Minggu, 20 Februari 2011

Terapi RUQYAH Islami

Rugyah untuk mengusir setan dari rumah

Rugyah untuk mengusir setan dari rumah yaitu dengan membaca surah Al Baqarah ayat 1-4, dilanjutkan dengan ayat kursi dan dua ayat setelahnya (surah Al Baqarah ayat 255, 256 dan 257), setelah itu tiga ayat terakhir di surah Al Baqarah (ayat 284, 285 dan 286). Ini berdasarkan hadits riwayat Muslim. Bila dibacakan kesepuluh ayat ini insyaallah maka setan tidak akan berani masuk ke rumah tersebut.


Pengobatan Terhadap Sihir

Bila seseorang terkena sihir kiriman maka pengobatannya pun harus dilakukan dengan cara yang syar'i, tidak boleh dengan mendatangkan tukang sihir tandingan. Ada beberapa cara yang diajarkan para ulama berdasarkan hadits-hadits dari Rasulullah saw:
  • Bila tempat sihir itu diketahui, seperti guna-guna yang ditanam di pekarangan rumah, atau di tempat tidur, maka hendaklah dihancurkan. Hal itu bisa diketahui dari pengakuan jin yang datang merasuki si tersihir bila sudah terlebih dahulu dilumpuhkan dengan ruqyah syar’iyyah.
  • Kalau ternyata sihirnya hanyalah pengiriman jin dan bukan melalui media barang, maka harus dilakukan terapi ruqyah syar’iyyah untuk mengusir jin dari tubuh yang kena sihir. (prakteknya bisa didengar dari kaset ini).
  • Di samping itu si penderita harus membantu kesembuhan dirinya dengan membaca ayat-ayat Al Quran, yaitu:
- Surah Al Fatihah
- ayat kursi
- Surah Al A’raf ayat 118-122
- Surah Yunus ayat 79-82
- Surah Thaaha ayat 65-70
- Surah Al Kafirun ayat 1-6
- Surah Al Ikhlash
- Surah Al Falaq dan An Nas
- Doa dan wirid seperti yang disebutkan dalam pasal tentang Ruqyah syar’iyyah setelah pasal ini.
- Pengobatan ini bisa dilakukan dengan mandi air daun bidara sebanyak tujuh lembar yang ditumbuk halus dan masukkan ke tempat air mandi.
  • Pengobatan bisa pula dilakukan dengan bekam, yaitu mengeluarkan darah dari anggota badan yang terkena sihir.


Beda Sihir Dengan Gangguan Jin

Sihir berupa santet atau teluh atau guna-guna pasti menggunakan jin. Sedangkan gangguan jin  belum tentu dari sihir. Sihir adalah pekerjaan manusia yang menyuruh jin untuk mengganggu manusia lain yang menjadi target. Sedangkan gangguan jin merupakan pekerjaan jin itu sendiri tanpa ada yang menyuruhnya.

Efek yang ditimbulkan juga berbeda. Orang yang disihir biasanya akan mengalami hal-hal seperti yang diinginkan si penyihir, mulai dari sakit, lupa ingatan, perubahan sikap sampai sakit parah yang bisa membawa kematian. Sedangkan gangguan jin biasanya merasuki jiwa manusia, sehingga orang yang diganggu jadi kesurupan.

Ada persamaan antara gangguan jin dan sihir, yaitu ia hanya bisa mengenai orang yang lemah imannya, dan sering melakukan maksiat. Sedangkan orang-orang yang sering berdoa dan berdzikir pagi dan petang, dengan akidah yang bersih dari noda-noda syirik akan terbentengi dari kedua gangguan tersebut. kalaupun ada yang kena, biasanya efeknya tak kan parah dan mudah diobati.


Hakikat Sihir

Penggunaan sihir tak bisa dilepaskan dari dunia jin. Hal itu karena dua hal:
Pertama:  karena yang pertama kali menyebarluaskan sihir setelah lama terpendam adalah setan dari bangsa jin, sebagaimana yang diterangkan Allah dalam surah Al Baqarah ayat 102:
“...Dan Sulaiman tidaklah kafir, tapi setan-setanlah yang kafir. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia..." 

kedua:   Sihir pada umumnya menggunakan bantuan jin, misalnya ilmu kesaktian, santet dan lain sebagainya. Sedangkan yang tidak menggunakan bantuan jin amatlah sedikit dan tidak terlalu membahayakan, seperti sulap dengan kecepatan tangan, atau hipnotis untuk pengobatan, dan umumnya tak bisa dikategorikan sihir yang musyrik.

Sayangnya, banyak orang yang tak menyadari bahwa ia menggunakan jin. Misalnya orang yang sakti dengan ilmu kebal, atau bisa mengobati orang setelah bertapa. Ia mengatakan bahwa ilmunya di dapat dari wangsit dari wali Fulan, atau ilham dari malaikat dan lain-lain.

Itu menunjukkan bahwa ia telah tertipu oleh jin. Ia pasti melakukan amalan sebelum mendapatkan ilmu itu. Amalan itu bisa berupa syirik, seperti mengadakan sesajen, atau bid’ah seperti melakukan puasa tertentu dan shalat tertentu yang tak pernah diajarkan rasulullah saw.

Dengan begitu ia telah berhasil disesatkan oleh setan, dan setan bersedia membantunya meski tanpa imbalan untuk menyesatkan orang lain yang percaya dengan kesaktiannya.


Kerasukan atau Kesurupan Jin, Adakah?

Tak perlu lagi meragukan bahwa kesurupan jin itu memang ada. Pertanyaannya, bagaimana jin itu bisa merasuki seseorang hingga hilang kesadarannya. Serta mengapa ia merasuki yang ini, bukan yang itu. Apakah ada kriteria tertentu yang bisa dirasuki dan yang tidak?

Semua pertanyaan itu bisa kita jawab dengan mencari penjelasannya dalam Al Quran dan sunnah, baik eksplisit maupun implicit. Sebelum menjawab masalah kesurupan jin ada baiknya kita mengetahui apakah jin bisa kontak fisik langsung dengan manusia. Dalam hadits dari Abu Sa’id tentang pemuda dan ular di rumahnya di atas, jelas adanya kontak fisik antara jin yang menjelma dengan manusia.

Kemudian dalam hadits Shafiyah jin bisa masuk ke tubuh manusia dan menjalar layaknya peredaran darah. Itu menunjukkan dalam wujud aslinya jin bisa masuk ke dalam tubuh manusia dan memberi efek tertentu pada fisik dan jiwa.

Kesurupan jin diakui keberadaannya dalam Al Quran di mana Allah berfirman:
“Orang-orang yang makan riba tak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran penyakit gila.”  (Qs. Al Baqarah : 275).

Dalam sebuah hadits dari Ibnu Abbas ada seorang wanita yang datang kepada rasulullah saw minta disembuhkan dari penyakit ayan dengan doa. Rasulullah bersedia tapi menawarkan pilihan lain kalau dia mau, yaitu bersabar dan ia dijamin masuk surga. Ia menerima tawaran itu, tapi ia hanya minta kalau ayannya kambuh aurtanya tak terbuka. Rasulullah mendoakan agar auratnya tak terbuka. Sebagian ulama seperti Ibnu Hajar Al Asqalani mengatakan bahwa ayan yang menimpa wanita itu adalah akibat kesurupan jin.

Selain itu rasulullah juga pernah mengobati seorang anak kecil yang kesurupan jin hanya dengan meniup mulutnya sambil berkata: “Dengan nama Allah, aku hamba Allah, keluarlah wahai musuh Allah.” akhirnya jin itu pergi dan anak itu sembuh.


Jin bisa berubah wujud (menjelma)

Inilah wujud jin yang biasa dilihat oleh manusia biasa dengan kasat mata. Penampakan seperti yang dituturkan oleh mereka yang ikut acara-acara melihat jin itu memang ada dan tidak perlu diingkari. Namun, yang mereka lihat itu ada dua kemungkinan:
  • Bayangan yang diciptakan setan untuk menipu mata orang tertentu. Maka tak heran kalau dalam satu rombongan hanya salah seorang yang melihat penampakan dan yang lainnya tidak.
  • Jelmaan dari jin itu sendiri, karena ia baru bisa dilihat manusia setelah menjelma. Jelmaan itu bisa berwujud manusia, bisa pula binatang atau apa saja yang Allah izinkan kepadanya.

Dalam sunnah yang sahihah ada dua jelmaan dari jin sehingga bisa dilihat oleh para sahabat, yaitu dalam wujud manusia dan dalam wujud seekor ular. Penampakan dalam wujud seorang manusia dialami oleh Abu Hurairah RA. Suatu ketika ia ditugasi rasulullah saw untuk menjaga harta zakat. Tapi pada malam harinya ada seorang laki-laki yang mencuri harta itu. ia berhasil ditangkap oleh Abu Hurairah tapi kemudian dilepaskan lagi karena ia minta belas kasihan dan berjanji tak kan mengulangi perbuatannya itu lagi. Tapi janji tinggallah janji, malam berikutnya ia datang lagi, dan begitu seterusnya sampai tiga malam berturut-turut. Tiap kali ia mencuri ia selalu tertangkap, tapi kemudian dilepaskan oleh Abu Hurairah karena iba. Sampai kali ketiga ia tertangkap dan mencoba menebusnya dengan memberitahukan senjata pengusir setan kepada Abu Hurairah yaitu ayat kursi. Setelah itu rasulullah saw bersabda:
“Kali ini ia benar, meski sebetulnya ia adalah pembohong besar. Tahukah kau siapa dia?” jawab Abu Hurairah: “Tidak.” beliau meneruskan: “Dia adalah setan.”  (kisah lengkapnya dalam sahih Al Bukhari hadits no. 2311).

Sedangkan penampakan dalam wujud ular disebutkan dalam hadits riwayat Muslim dalam sahihnya no. 2236 dari Abu As Saib maula Hisyam bin Zuhrah. Ia pernah berkunjung ke rumah Abu Sa’id Al Khudri ra. Ia menceritakan:
Ketika itu aku dapatkan ia (Abu Sa’id) sedang shalat, sehingga aku duduk menunggu ia selesai. Tiba-tiba aku mendengar suara pada bejana tempat minum di sisi rumah. Aku menoleh ke sana, dan ada seekor ular. Akupun meloncat untuk membunuh ular itu. Namun, Abu Sa’id memberi isyarat agar aku duduk. Aku akhirnya duduk menunggu.
Selesai shalat, ia menunjukkan padaku sebuah rumah di kampungnya. Ia berkata: “Kau lihat rumah itu?” jawabku: “Ya.”

Ia kemudian bercerita:
Dulu di rumah itu tinggal seorang pemuda yang baru saja menjadi pengantin. Ketika itu kami berangkat bersama rasulullah saw ke Khandaq (dan pemuda itu ikut). Di tengah hari ia minta izin kepada rasulullah untuk bertemu istrinya. Rasulullah memberinya izin dan berpesan: “Bawa senjatamu! Aku kuatir nanti kau bertemu dengan orang-orang Bani Quraizhah di jalan.”

Pemuda tadi pulang dengan membawa senjatanya. Sesampainya di rumah, ia melihat sang istri berdiri di depan pintu. Langsung saja ia arahkan tombaknya kepada istrinya itu untuk dipukul. Ia cemburu mengapa berada di luar rumah. Tapi istrinya sempat berkata: “Tahan tombakmu. Masuklah ke dalam, nanti kau akan tahu mengapa aku berada di luar.”
Iapun masuk, dan ternyata ada seekor ular besar melingkar di atas ranjang. Si pemuda langsung menghunuskan tombaknya dan menusukkannya pada ular itu. terjadilah pergumulan. Ia keluar dan menancapkan tombak itu ke dinding rumah. Ular itu menggelepar di atas kepalanya. Tidak diketahui pasti mana yang lebih dulu mati, ular itu atukah sang pemuda (Kedua-duanya sama-sama mati).

Kami lalu menghadap rasulullah san melaporkan kejadian tersebut. kami katakan pada beliau: “Mohonlah pada Allah agar menghidupkan kembali sahabat kami ini.”

Beliau menjawab: “Sudahlah, mintakan saja ampun untuk teman kalian ini.”

Lalu beliau bersabda:
“Sesungguhnya di Madinah ini ada segolongan jin yang telah masuk Islam. Makanya, jika kalian melihat salah satu dari mereka (berwujud ular), berilah izin mereka sampai tiga hari. Bila setelah itu masih terlihat lagi, baru kalian boleh membunuhnya, karena ia adalah setan. Kuburkanlah sahabat kalian ini!”


Jin Bisa Masuk ke Tubuh Manusia

Dalam hadits dari Shafiyah istri rasulullah saw, rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya setan itu berjalan pada tubuh manusia layaknya aliran darah.” (HR. Bukhari)

Dari hadits ini semakin nyata kehalusan setan dan bangsa jin lainnya. Artinya, ia bisa masuk ke tubuh manusia dan membisikinya untuk berbuat jahat. Ini pula penjelasan mengapa orang bisa kerasukan. Hanya saja jin tidak bisa merasuki semua orang. Kalaupun ia bisa masuk, belum tentu ia bisa merasuki jiwa orang tersebut.


Jin Tak Dapat Dilihat

Jin adalah makhluk ghaib yang tak kan dapat dilihat oleh manusia biasa, kecuali yang diberikan izin oleh Allah seperti Nabi Sulaiman AS dan Nabi Muhammad saw. Hal itu terungkap dalam firman Allah tentang Iblis dan pengikutnya yang merupakan bagian dari jin:
“Sesungguhnya dia dan pengikutnya bisa melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tak bisa melihat mereka.”  (Qs. Al A’raf : 27).

Jin adalah makhluk halus, tapi bukan makhluk kecil seperti virus dan bakteri. Virus dan bakteri masih bisa dilihat wujudnya dengan menggunakan bantuan alat. Sedangkan jin tak bisa dilihat dengan alat apapun. Ia sama dengan ruh yang posturnya besar, tapi tak bisa dilihat dan diraba.

Adapun penampakan yang biasa terlihat oleh sebagian orang yang kemudian mempercayainya sebagai wujud dari hantu dan sebangsanya, maka itu tak lain jelmaan dari setan yang berusaha menakut-nakuti manusia yang lemah iman untuk merusak tauhidnya. Dengan adanya penampakan seperti itu, setan bisa menggoda manusia untuk berbuat syirik, seperti melakukan upacara pengusiran setan yang bid’ah dan berbau syirik, minta izin kepada penunggu suatu tempat sebelum melakukan sesuatu, sampai pada minta kekayaan yang bisa mengeluarkan dari agama. na’udzu billah min dzalik!!

Fenomena dalam masyarakat yang percaya pada adanya makhluk halus dan berbagai mitos adalah sesuatu yang sangat memprihatinkan. Kepercayaan itu sering kali menjurus pada kemusyrikan, dan minimal bid’ah salam akidah. Apalagi hal ini diperparah oleh tayangan televisi yang menyesatkan, seperti Gentayangan, Pemburu Hantu, Pesugihan dan lain-lain.

Akidah yang benar adalah akidah yang mempercayai adanya setan secara umum. Adapun penampakan yang dilihat oleh orang-orang yang memanggil setan dan lemah iman, hanyalah tipuan setan belaka, agar manusia tersesat dari jalan kebenaran. Olehnya, adanya mitos tentang hantu, genderuwo, kuntilanak, babi ngepet, nyi Roro Kidul dan lain sebagainya adalah jelmaan setan untuk menyesatkan orang-orang yang lemah iman.


WUJUD ASLI JIN

Wujud asli jin tak ada yang tahu secara pasti bagaimana bentuknya. Rasulullah saw tidak pernah menerangkan bentuk fisiknya secara mendetail. Beliau hanya pernah menyinggung bahwa kalau shalat berjama’ah shafnya renggang, maka setan akan masuk dan beliau melihatnya sebesar anak kambing (Haditsnya diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Al Mundziri dalam At Targhib wa At Tarhib mengatakan sanadnya “la ba`sa bihi” (tidak mengapa)).

Dalam hadits lain rasulullah menyatakan bahwa jin itu kalau diikat bisa jadi mainan anak-anak. Ini semua menunjukkan bahwa postur tubuh jin tidaklah terlalu besar dalam bentuk aslinya. Sedangkan bentuk rupanya juga tak dijelaskan secara rinci dalam Al Quran maupun sunnah yang sahih. Hanya saja dalam Al Quran diisyaratkan bahwa setan yang merupakan salah satu jenis jin itu buruk rupa. Hal ini terungkap dalam surah Ash Shaf ayat 64-65. Di sana Allah mengumpamakan buah zaqqum yang keluar dari neraka jahannam untuk dikonsumsi para penghuni neraka dengan kepala setan.


IBLIS DAN SETAN

Dalam AL Quran disebutkan suatu makhluk yang bernama Iblis. Ia mendurhakai perintah Allah untuk sujud kepada Nabi Adam AS. Lalu siapakah Iblis ini? Apakah dia dari golongan jin ataukah malaikat, tapi yang jelas dia bukan manusia.

Ada sebagian pendapat ahli tafsir yang mengatakan bahwa Iblis adalah bagian dari malaikat, karena Allah SWT menyebutkan dalam firman-Nya:  
“Dan ingatlah ketika kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kalian kepada Adam!” lalu merekapun sujud kecuali Iblis.” (Qs. Al Baqarah : 34).

Dalam ayat ini Allah mengecualikan Iblis dari golongan malaikat. Individu yang dikecualikan dari suatu jenis menunjukkan bahwa individu tersebut berasal dari jenis yang dikecualikan itu. Pendapat ini bisa diterima akal. Akan tetapi dalam ayat lain Allah menegaskan dengan jelas bahwa Iblis termasuk jenis jin. Firman-Nya:
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam!” maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin…..” (Qs. Al Kahfi : 50).

Ayat ini dengan tegas menjelaskan bahwa Iblis itu dari golongan jin. Pertanyaan berikutnya, apakah Iblis itu nenek moyang jin sebagaimana Adam nenek moyan manusia? Belum ada dalil yang secara spesifik menyebutkan bahwa Iblis adalah nenek moyang jin, namun sebagian ulama berpendapat demikian. Wallahu a’lam.

Setelah Iblis durhaka kepada Allah, tidak mau sujud kepada Adam dan terusir dari surga akibatnya, maka diapun disebut setan. Sebutan setan ini berlaku untuk semua jin yang jahat dan menyesatkan manusia, dan merupakan anak buah dari Iblis. Iblis telah meminta kepada Allah untuk tetap hidup sampai hari kiamat, agar bisa menyesatkan manusia dan menjadi temannya nanti di neraka. Permintaan ini dikabulkan Allah, tapi Allah tetap akan menyiksanya dan orang-orang yang mengikutinya di hari pembalasan nanti. Allah SWT berfirman:
“Iblis berkata: “Berilah aku penangguhan (umur) sampai hari mereka dibangkitkan (kiamat).” Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi penangguhan.”  (Qs. Al A’raf : 14-15)

Selanjutnya Allah SWT berfirman lagi:  
“Sesungguhnya barangsiapa yang di antara mereka (manusia) yang mengikutimu, maka akan aku jadikan mereka isi neraka jahannam bersama dengan kamu semua.” (Qs. Al A’raf : 18).

Anak buah Iblis yang bertugas menggoda manusia inilah yang disebut setan. Pekerjaan mereka adalah menggoda anak keturunan Adam demi melaksanakan sumpah Iblis sebagaimana yang diabadikan Al Quran:
“Karena Engkau telah menghukum aku tersesat, maka aku benar-benar akan (menyesatkan) mereka (manusia) dari jalan-Mu yang lurus. Lalu aku akan mendatangi mereka dari muka, belakang dan samping kanan dan kiri. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan dari mereka bersyukur.” (Qs. Al A’raf : 16-17).

Selanjutnya Allah mengingatkan kepada segenap keturunan Adam dalam firman-Nya:
“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kalian dapat diperdaya oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan ibu bapa kalian (Adam dan Hawa) dari surga.” (Qs. Al A’raf : 27).


HAKIKAT JIN

Jin berasal dari bahasa arab, olahan dari kata جَنَّ – يَجَنُّ yang berarti menjadi gelap, dan kata أَجَنَّ – يُجِنُّ yang berarti membungkus atau menutupi. Makanya makhluk yang tersembunyi dan tak bisa terlihat ini dinamakan jin. Allah SWT menciptakan tiga jenis makhluk yang dibekali akal dan diberi tugas untuk beribadah, yaitu malaikat, jin dan manusia.

Khusus untuk malaikat, ia adalah jenis makhluk yang memang diciptakan untuk selalu taat, dan mempunyai syariat tersendiri yang tidak sama dengan jin dan manusia. Adapun jin, meski memiliki dimensi yang berbeda, tapi ia hidup bersama dengan manusia dalam alam dunia, serta diharuskan mengikuti ajaran yang dibawa oleh nabi Muhammad saw sebagai syariat mereka. Dengan itulah mereka akan mempertanggungjawabkan segala amal perbuatan mereka di dunia, sama persis dengan manusia.

Jin diciptakan dari api, sebagaimana yang diterangkan Allah dalam firman-Nya:
“Dan Dia (Allah) menciptakan jin dari nyala api.” (Qs. Ar Rahman (55): 15)

Dalam firman-Nya yang lain:
“Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.” (Qs. Al Hijr (15):27).

Dalam hadits disebutkan dari Aisyah ra, rasulullah saw bersabda:
“Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari api yang menyala, dan Adam diciptakan dari sesuatu yang digambarkan untuk kalian (tanah).” (Sahih Muslim no. 2996).


RUQYAH dari Al Ustadz Maliki Sami’un, Lc

Saudaraku!!  
Ruqyah syariyah adalah cara pengobatan yang telah dilakukan oleh Rasululloh SAW. dan para sahabatnya. Beliau bersabda “Barang siapa yang bisa memberi manfaat kepada saudaranya hendaklah ia berikan manfaat tsb”. Dan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Nabi bersabda :”Tidak apa-apa dengan ruqyah selama tidak ada kesyirikan di dalamnya”. Sehingga penulis buku “Arraddul-Mubin“. Menyimpulkan berdasarkan fatwa-fatwa Al Lajnah Da’imah bahwa ada 4 hal yang boleh dilakukan dalam proses pengobatan Ruqyah Syar iyah, :
  1. Yang dibaca dalam ruqyah adalah ayat dan doa-doa Rasululloh yang ada dalam sunnahnya dan doa-doa   lain dengan syarat berbahasa arab dan diketahui maknanya.
  2. Amar ma’ruf nahi munkar, meruqyah yaitu mendakwahinya dengan batasan-batasan syar’i, seperti menyuruh dia bertaubat, mengajak ia masuk Islam dan melarang berbuat kezaliman.
  3. Memukul jin yang masuk ke dalam tubuh manusia jika ia enggan keluar dengan baik
  4. Meruqyah air untuk diminum dan dipakai mandi bagi orang yang sakit.

Demikian, semoga ruqyah bagian dari menghidupkan sunah Rasululloh SAW. sehingga Allah berikan berkah dan manfaat bagi kaum muslimin.

Al Ustadz Maliki Sami’un, Lc.


Pengertian Terapi Ruqyah Islami

Terapi ruqyah Islami adalah tempat pelayanan / pengobatan / terapi dari penyakit fisik dan non fisik melalui metode ruqyah. Masyarakat lebih mengenal metode terapi ruqyah Islami dengan membaca doa-doa yang bersumber dari Al-quran dan hadist nabi.

Pengertian Ruqyah
Ruqyah secara bahasa artinya jampi-jampi atau mantera. Ruqyah sacara syar'i adalah jampi-jampi atau matera yang dibacakan oleh seseorang untuk mengobati penyakit atau menghilangkan ganguan jin atau sihir atau untuk perlindungan dan lain sebagainya dengan hanya menggunakan ayat-ayat Al-quran dan atau doa-doa yang bersumber dari hadist-hadist dari Rarulullah shallallahu'alaihi wassalam  dan atau doa-doa yang bisa dipahami maknanya selama tidak mengandung kesyirikan. Ruqyah merupakan salah satu metode pengobatan yang telah dikenal sejak lama, bahkan sebelum nabi Muhammad saw diutus.

Ruqyah secara umum terbagi menjadi 2 macam;
  1. Ruqyah yang diperbolehkan oleh syar'iah islam yaitu terapi ruqyah Islami (ruqyah sar'iyah)
  2. Ruqyah yang tidak diperbolehkan oleh sya'iah islam. Yaitu ruqyah dengan menggunakan bahasa-bahasa yang tidak dipahami maknanya atau ruqyah yang mengandung unsur-unsur kesyirikan. Rarulullah shallallahu'alaihi wassalam besabda "perlihatkan pada ku Ruqyah kalian, dan tidak apa-apa melakukan ruqyah selama tidak mengandung unsur syirik (HR. Muslim).

Dalam Islam ditemukan beberapa dalil yang membolehkan penggunaan ruqyah sebagai pengobatan penyakit. Seluruh ulama sepakat bahwa jenis ruqyah yang disebutkan dalam hadits (terapi ruqyah Islami) maka mengamalkannya adalah sunnah. Sedangkan ruqyah yang berbau syirik, seperti dengan menyebut nama seorang wali untuk menyembuhkan gangguan jin, atau dengan menggunakan hal-hal yang tak lazim dalam syariat adalah terlarang.

Di samping metode ruqyah yang diajarkan Rasulullah saw dalam hadits-hadits beliau, ada juga metode ruqyah yang merupakan hasil kreasi sebagian orang yang dianggap ahli agama (kiai, atau ustadz). Inilah yang menjadi persoalan. Banyak ruqyah hasil kreasi itu terasa janggal, bahkan menyebutkan beberapa nama yang tak dimengerti. Satu contoh metode ruqyah yang dilakukan seorang kiyai yaitu dengan mengucapkan beberapa kalimat dengan hitungan tertentu dan disertai puasa tujuh hari, dan di malam harinya yang bersangkutan harus melaksanakan shalat hajat. Perbuatan semacam ini jelas tak ada petunjuknya di masa rasulullah saw, sehingga dapat digolongkan ke dalam bid’ah (terapi ruqyah yang tidak Islami). Dari mana ia bisa menentukan bacaan tersebut, serta jumlah dan syarat puasanya. Bukankah puasa merupakan ibadah yang hanya boleh ditentukan oleh Allah dan rasul-Nya?

Olehnya, kaum muslimin yang menjaga tauhid jangan terpengaruh dengan cara-cara ruqyah bid’ah semacam ini, dan senantiasa mengamalkan apa yang diajarkan rasulullah saw saja. Lagi pula bisa jadi kalaupun ruqyah itu membuahkan hasil dengan hilangnya penyakit atau perginya jin dari tubuh orang yang kesurupan, maka itu hanyalah permainan jin semata, agar banyak orang yang terjebak ke dalam bid’ah semacam ini.

Syarat terapi ruqyah Islami (syar'iah) yang telah disepakati oleh para ulama minimal ada 3 ;
  • Dengan menggunakan firman Allah (ayat-ayat Al-quran) atau menggunakan nama-nama dan sifat-sifat-Nya.
  • Mempergunakan bahasa arab atau bahasa yang dimengerti maknanya.
  • Berkeyakinan bahwa zat ruqyah tidak berpengaruh apa-apa kecuali atas izin Allah SWT.


Perdukunan dan RUQYAH Syirk'iyah

Fenomena yang terjadi di masyarakat adalah mendatangi dukun bila mendapat gangguan jin atau tersihir. Inilah kesalahan fatal, karena dukun yang dipercaya mengobati pada hakikatnya juga budak jin, sehingga bila ia berhasil mengeluarkan jin dari tubuh penderita, berarti ia menggunakan jin lain untuk itu. Akibatnya si penderita dikuasai oleh jin lain suruhan si dukun.

Islam dengan tegas melarang praktik perdukunan dan berobat dengan dukun yang menggunakan kekuatan magic atau jin. Rasulullah saw bersabda:
“Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal dan menanyakan sesuatu lalu ia percaya, maka shalatnya tak diterima selama empat puluh hari.” (HR. Muslim).

Dalam sabdanya yang lain:
“Barangsiapa yang mendatangi dukun dan mempercayai apa yang ia ucapkan, berarti ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad saw.” (HR. Abu Daud, Ahmad dan At Turmudzi).

Oleh karena itu, setiap muslim tidak boleh berobat ke dukun bila terkena gangguan jin atau sihir. Tetapi berobatlah dengan ahli ruqyah atau para ulama yang bersih akidahnya dan mengerti tata cara ruqyah syar’iyyah.

Selain dukun ada pula cara lain yang biasa digunakan masyarakat, yaitu jimat dan tangkal. Jimat itupun bermacam-macam, ada yang bertuliskan ayat Al Quran kemudian ditambahi permohonan kepada nama-nama aneh, seperti Ahuj, Kahij, Mahij dan lain sebagainya. Bila ditanya terkadang pemakainya mengatakan itu adalah nama malaikat. Padahal malaikat tak kan pernah datang berhubungan langsung kepada manusia, kecuali para nabi dan rasul. Semua itu adalah tipuan jin yang mengaku sebagai malaikat untuk menyesatkan mereka.

Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya jampi, jimat, dan tiwalah adalah syirik.” (HR. Ahmad dan Abu Daud).

Tiwalah adalah sesuatu yang digantungkan oleh suami atau istri untuk mendapatkan kecintaan pasangannya.
Fenomena lain adalah amalan bid’ah yang dilakukan sebagian orang yang jauh dari sunnah. Mereka mencampur adukkan kebaikan dan kejahatan, melebur tauhid dengan syirik. Misalnya amalan seseorang kalau ingin sembuh dari gangguan jin, maka harus puasa tujuh hari tujuh malam, sambil shalat itu dan shalat ini. Sesudah itu membaca wirid-wirid yang tak pernah diajarkan dalam hadits dla’if sekalipun. Yang seperti ini adalah bid’ah dan pelakunya bisa sesat dan mendapatkan dosa.Oleh karenanya jika kita mendapati persoalan-persoalan ghoib (jimat, amalan-amalan yg tidak sesuai dengan tuntunan, klenik-klenik, kesurupan, ganguan makluk halus, dll) maka kembalikan kepada yang memiliki yang Ghoib yaitu Allah SWT. Ikutilah yang telah dicontohkan oleh Rasullullah SAW yaitu dengan Ruqyah. Insyaallah Ruqyah Syari'yah dapat menghindarkan kita dari Musryik.


RUQYAH SYAR'IYYAH

Metode ruqyah yang diajarkan rasulullah saw terkumpul dalam hadits-hadits sahih, dan tak terlalu sulit menghafalkannya. Siapapun bisa melakukannya, asal saja punya keimanan akan sunnah tersebut, dan paham bahwa itulah petunjuk nabawi.

Ada beberapa riwayat yang menjelaskan bacaan apa saja yang disunnahkan dalam <span>ruqyah syar’iyah</span> ini, serta apa khasiat masing-masing bacaan.

1.  Surah Al Fatihah untuk menghilangkan gigitan binatang berbisa: Dari Abu Sa’id Al Khudri RA, ia berkata:
“Sekelompok sahabat nabi saw melakukan sebuah perjalanan. Mereka singgah di sebuah kampung orang-orang Arab. Di sana mereka minta dijamu, tapi tak ada penduduk kampung itu yang bersedia menjamu mereka. Kebetulan si kepala kampung digigit binatang berbisa. Warganya sudah berusaha mengobati dengan segala cara tapi tak juga berhasil. Akhirnya ada di antara mereka yang mengatakan: “Coba kalian datangi rombongan yang tadi minta dijamu oleh kita, mungkin di antara mereka ada yang bisa mengobati.”

Merekapun mendatangi rombongan para sahabat tadi. mereka berkata: “Wahai rombongan, pimpinan kami digigit (binatang berbisa) dan kami telah berusah mengobatinya, tapi tak berhasil. Apakah di antara kalian ada yang bisa mengobati?”

Salah seorang dari rombongan ini menjawab: “Ya, aku bisa meruqyah, tapi demi Allah, kami sudah minta dijamu oleh kalian, dan tak ada yang mau menjamu kami. Maka aku tak akan meruqyah, kecuali kalau kalian memberi imbalan.”
Akhirnya mereka menyepakati daging kambing sebagai imbalannya. Mereka berangkat dan si sahabat tadi menyembur (bagian yang digigit) sambil membacakan surah Al Fatihah, sehingga si kepala kampung itu langsung sembuh seolah bebas dari ikatan. Ia berjalan seolah tak terjadi apa-apa padanya. Ia lalu berkata kepada warganya, penuhilah janji kalian!”

Setelah mendapatkan daging itu, mereka berkata, “Ayo bagi-bagi!” tapi sahabat yang meruqyah enggan dan berkata, “jangan dulu, sampai kita melaporkan hal ini kepada Rasulullah saw. Setelah itu baru kita laksanakan apa yang ditetapkan pada kita.”

Merekapun mendatangi Rasulullah saw dan melaporkan hal itu kepada beliau. (setelah menerima laporan) beliau bersabda: “Siapa yang memberitahumu bahwa ia (surah Al Fatihah) itu untuk ruqyah?! Bagikanlah daging itu dan sisakan untukku sedikit.” Lalu beliau tertawa.” (HR. Bukhari dan Muslim)

2.  Surah Al Fatihah untuk menyembuhkan orang gila

"Dari Kharijah bin Shalt At Tamimi dari pamannya yang mendatangi Rasulullah saw untuk masuk Islam. Dalam perjalanan pulang ia melewati suatu kaum yang terdapat seorang gila di antara mereka. Ia dipasung dengan besi. Keluarganya berkata, “Kami dapat kabar bahwa orang ini datang membawa kebaikan. Apakah kamu bisa menyembuhkan orang gila ini?” Maka aku meruqyahnya dengan surah Al Fatihah, dan ternyata ia sembuh. Mereka memberi aku seratus ekor kambing sebagai hadiah. Kutemui Rasulullah saw dan kujelaskan padanya apa yang terjadi. Beliau berkata padaku, “Apakah hanya itu yang kau baca, kau tidak membaca yang lain? Kalau demikian ambillah (hadiah itu) ini bukan ruqyah yang batil, ini adalah hasil dari ruqyah yang hak.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan lainnya).


3.  Ruqyah untuk menghilangkan sakit di anggota badan : Dari Utsman ra bahwa ia pernah mengeluh kepada rasulullah akan rasa nyeri yang ia alami, maka rasulullah saw bersabda: “Siapa saja di antara kalian yang merasa nyeri, maka letakkan tangan kanannya di atas bagian yang terasa nyeri itu dan ucapkan doa ini:
“Aku berlindung dengan kekuatan dan kekuasaan Allah dari kejahatan semua yang aku temukan dan aku khawatirkan.” Bacalah itu sebanyak tujuh kali.” (HR. Muslim).

4.  Ruqyah untuk orang yang sedang sakit: Doa ini dibacakan sambil memegang bagian yang sakit atau yang ada penyakitnya:
Artinya: “Ya Allah, tuhan manusia, singkirkanlah penyakit ini, sembuhkanlah ia dengan kesembuhan yang tak meninggalkan efek samping. Engkaulah yang maha penyembuh, tak ada obat selain obat (dari)-Mu.” (H.R. Muslim dan lainnya).

5.<span>  Ruqyah untuk mengobati luka, kudis, bisul dan sejenisnya</span>: Caranya dengan mengoleskan air liur ke jari telunjuk, lalu dicolekkan ke tanah sampai menempel sedikit. Kemudian tanah itu diusapkan ke luka atau bisul sambil mengucapkan:
Artinya: “Dengan nama Allah, tanah bumi kita, dengan air liur salah seorang dari kita, untuk menyembuhkan penyakit kita dengan izin tuhan kita.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, Ahmad dan Ibnu Majah. Lafaz ini saya ambil dari sunan Ibni Majah nomor hadits 3521).

6.  Ruqyah untuk mengusir setan dari rumah: yaitu dengan membaca surah Al Baqarah ayat 1-4, dilanjutkan dengan ayat kursi dan dua ayat setelahnya (surah Al Baqarah ayat 255, 256 dan 257), setelah itu tiga ayat terakhir di surah Al Baqarah (ayat 284, 285 dan 286). Ini berdasarkan hadits riwayat Muslim. Bila dibacakan kesepuluh ayat ini maka setan tidak akan berani masuk ke rumah tersebut.

Sumber : http://layanan-terapi-ruqyah-islami.blogspot.com/


Wallahu a’lam bish-shawabi... (hanya Allah yang Mahatahu Kebenarannya)

Jika terjadi kesalahan dan kekurangan disana-sini dalam catatan ini...
Itu hanyalah dari kami...
dan kepada Allah SWT., kami mohon ampunan...

Semoga Allah SWT. memberi kekuatan untuk kita amalkan.
Wassalam...

Semoga Bermanfaat dan bisa kita ambil hikmahnya... amin
Silahkan COPY atau SHARE ke rekan anda jika menurut anda notes ini bermanfaat...

Catatan :
Lampirkan Sumbernya ya.... Syukron

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar