Renungan atas Testimony)

Manusia terkadang menilai dirinya sendiri berdasarkan penilaian orang lain terhadap dirinya. Inilah tipikal manusia yang pertama. Jeleknnya dia lebih peduli apa kata orang lain tentang dirinya walaupun itu membuatnya tidak dapat mengekspresikan dirinya sendiri. Action orang-orang seperti ini bergantung pada tanggapan orang-orang di sekelilingnya sehingga potensinya tidak berkembang. Ia juga selalu takut mengambil keputusan mengenai sesuatu karena khawatir apa kata orang mengenai dia.


Adapun tipikal yang kedua adalah orang sangat takut dikritik orang lain. Sehingga hidupnya yah... apa maunya dia. Namun jangan salah, orang seperti ini malah doyan mengkritik. Inilah salah satu karakter orang yang sangat sensitif. Parahnya karakter ini terbawa dalam keseluruhan aktivitasnya (kos, keluarga, organisasi, bahkan masyarakat). Padahal jika kita siap berinteraksi dengan banyak orang dengan segala pluralitasnya, so harus siap pula dengan berbagai kritikan, masukan atau apapun yang sifatnya penilaian atas karakter dan kinerja kita. Dan kita musti berhati-hati bergaul dengan orang yang memiliki tipikal ini.

Pada beberapa kasus yang saya temui, orang seperti ini jika sudah kadung merasa dikritik oleh orang lain baik secara langsung maupun tidak langsung akan membalas dengan kata-kata yang pedas atau menimbulkan efek perang dingin yang berkepanjangan sesudahnya. Nah loh... Seorang teman saya yang seorang psikolog mengatakan bahwa butuh cara khusus, waktu khusus, dan orang-orang khusus yang benar-benar dekat dengan obyek untuk mengingatkan orang-orang seperti ini. Hm... berabe yah punya karakter kayak gini...

Tipikal ketiga adalah orang-orang yang open terhadap kritik, saran dan masukan orang lain. Golongan ini adalah orang-orang yang “tahan banting” dan pandai memanfaatkan sarana-sarana penilaian orang lain sebagai peluang untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Dia sadar akan kelemahan dirinya dan mampu memberikan feedback positif. Namun dia juga bukan tipikal orang yang hanya terfokus apa kata orang tentang dia sebagaimana halnya tipe pertama. Artinya dia tetap percaya pada kemampuannya sendiri dan terus mengembangkannya berdasakan masukan-masukan dan kritik orang-orang di sekelilignya

Basicly, prinsip yang harus kita bangun adalah menyadari bahwa setiap manusia menjalani hidupnya masing-masing dan bertanggungjawab pada hidupnya sendiri. Artinya, setiap individu memiliki kendali penuh atas dirinya masing-masing. Sebab, sebesar apapun campur tangan orang lain atas diri kita, pengambil keputusan terakhir adalah diri kita sendiri. Orang-orang di sekeliling kita hanyalah faktor luar. Namun, inu bukan berarti kita tidak boleh menanyakan atau mendengarkan pendapat orang lain. Terkadang ada sisi-sisi tertentu dimana orang lain dapat lebih melihat kekurangan kita dibandingkan dengan kita sendiri. Kita jadikan pendapat mereka sebagai masukan, tetapi pendapat mereka bukanlah segalanya.

Salah satu contoh misalnya ketika awal saya masuk kuliah dan aktif di sebuah organisasi ekstra. Dalam suatu kegiatan, diadakan pesan kesan lewat selembar kertas yang bertuliskan nama masing-masing. Semua wajib mengisi. Hasil komentar untuk saya, dari sekian puluh mahasiswa yang hadir, 75% mengatakan saya pendiam, jutek, senyumnya mahal, cool banget, tapi tegas dan kritis. Jika seadainya saya bergantung atas tanggapan-tanggapn itu, saya yakin saya akan down dikatakan demikian. Tapi bukan itu yang terbersit dalam pikiran saya saat itu. Wah, saya harus merubah image orang atas saya nih. Dan saya bertekad untuk membuktikannya. Dua bulan kemudia, di ahri terakhir short course bahasa Inggris dan Arab yang diadakan oleh Fakultas Saintek selama dua bulan, native saya meminta untuk mengisi quetsioner oelh seluruh mahasiswa. Salah satu pertanyaan yang saya ingat adalah siapakah mahasiswa yang setiap pagi selalu menyapa anda dan memberikan senyum pada anda? Surprise... sebagian besar menjawab Tri Hanifawati. Padahal dua bulan yang lalu saya dikatakan jutek dan mahal senyum. Saya jadi berfikir secepat itukan saya berubah? Atau adakah yang salah dengan penilaian teman-teman saya? Wallahu’alam. Dari sini saya berfikir bahwa kritik orang adakalanya perlu untuk memotivasi menjadi pribadi yang lebih baik.


Sebagai seorang muslim, kita tidak akan langsung antipati bila mendengar kesan negatif mengenai diri kita dari orang lain. Sebelum merespon tindakan apa yang kira-kira akan kita ambil, kita sebaiknya mengintrospeksi diri, apakah benar yang orang lain katakan tentang kita? Jika benar, sepatutnya kita bersyukur Allah mengingatkan kita akan sifat buruk kita lewat orang lain, sehingga kita masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki sifat buruk tersebut. Sebab bagi seorang muslim, merupakan suatu kenikmatan ketika orang lain mengingatkan kekurangan kita.

Begitupun ketika kita mendapat kesan positif dari orang lain jangan lantas berbangga hati. Bisa jadi ini merupakan ujian Allah atas kita. Jika salah menyiasati bisa-bisa kita terjebak dalam sifat riya, sombong, takabur atau sebangsanya. Sebab pandangan orang lain sifatnya relatif. Dalam arti dari sudut pandang mana dia melihat, seberapa seringkah berinterkasi, atau pertanyaan lain yang menyebabkan penilaian atas kita adalah sesuatu yang parsial.

Sebagai contoh lagi, beberapa pekan yang lalu saya dan teman-teman mendapat tugas untuk meminta penialain dari orang-orang yang mewakili keseluruhan aktivitas saya (rumah, kampus, organisasi, dll) awalnya saya bingung ko tugasnya aneh banget apalagi mengingat sebagian besar teman-teman saya sudah entah dimana karena banyak yang sudah lulus dan pulang kampung. Tapi yang namanya ta’limat (perintah) ya suka tidak suka harus saya laksanakan. Dan saya pikir bagus juga untuk mengevaluasi diri setelah sekian tahun mengikuti pembinaan intensif. Setelah searching via sms, email, FB, dan minta langsung, hasilnya... menakjubkan!!! :) saya jilid sampai dapat 10 lembar (pemecah rekor karena teman-teman saya cuma dapat sedikit, hehe...). Dari yang pendek banget hanya 1 kalimat, samapi yang panjang banget sampai 1 halaman full (detail banget ;), 61,67% dari total 60 responden yang saya hubungi memberikan testimony untuk saya. Meski awalnya mereka heran dan tak sedikit yang nyangka aneh-aneh ;) tapi akhirnya ngisi juga. Dari yang to the point, bernarasi, sampai berfilsafat (ini nih yang membuat saya harus berfikir keras untuk memahami maksdunya ;). Tapi saya katakan sekali lagi, menakjubkan... dan anda boleh mencobanya ko.

Sifat baik dan buruk merupakan fitrah manusia, tidak hanya kita yang merasakan namun orang lain di sekeliling kita juga turut merasakan. Ini adalah pandangan obyektif dari hasil penilaian tersebut atas saya. Sifat dominan saya menurut testimony teman-teman adalah pendiam, tegas, sebagian mengatakan saya murah senyum, tapi sebagian lagi mengatakan saya kurang senyum, disiplin, bijaksana, rapi, detail, komitmen, dan lemah lembut. Namun, saya juga memiliki sifat buruk yang cukup dominan, yakni cuek, kurang ramah, dan kurang luwes dalam bergaul. Hm... sepertinya ada benarnya ko J. Ini tidak dapat saya pungkiri karena sudah sunatullah ko kalo sifat baik dan buruk itu akan ada pada diri manusia. Manusia bukanlah malaikat yang selalu berbuat baik dan kita juga bukan setan yang selalu memiliki sifat jahat. Yang patut kita renungkan adalah seberapa besar timbangan untuk sifat baik dan buruk kita, baik dalam personal karakter, hidup sosial (bermuamalah), dan tanggungjawab terhadap amanah. Untuk hal ini saya pikir tidak harus seimbang, justeru muslim yang memiliki kepribadian yang baik adalah yang memiliki timbangan lebih berat ke arah sifat baik, bukan sebaliknya. Setiap kesuksesan tidak dibangun atas kebiasaan buruk, tetapi dibangun atas habbits yang baik. Agar sukses dalam karir atau study misalnya, kita perlu mengubah kebiasaan buruk dengan kebiasaan yang baik ex: manajemen waktu dan skala prioritas, disiplin, komitmen terhadap apa yang dituju dan lain sebagainya.

Namun sekali lagi saya tegaskan bahwa cara pandang orang atas kita sifatnya relatif. Jadi jangan sampai pendapat orang lain selalu menjadi acuan terhadap setiap langkah kita, sehingga potensi kita terbelenggu. Artinya tidak lantas over PeDe jika banyak yang menilai kita positif dan tidak pula berkecil hati dan menjadi minder jika banyak yang menilai kita negatif. Untuk tipikal orang yang sensitif terhadap kritik dan masukan orang lain, saran saya cobalah untuk mencoba membuka diri terhadap penilaian orang-orang di sekeliling kita. Dan rasakan apa yang terjadi. Tidak perlu ada yang ditakutkan ko. Terkadang buruk sangkan itu muncul karena sugesti buruk yang ter-frame duluan dalam pikiran kita. Cobalah ntuk selalu positif thinking, artinya apa kata orang tentang kita Insya Allah pada dasarnya baik dan itu menunjukkan bahwa mereka sayang sama kita. So tidak perlu takut dan tidak perlu marah jika dikritik. Salah satu nasihat bijak dari teman saya, tumbuhkanlah sifat khusnudzon kepada siapapun dan munculkanlah 40 pertanyaan yang baik-baik dalam diri kita ketika kita memiliki sifat suudzon kepada seseorang.

Sebagai seorang muslim, kita patut memposisikan pandangan dan penilaian Allah diatas pandangan dan penilaian manusia. Baik menurut manusia belum tentu baik menurut Allah, atau sebaliknya. Sebab pada hari kiamat kelak pendapat Allah-lah yang berlaku. Ketika tangan dan kaki terbelenggu dan mulut kita tidak dapat menyangkal, maka seluruh bagian tubuh kita akan memberikan kesaksian. Menilai diri sendiri oleh orang lain, bolehkah? Of course, selama itu bertujuan mengevaluasi diri agar menjadi pribadi yang lebih baik. Wallahu’alam

Terakhir, hikmah yang dapat saya petik dari hasil penilaian ini adalah :
Bahwa setiap peristiwa yang saya alami pada setiap episode yang sudah saya lewati (di rumah, kampus, organisasi, masyarakat) dapat dipetik sebagai nilai-nilai berharga. Seberapa besar nilai saya, seperti itulah orang lain merasakan kontribusi akan kehadiran saya dan seperti itulah mereka memberikan penilaian. Dan yang tertinggi tentunya seberapa besar penilaian Allah atas saya. Sebab, orang lain (manusia) pada umumnya hanya mampu menilai sesuatu yang kasat mata dan yang dapat dirasakan. Sedangkan wilayah hati (niat, keikhlasan) hanya Allah yang tahu. Dan sebesar apapun pengalaman berharga kita tidak akan membuahkan manfaat apabila kita enggan melakukan evaluasi diri (muhasabbah). Evalusi merupakan langkah akhir sekaligus langkah awal pada siklus pembelajaran kehidupan yang dapat meningkatkan grafik kualias kehidupan kita. Evaluasi akan selalu membawa kita ke proses awal, tetapi tentu dengan kapasitas yang lebih baik. Dan ini merupakan siklus pembelajaran kehidupan yang idealnya selalu kita up-date secara kontinyu, yakni perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, back to perencanaan, dst.

Sumber : http://al-banna-lifeisstrugle.blogspot.com/2009/11/menilai-diri-sendiri-oleh-orang-lain_08.html


Wallahu a’lam bish-shawabi... (hanya Allah yang Mahatahu Kebenarannya)
Jika terjadi kesalahan dan kekurangan disana-sini dalam catatan ini...
Itu hanyalah dari kami...
dan kepada Allah SWT., kami mohon ampunan...

Semoga Allah SWT. memberi kekuatan untuk kita amalkan.
Wassalam...

Semoga Bermanfaat dan bisa kita ambil hikmahnya... amin
Silahkan COPY atau SHARE ke rekan anda jika menurut anda notes ini bermanfaat...

Lampirkan sumbernya ya... Syukron

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar