Minggu, 20 Februari 2011

Dunia Bernama : “Negeri Terima Kasih”

Ada sebuah negeri bernama Negeri Terima Kasih. Negeri ini amat makmur, damai, dan sejahtera. Keberadaan negeri ini bukan di planet bumi, bukan pula di planet-planet lain di tatasurya kita. Siapasaja ingin sekali ke sana tetapi tidak tahu caranya. Siapa saja yang ingin ke sana boleh-boleh saja. Apakah kalian ingin kesana? Saya juga pengen kesana, hehe..

Konon, tidak ada uang di negeri ini. Jika di Bumi, negara mana pun  menganggap uang sebagai Dewa atau bahkan sebagai Tuhan, tidaklah demikian di negeri ini. Menurut pendiri Negeri Terima Kasih, uang merupakan sumber petaka. Itu semua berdasarkan penelitian yang mereka lakukan di negeri-negeri yang ada di bumi kita ini.

Sebaiknya kita anggukkan kepala saja atas pendapat para pendiri Negeri Terima Kasih itu. Buktinya, sangat banyak perbuatan dosa dan maksiat gara-gara uang. Koruptor, perampok, manipulator, bahkan pembunuh tiba-tiba bermunculan gara-gara uang. Anak tega membunuh orang tuanya gara-gara uang. Isteri tega meracun suaminya gara-gara uang. Negara saling berperang gara-gara uang. Jika orang-orang di bumi, sejak kemunculan uang, berpikir betapa besar jasa pencipta uang karena dapat menyederhanakan dan memudahkan sistem barter, dapat menjadi alat ukur, satuan nilai, dan bukti kekayaan, tampaknya perlu berpikir ulang. Betapa besar dosa pencipta uang itu. Sebab, kriminalitas terjadi gara-gara uang.

Negeri Terima Kasih tidak mengenal uang. Hanya saja, ada “undang-undang anti pengangguran” yang sangat ketat. Siapa saja yang melanggar undang-undang itu pasti kena jaring polisi dan “dipenjara”.Dipenjara disini bukan untuk disiksa tapi mereka disuruh untuk merenungkan mengapa mereka tidak bekerja.Tidaklah heran bila tidak ada pengganggur di negeri ini.

Kehidupan orang di Negeri Terima Kasih sama seperti kehidupan orang-orang di bumi. Mereka butuh makan, minum, berpakaian, mempunyai rumah, memiliki kendaraan, menonton televise dan sebagainya. Jika orang di Negeri Terima Kasih ingin makan, boleh memasak sendiri atau “membeli” di warung makan (kata membeli sebenarnya juga kurang pas). Setelah kenyang makan di warung, orang tersebut cukup mengucapkan “terima kasih”. Pemilik warung tersenyum puas. Jika ada orang ingin memiliki mobil, cukup ke dealer mobil dan membeli mobil di situ. Orang itu membayar dengan ucapan “terima kasih”. Pemilik warung memperoleh bahan makan dari para petani, dan membayarnya dengan ucapan “terima kasih”. Pemilik dealer mobil memperoleh dagangannya dari pabrik mobil, dan membeli dengan ucapan “terima kasih”. Para petani memperoleh bibit tanaman dan pupuk dari penyedia bibit dan pupuk. Petani tersebut juga membayar dengan ucapan “terima kasih”. Begitu seterusnya, hingga dari usaha hilir sampai hulu, ucapan “terima kasih” itulah yang menjadi alat pembayarannya.

Tidak ada perjudian di Negeri Terima Kasih. Apa yang dipertaruhkan dalam perjudian jika tidak ada uang? Permainan ada, banyak sekali, tapi bukan untuk perjudian.

Nah, betapa makmur dan damai Negeri Terima Kasih ini. Siapa saja yang ingin ke negeri ini, marilah belajar mengucapkan “terima kasih” kepada sesama. Cobalah renungkan, betapa tinggi nilai ucapan “terima kasih” itu hingga sulit dinilai.

Sumber : http://frisformasi.wordpress.com/2009/03/08/dunia-bernama-negeri-terima-kasih/


Wallahu a’lam bish-shawabi... (hanya Allah yang Mahatahu Kebenarannya)

Jika terjadi kesalahan dan kekurangan disana-sini dalam catatan ini...
Itu hanyalah dari kami...
dan kepada Allah SWT., kami mohon ampunan...

Semoga Allah SWT. memberi kekuatan untuk kita amalkan... Amin
Wassalam...

Semoga Bermanfaat dan bisa kita ambil hikmahnya... Amin
Silahkan COPY atau SHARE ke rekan anda jika menurut anda notes ini bermanfaat...

Catatan :
Lampirkan Sumbernya ya... Syukron

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar