Jumat, 25 Februari 2011

Menuntut Ilmu dan Ilmu Pengetahuan

"HADIST-HADIST MENUNTUT ILMU"

Hadits Tentang Menuntut Ilmu
"Niscaya Allah akan meninggikan beberapa derajat orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat". (Qur’an Al mujadalah 11)

"Menuntut ilmu wajib atas tiap muslim (baik muslimin maupun muslimah)". (HR. Ibnu Majah)

"Seseorang yang keluar dari rumahnya untuk menuntut ilmu niscaya Allah akan mudahkan baginya jalan menuju Syurga". (Shahih Al jami)

"Barang siapa berjalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke syorga". (HR. Muslim).


“Barangsiapa melalui suatu jalan untuk mencari suatu pengetahuan (agama), Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (Bukhari)

"Siapa yang keluar untuk menuntut ilmu maka dia berada di jalan Alloh sampai dia kembali".  (Shahih Tirmidzi)


"Tuntutlah ilmu dan belajarlah (untuk ilmu) ketenangan dan kehormatan diri, dan bersikaplah rendah hati kepada orang yang mengajar kamu". (HR. Ath-Thabrani)

"Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Qur’an dan yang mengajarkannya". (HR bukhari)


"Kelebihan seorang alim (ilmuwan) terhadap seorang ‘abid (ahli ibadah) ibarat bulan purnama terhadap seluruh bintang". (HR. Abu Dawud )

"Siapa yang Alloh kehendaki menjadi baik maka Alloh akan memberikannya pemahaman terhadap Agama". (Sahih Ibnu Majah)


"Duduk bersama para ulama adalah ibadah". (HR. Ad-Dailami)

Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda:
"Tidak ada hasad (iri) yang dibenarkan kecuali terhadap dua orang, yaitu terhadap orang yang Allah berikan harta, ia menghabiskannya dalam kebaikan dan terhadap orang yang Allah berikan ilmu, ia memutuskan dengan ilmu itu dan mengajarkannya kepada orang lain". (Shahih Muslim No.1352)


Abdullah bin Mas’ud berkata, “Nabi saw bersabda,
"Tidak boleh iri hati kecuali pada dua hal, yaitu seorang laki-laki yang diberi harta oleh Allah lalu harta itu dikuasakan penggunaannya dalam kebenaran, dan seorang laki-laki diberi hikmah oleh Allah di mana ia memutuskan perkara dan mengajar dengannya". (Bukhari)

Termasuk mengagungkan Allah ialah menghormati (memuliakan) ilmu, para ulama, orang tua yang muslim dan para pengemban Al Qur’an dan ahlinya, serta penguasa yang adil. (HR. Abu Dawud dan Aththusi)

"Siapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah maka baginya satu kebaikan dan setiap kebaikan aka dilipat gandakan sepuluh, saya tidak mengatakan ,”Alif,lam,mim” satu huruf , tetapi alif satu huruf , lam satu huruf , dan mim satu huruf". (HR Bukhori)

"Janganlah kalian menuntut ilmu untuk membanggakannya terhadap para ulama dan untuk diperdebatkan di kalangan orang-orang bodoh dan buruk perangainya. Jangan pula menuntut ilmu untuk penampilan dalam majelis (pertemuan atau rapat) dan untuk menarik perhatian orang-orang kepadamu. Barangsiapa seperti itu maka baginya neraka … neraka". (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)


Hadis riwayat Abu Musa ra.: Dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda:
"Perumpamaan Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung dalam mengutusku untuk menyampaikan petunjuk dan ilmu adalah seperti hujan yang membasahi bumi. Sebagian tanah bumi tersebut ada yang subur sehingga dapat menyerap air serta menumbuhkan rerumputan dan sebagian lagi berupa tanah-tanah tandus yang tidak dapat menyerap air lalu Allah memberikan manfaatnya kepada manusia sehingga mereka dapat meminum darinya, memberi minum dan menggembalakan ternaknya di tempat itu. Yang lain menimpa tanah datar yang gundul yang tidak dapat menyerap air dan menumbuhkan rumput. Itulah perumpamaan orang yang mendalami ilmu agama Allah dan memanfaatkannya sesuai ajaran yang Allah utus kepadaku di mana dia tahu dan mau mengajarkannya. Dan juga perumpamaan orang yang keras kepala yang tidak mau menerima petunjuk Allah yang karenanya aku diutus". (Shahih Muslim No.4232)


Abu Musa mengatakan bahwa Nabi saw bersabda,
“Perumpamaan apa yang diutuskan Allah kepadaku yakni petunjuk dan ilmu adalah seperti hujan lebat yang mengenai tanah. Dari tanah itu ada yang gembur yang dapat menerima air (dan dalam riwayat yang mu’allaq disebutkan bahwa di antaranya ada bagian yang dapat menerima air), lalu tumbuhlah rerumputan yang banyak. Daripadanya ada yang keras dapat menahan air dan dengannya Allah memberi kemanfaatan kepada manusia lalu mereka minum, menyiram, dan bertani. Air hujan itu mengenai kelompok lain yaitu tanah licin, tidak dapat menahan air dan tidak dapat menumbuhkan rumput. Demikian itu perumpamaan orang yang pandai tentang agama Allah dan apa yang diutuskan kepadaku bermanfaat baginya. Ia pandai dan mengajar. Juga perumpamaan orang yang tidak menghiraukan hal itu, dan ia tidak mau menerima petunjuk Allah yang saya diutus dengannya.”   (Bukhari)


"Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu lalu dirahasiakannya maka dia akan datang pada hari kiamat dengan kendali (di mulutnya) dari api neraka".(HR. Abu Dawud)

"Orang yang paling pedih siksaannya pada hari kiamat ialah seorang alim yang Allah menjadikan ilmunya tidak bermanfaat."  (HR. Al-Baihaqi)


"Apabila kamu melihat seorang ulama bergaul erat dengan penguasa maka ketahuilah bahwa dia adalah pencuri." (HR. Ad-Dailami)

"Sesungguhnya Allah tidak menahan ilmu dari manusia dengan cara merenggut tetapi dengan mewafatkan para ulama sehingga tidak lagi tersisa seorang alim. Dengan demikian orang-orang mengangkat pemimpin-pemimpin yang dungu lalu ditanya dan dia memberi fatwa tanpa ilmu pengetahuan. Mereka sesat dan menyesatkan". (Mutafaq’alaih)

"Saling berlakulah jujur dalam ilmu dan jangan saling merahasiakannya. Sesungguhnya berkhianat dalam ilmu pengetahuan lebih berat hukumannya daripada berkhianat dalam harta".(HR. Abu Na’im)


"Sedikit ilmu lebih baik dari banyak ibadah. Cukup bagi seorang pengetahuan fiqihnya jika dia mampu beribadah kepada Allah (dengan baik) dan cukup bodoh bila seorang merasa bangga (ujub) dengan pendapatnya sendiri". (HR. Ath-Thabrani)

“Tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina”
* Telah berkata al-Baihaqy di kitabnya al-Madkhal (hal. 242) dan di kitabnya Syu’abul Iman (4/291 dan ini lafadznya), “Hadits ini matannya masyhur sedangkan isnadnya dla’if. Dan telah diriwayatkan dari beberapa jalan (sanad) yang semuanya dla’if.”


Sumber : http://dmoernie.blogspot.com/2009/11/hadist-menuntut-ilmu.html


Menuntut Ilmu Menurut Pandangan Islam

Hukum Menuntut Ilmu Menurut Pandangan Islam
Apabila kita memperhatikan isi Al-Quran dan Al-Hadist, maka terdapatlah beberapa suruhan yang mewajibkan bagi setiap muslim baik laki-laki maupun perempuan, untuk menuntut ilmu, agar mereka tergolong menjadi umat yang cerdas, jauh dari kabut kejahilan dan kebodohan. Menuntut ilmu artinya berusaha menghasilkan segala ilmu, baik dengan jalan menanya, melihat atau mendengar, Perintah kewajiban menuntut ilmu terdapat dalam hadist Nabi Muhammad saw :
Artinya :
”Menuntut ilmu adalah fardhu bagi tiap-tiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan”. (HR. Ibn Abdulbari)

Dari hadist ini kita memperoleh pengertian, bahwa Islam mewajibkan pemeluknya  agar menjadi orang yang berilmu, berpengetahuan, mengetahui segala kemashlahatan dan jalan kemanfaatan; menyelami hakikat alam, dapat meninjau dan menganalisa segala pengalaman yang didapati oleh umat yang lalu, baik yang berhubungan dangan ‘aqaid dan ibadat, baik yang berhubungan dengan soal-soal keduniaan dan segala kebutuhan hidup.

Nabi Muhammad saw. bersabda :
Artinya :
“Barang siapa menginginkan soal-soal yang berhubungan dengan dunia, wajiblah ia memiliki ilmunya ; dan barang siapa yang ingin (selamat dan berbahagia) diakhirat, wajiblah ia mengetahui ilmunya pula; dan barangsiapa yang meginginkan kedua-duanya, wajiblah ia memiliki ilmu kedua-duanya pula”. (HR. Bukhari dan Muslim).

1. MENUNTUT ILMU SEBAGAI IBADAH.
Dilihat dari segi ibadah, sungguh menuntut ilmu itu sangat tinggi nilai dan pahalanya, sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw. Artinya :
“Sungguh sekiranya engkau melangkahkan kakinya di waktu pagi (maupun petang), kemudian mempelajari satu ayat dari Kitab Allah (Al-Quran), maka pahalanya lebih baik daripada ibadat satu tahun”.

Dalam hadist lain dinyatakan :
Artinya :
“Barang siapa yang pergi untuk menuntut ilmu, maka dia telah termasuk golongan sabilillah (orang yang menegakkan agama Allah) hingga ia sampai pulang kembali”.

Mengapa menuntut ilmu itu sangat tinggi nilainya dilihat dari segi ibadah?. Karena amal ibadah yang tidak dilandasi dengan ilmu yang berhubungan dengan itu, akan sia-sialah amalnya. Syaikh Ibnu Ruslan dalam hal ini menyatakan :
Artinya :
“Siapa saja yang beramal (melaksanakan amal ibadat) tanpa ilmu, maka segala amalnya akan ditolak, yakni tidak diterima”.

2. DERAJAT ORANG YANG BERILMU.
Kalau kita telah mempelajari dan memiliki ilmu-ilmu itu, apakah kewajiban kita yang harus ditunaikan?. Kewajiban yang harus ditunaikan ialah mengamalkan segala ilmu itu, sehingga menjadi ilmu yang bermanfaat, baik untuk diri kita sendiri maupun bagi orang lain. Agar bermanfaat bagi orang lain hendaklah ilmu-ilmu itu kita ajarkan kepada mereka. Mengajarkan ilmu-ilmu ialah memberi penerangan kepada mereka dengan uraian lisan, atau dengan melaksanakan sesuatu amal di hadapan mereka, atau dengan jalan menyusun dan mengarang buku-buku untuk dapat diambil manfaatnya.

Mengajarkan ilmu kecuali memang diperintah oleh agama, sungguh tidak disangkal lagi, bahwa mengajar adalah suatu pekerjaan yang seutama-utamanya. Nabi diutus ke dunia inipun dengan tugas mengajar, sebagaimana sabdanya :
Artinya :
“Aku diutus ini, untuk menjadi pengajar”.(HR. Baihaqi)

Sekiranya Allah tidak membangkitkan Rasul untuk menjadi guru manusia, guru dunia, tentulah manusia tinggal dalam kebodohan sepanjang masa. Walaupun akal dan otak manusia mungkin menghasilkan berbagai ilmu pengetahuan, namun masih ada juga hal-hal yang tidak dapat dijangkaunya, yaitu hal-hal yang diluar akal manusia. Untuk itulah Rasul Allah di bangkitkan di dunia ini. Mengingat pentingnya penyebaran ilmu pengetahuan kepada manusia/masyarakat secara luas, agar mereka tidak dalam kebodohan dan kegelapan, maka di perlukan kesadaran bagi para mualim, guru dan ulama, untuk beringan tangan menuntun mereka menuju kebahagian dunia dan akhirat. Bagi para guru dan ulama yang suka menyembunyikan ilmunya, mendapat ancaman, sebagaimana sabda Nabi saw.
Artinya :
”Barang siapa ditanya tentang sesuatu ilmu, kemudian menyembunyikan (tidak mau memberikan jawabannya), maka Allah akan mengekangkan (mulutnya), kelak dihari kiamat dengan kekangan ( kendali) dari api neraka”. (HR Ahmad)

Marilah kawan kita menuntut Ilmu Pengetahuan, dengan Ikhlas dan tekad mengamalkan dan menyumbangkan kepada masyarakat, agar kita semua dapat mengenyam hasil dan buahnya...

Sumber : http://ivanseptana05.blogspot.com/2010/12/menuntut-ilmu-menurut-pandangan-islam.html


PANDANGAN ISLAM TERHADAP ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI
Manusia merupakan mahluk ciptaan Allah SWT yang paling sempurna, yang membedakan kesempurnaan manusia dengan mahluk-mahluk lainnya adalah akal, Allah SWT membekali akal bagi manusia untuk keberlangsungan hidupnya, agar tercipta suasana yang kondusif, sehingga sesuai dengan tujuan diciptakannya manusia yaitu sebagai Khalifah fil-ard ( wakil Tuhan di bumi), yang membawa misi Rahmatan lil’alamin (kasih sayang bagi seluruh alam).

Dengan akal pikirang yang telah diberikan oleh Allah SWT, manusia dituntut untuk mengembangkannya, yaitu dengan jalan mencari ilmu pengetahuan. Sebagaimana yang terdapat dalam sabda-sabda RasulNya, yaitu Muhammad SAW, yang megumandangkan kewajiban mencari ilmu bagi umat Muslim. Rasulullah SWA memprioritaskan umatnya untuk mencari ilmu syar’i, yaitu demi pembentukan sikap dan prilaku yang mengandung unsur Akhlakul Karimah.

Dewasa ini banyak perkembangan-perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, semisal dalam bidang elektronika ada televisi, radio, komputer. Bidang otomotif ada mobil, pesawat terbang, kapal. Bidang kedokteran ada bayi tabung, cangkok ginjal, cloning, dan lain sebagainya. Yang semakin lama semakin berkembang.

Berkenaan dengan perkembangan ilmu pengetahuan tersebut, maka umat Islam yang notabennya memprioritaskan pendidikannya dalam lingkup syar’i akan jauh ketinggalan dibandingkan dengan orang-orang barat yang mayoritas nonMuslim. Dengan pendalaman ilmu-ilmu syar’i saja, umut Muslim akan terpuruk, dan selalu di jajah dengan adanya kebutuhan-kubutuhan yang harus dipenuhi dari hasil ciptaan dan karya orang-orang barat. Maka dari itu, kita akan mencoba mengkaji pandangan Islam tentang ilmu pengetahuan dan teknologi demi meningkatkan pemahaman Islam yang secara totalitas dan tidak parsial, dan juga demi kemajuan umat Islam dalam segala bidang ilmu.

Pertanyaan yang sering terlontar dari benak orang-orang adalah:

1.    Apa pengertian ilmu pengetahuan dan teknologi?
2.    Bagaimana pandangan Islam terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi?

Maka setitik jawaban telah kami dapatkan terhadap pertanyaan di atas. Yakni;

1.    Pengertian ilmu pengetahuan
Dalam kehidupan manusia banyak mnedapat pengalaman, dari pengalaman itu didapatkan sejumlah pengetahuan atau knowledge yang memiliki sifat keajegan tertentu tanpa kemampuan untuk menjelaskan sebab-sebabnya secara terinci dan rasional. Pengetahuan demikian banyak macamnya dalam kehidupan ini. Tiap manusia berbeda jumlah dan macamnya pengalaman yang dimiliki tersebut, tanpa ada kemampuan untuk menjelaskannya.

Kalau ingin mampu memberikan penjelasan maka masih diperlukan kegiatan yang lebih intens untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih utuh daripada umumnya pengetahuan yang ada. Untuk itu perlu didukung oleh sejumlah kegiatan berikutnya yang lebih serius guna mendapatkan intisari pengetahuan tersebut hingga dapat dipedomani untuk perencanaan, prediksi-prediksi maupun kontrol atas kebenarannya.

Kombinasi usaha mencari pendekatan rasional dan mengumpulkan fakta-fakta empiris inilah yang bias disebut dengan pendekatan mendapatkan pengetahuan dengan metode keilmuan. Melalui metode keilmuan akan didapatka “ilmu” dari sejumlah “pengetahuan”, yang memiliki cirri-ciri tertentu, sebagai pembeda dengan pengetahuan-pengetahuan lainnya yang belum teruji. (pengetahuan = knowledge, sedang ilmu = science atau sains). Jadi ilmu adalah pengetahuan yang memenuhi cirri-ciri tertentu dan disinilah dibakukan menjadi “ilmu pengetahuan”, yang kedua terminology tersebut digabung menjadi satu kata. Dapat juga dirumuskan bahwa ilmu ialah sebagai “pengetahuan yang ilmiah”.

Sedangkan teknologi adalah penerapan ilmu-ilmu dasar untuk memecahkan masalah guna mencapai suatu tujuan tertentu. Adapun tujuan manusia dalam kehidupan ini dapat menjadi banyak sekali, yang kesemuanya itu ditentukan oleh niatnya, sebagaimana yang disebut dengan “semua amal itu tergantung pada niatnya”.

Kedudukan ilmu pengetahuan sendiri sebagai ilmu dasar jelas netral. Setelah digunakan manusia untuk diterapkan guna mencapai suatau tujuan, barulah dapat dinilai apakah penerapan itu dapat dibenarkan oleh agama atau tidak.

2.    Pandangan Islam terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi
Dengan uraian secara deskriptif di atas, maka judul makalah ini dapat didekati agak menjadi lebih jelas yang menghubungkan antara ajaran agama Islam dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Agama Islam banyak memberikan penegasan mengenai ilmu pengetahuan baik secara nyata maupun secara tersamar, seperti yang disebut dalam surat Al-Mujadalah ayat 11 yang artinya sebagai berikut :
"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan."

Maksudnya sebagai berikut : sama-sama dari kelompok yang beriman, maka Allah SWT akan masih meninggikan derat bagi mereka, ialah mereka yang berilmu pengetahuan.

Orang berilmu pengetahuan berarti menguasai ilmu dan memilki kemampuan untuk mendapatkan dan menjelaskannya. Untuk mendapatkan ilmu pengetahuan diperlukan antara lain adanya sarana tertentu, yakni yang disebut “berpikir”. Jelasnya berpikir pada dasarnya merupakan suatu proses untuk mendapatkan ilmu pengetahuan.

Oleh karena itu, apabila di dalam Al-Qur’an sering-sering disebut dengan kata-kata “berpikir” atau “berpikirlah” dan sebagainya. Dalam arti langsung maupun dalam arti sindiran dapat kita artikan juga sebagai perintah untuk mencari atau menguasai ilmu pengetahuan.

Dalam Al-qur’an dan Hadist sangat banyak ayat-ayat yang menerangkan hubungan tentang ajaran Islam dengan ilmu pengetahuan serta pemanfaatannya yang kita sebut Iptek. Hubungan tersebut dapat berbentuk semacam perintah yang mewajibkan, menyurum mempelajari, pernyataan-pernyataan, bahkan ada yang berbentuk sindiran. Kesemuanya itu tidak lain adalah menggambarkan betapa eratnya hubungan antara Islam dan Iptek sebagai hal yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Tegasnya hubungan antara Islam dan Iptek adalah sangat erat dan menyatu.

Dalam pandangan Islam, Iptek juga di gambarkan sebagai cara mengubah suatu sumber daya menjadi sumberdaya lain yang lebih tinggi nilainya, hal ini tercoverr dalam surat Ar-Ra’d syat 11, yaitu :
"Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri."

Dari ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa, pada dasarnya Al-Qur’an telah mendorong manusia untuk berteknologi supaya kehidupan mereka meningkat. Upaya ini harus merupakan rasa syukur atas keberhasilannya dalam merubah nasibnya. Dengan perkataan lain, rasa syukur atas keberhasilannya dimanifestasikan dengan mengembangkan terus keberhasilan itu, sehingga dari waktu kewaktu keberhasilan itu akan selalu maningkat terus.

Pada masa Nabi sudah ada penemuan-penemuan yang bisa dinamakan dengan Iptek, sepertihalnya Iptek dalam dunia pertanian. Para sahabat Nabi pernah melalukan pembuahan buatan (penyilangan atau perkawinan) pada pohon kurma. Lalu Nabi menyarankan agar tidak usah melakukannya. Kemudian ternyata buahnya banyak yang rusak dan setelah itu dilaporkan kepada Nabi, maka Nabi berpesan :
Abirruu antum a’lamu biumuuri dunyaakum” (lakukanlah pembuahan buatan! Kalian lebih mengetahui tentang urusan dunia kalian).

Di dalam Al-Qur’an disebutkan juga secara garis besar, tentang teknologi. Yaitu tentang kejadian alam semesta dan berbagai proses kealaman lainnya, tentang penciptaan mahluk hidup, termasuk manusia yang didorong hasrat ingin tahunya, dipacu akalnya untuk menyelidiki segala apa yang ada di sekelilingnya, meskipun Al-Qur’an bukan buku kosmologi, atau biologi, atau sains pada umumnya, namun Al-Qur’an jauh sekali dalam membicarakan teknologi.

Dari beragam uraian di atas bahwasanya kita dapat melihat sendiri bagaimana pandangan Islam terhadap Iptek. Dalam pedoman utamanya (Al-Qur’an), banyak disebutkan sesuatu hal yang berkaitan dengan Iptek, hal ini menunjukkan bahwa Islam sangat erat sekali dengan Iptek. Jadi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ini merupakan wujud dari implikasi Al-Qur’an yang sebenarnya. Banyak seruan-seruan di dalamnya yang menganjurkan manusia untuk berfikir dan mengembangkan potensinya dalam pengetahuan. Namun satu hal yang sangat disayangkan, umat muslim sangat rendah dalam bidang Iptek, sehingga ketinggalan perkembangan dengan orang-orang non muslim. Semoga dengan ini umat Islam sadar dan mau mengembangkan pengetahuannya dalam berbagia hal, sehingga menjadi umat yang berkualitas dengan adanya ketakwaan dan pengetahuan yang ditinggi.

Nah, dengan demikian dapatlah kita tarik kesimpulan sebagai berikut:
  1.  Ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) adalah keilmuan yang tinggi yang dimiliki oleh seseorang dan mampu menjadi alat untuk menyelesaikan masalah. 
  2.  Pandangan Islam terhadap Iptek adalah Iptek merupakan suatu hal yang tidak bisa ditinggalkan oleh seseorang, karena sangat pentingnya Iptek, maka hal tersebut sering disebut dalam Al-Qur’an. dalam arti Islam sangat menganjurkan pengembangan Iptek.

Sumber : http://porseni9.blogspot.com/2010/10/pandangan-islam-terhadap-ilmu.html


Ilmu Pengetahuan Dalam Perspektif Islam

Islam adalah satu-satunyanya agama samawi yang memberikan perhatian besar terhadap ilmu pengetahuan. Perhatian ini dibuktikan melalui turunnya wahyu pertama QS al-Alaq 1-5. Sebagian mufasirin menyatakan bahwa ayat tersebut sebagai proklamasi dan motifasi terhadap ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, kita harus memberikan skala prioritas yang tinggi terhadap ilmu pengetahuan. Tanpa itu, kita akan terus daitur, dijajah, dan di dekte oleh bangsa lain yang lebih tinggi kemajuan ipteknya. Dengan kemajuan iptek kita dapat menyejahterakan kehidupan umat manusia, dan mengelola alam dengan baik.

Menarik sekali apa yang dinyatakan oleh seorang cendekiawan Muslim, Isma’il Raji Al-Faruqi dalam bukuya yang berjudul Tauhid yang berbicara ilmu pengetahuan dari sudut pandang tauhid. Menurutnya, sebagai prinsip metodologi, tauhid terdiri dari tiga prinsip. Pertama, penolakan terhadap segala sesuatu yang tidak berkaitan dengan realitas/kenyataan. Prinsip ini meniadakan dusta dan penipuan dalam Islam dan menjadikan segala sesuatu dalam agama terbuka untuk diselidiki. Penyimpangan dari realita sudah cukup untuk membatalkan suatu item dalam Islam, apakah itu tentang hokum, etika, atau pernyataan tentang dunia. Prinsip ini melindungi kaum Muslimin dari opini dan pernyataan yang tidak teruji dan tidak bisa dikonfirmasikan baik dalam segi ilmu pengetahuan maupun yang lainnya. Oleh karena itu, seorang muslim dapat didefinisikan sebagai orang yang tidak menyatakan apa-apa kecuali kebenaran sekalipun dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri. Menyembunyikan dan mencampuradukkan kebenaran dan kesesatan dalam Islam sangat dibenci dan juga dikutuk.

Prinsip kedua adalah penolakan kontradiksi-kontradiksi hakiki. Prinsip ini melindungi kaum Muslimin dari kontradriksi di satu pihak dan dari paradox di pihak lain. Islam mengajarkan bahwa pasti ada jalan keluar dari kontradiksi dan sebaik-baik solusi adalah solusi yang ditawarkan oleh Alloh SWT dalam wahyu-Nya. Hal yang sama berlaku jika terjadi kontradiksi antara wahyu dan akal. Jika kasusnya demikian, Islam menyatakan bahwa kontradiksi tersebut tidaklah ultimat. Dalam hal ini Islam menyarankan agar penyelidik meninjau kembali pemahamannya atas wahyu, atau penemuan-penemuan ilmiyahnya atau kedua-duanya.

Adapun prinsip yang ketiga adalah tauhid sebagai kesatuan kebenaran, yaitu keterbukaan bukti yang baru atau yang bertentangan. Prinsip ini mendorong kaum Muslimin kepada sikap rendah hati intelektual. Ia memaksa untuk menyantumkan dalam penegasan atau penyangkalannya ungkapan Wallohua’lam (Alloh yang lebih tahu) karena dia yakin bahwa kebenaran adalah milik Alloh dan lebih besar dari yang dapat dikuasainya. Alloh adalah pencipta alam yang mana manusia memperoleh pengetahuannya. Obyek pengetahuan adalah pola-pola alam yang merupakan hasil karya-Nya. Alloh mengetahui secara pasti, sebab Dia-lah penciptanya dan sumber wahyu. Dia memberikan kepada manusia sebagian dari pengetahuan-Nya, dan pengetahuan-Nya adalah mutlak dan universal.

Membahas masalah ilmu pengetahuan dalam Islam berarti kita membicarakan kedudukan ilmu pengetahuan dalam pandangan Islam serta pemberdayaan ilmu pengetahuan untuk kepentingan dakwah Islam. Islam mengajarkan kepada kita memikirkan ayat-ayat Alloh baik ayat Qouliyah (Al Quran dan Sunnah) maupun ayat-ayat Kauniyah (fenomena alam semesta), dimana di dalamnya syarat muatan multi iptek. Dalam Al-Quran juga banyak kita jumpai ayat-ayat yang menyuruh kita untuk mempelajari, meneliti, dan memperhatikan ilmu pengetahuan. Imam Al Ghazali telah melakukan penelitian terhadap dalil dalil Al-Quran dan Sunnah sebagai hukum formal, dan sampai pada satu kesimpulan bahwa, dalam kitab Al Quran terdapat 250 ayat tentang masalah legislatif, dan terdapat 763 ayat atau 12 % dari jumlah ayat Al Quran yang langsung berhubungan dengan ilmu pengetahuan (Sidi Gazalba: 1970, hlm. 155).Belum lagi tentang Hadits-hadits yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan. Terdapat banyak Hadits yang diriwayatkan dari berbagai sumber tentang perlunya menuntut ilmu serta manfaat-manfaatnya.

Diantaranya ayat-ayat Al Quran yang membahas ilmu pengetahuan antara lain: QS Al Alaq 1-5, Almujadilah/58:11, Azzumar/39:9, Al Ghasiyah/88:17-20, Ali Imron/3:190-191, dan lain-lain. Khusus dalam Al Quran surat Al Ghasiyah:17-20, kita diingatkan Alloh, apakah kita tidak meneliti bagaimana onta diciptakan. Ibrohnya kita diberi tugas untuk mempelajari dan mengembangkan ilmu biologi. Demikian pula kita diperintahkan untuk mengamati bagaimana langit ditinggikan. Artinya, kita harus mempelajari ilmu tentang kosmologi, ilmu alam, astronomi, fisika, dan lain-lain. Kemudian kita juga disuruh memikirkan tentang bagaimana gunung-gunung ditegakkan. Maknanya kita juga diperintahjkan untuk mempelajari ilmu bumi, geofisika, geologi, dan lain-lain yang kesemuanya itu termasuk dalam sains modern.

Di dalam Al-Quran juga disebutkan kata ‘ilm’ dalam berbagai bentuk dan artinya sebanyak 854 kali. Ini menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan mendapatkan perhatian yang luar biasa dalam Islam. Sebagai bukti bahwa Al Quran mempunyai muatan ilmu pengetahuan, antara lain: teori tentang expanding universe (kosmos yang mengembang) Qs. Adz Dzariyat/51:4. Matahari adalah planet yang bercahaya, sedangkan bulan adalah pantulan dari cahaya matahari (QS Yunus/10:5). Zat hijau daun (Chlorofil) yang berperan mengubah tenaga radiasi matahari menjadi tenaga kimia melalui proses fotosintesis, sehingga menghasilkan energy (Qs Yasin/36:30). Bahwa manusia diciptakan dari sari tanah berupa sperma laki laki dan setelah fertilisasi (pembuahan) berdempet di dinding rahim (Qs At Thoriq/86:6-7, dan QS Al Lail/92:2). Disamping itu masih banyak lagi paradigma sains yang diungkap dalam Al Quran sebagaimana ditulis Prof. Dr. Syeikh Thanthawi Jawhari dalam bukunya Al Quran Wa Ulumul Asyriyyah ( AlQuran dan ilmu Pengetahuan Modern). Oleh karena itu, Dr Maurice Bucale dalam bukunya La Bible Le Coran et La Science (Al Quran, Bibel, dan sains Modern) dalam kesimpulannya menyatakan bahwa Al Quran mempunyai pernyataan-pernyataan ilmiyah.

Dalam perkembangan sejarah Islam, Al Quran juga mempunyai pengaruh yang luar biasa terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Ini terbukti dengan prestasi spektakuler yang diraih oleh ilmuwan Islam di masa silam. Disebutkan bahwa selama 3,5 abad berturut-turut dari abad ke 8 sampai 12 M, para ilmuwan Islam telah berhasil menempati jenjang terhormat dan menciptakan dasar-dasar ilmu pengetahuan pada masa keemasan Islam, antara lain:
- Jabir bin Hayyan dikenal dnegan nama Gebber adalah ahli kimia dan metalurgi dari Saudi Arabia.
- Al-Khawarizmi (Muhammad Ibn Musa Al Khawarizmi) ppakar matematika dan astronomi dari Baghdad.
- Ibnu Khaldun, ahli sosiologi dan sejarah
- Al Razi (Abu BAkar Muhammad Ibn Zakaria atau razes) ahli kedokteran dan filsafat yang mendapat julukan Hippocrates Islam dan Socrates Islam.
- Al Mas’udi ( Abu Hasan Ali Al Mas’udi) ahli sejarah dan geografi dari Baghdad
- Al Biruni ( Abu Rayyan Muhammad Ibnu ahmad Al Biruni) ilmuwan paripurna mulai matematika, astrnomi, fisika, kedokteran, hingga sejarah dan Geografi.
- Ibnu Sina ( Abu Ali Ibnu Sina) atau aviciena yang dijuluki prince of physicians.

Pengembangan eksperimen-eksperimen ilmu pengetahuan yang berdasarkan paradigma Al -Quran akan memperkaya hasanah ilmu pengetahuan umat manusia. Dengan demikian ketika menaruh perhatian serius pada ayat-ayat Al-Quran dan Hadits tentang ilmu pengetahuan, maka kita akan memiliki sejumlah ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal tersebut berarti Al-Quran telah membuka nuansa berfikir kita untuk menciptakan Iptek. Disinilah kelebihan manusia, dengan akal dan pikirannya berjihad dan berijtihad untuk kepentingan umat dengan menggunakan Iptek sebagai mediatornya. Adapun pemberdayaan iptek untuk memperkuat posisi kita sebagai Khalifah Tuhan di muka bumi dengan tugas utamanya adalah untuk beribadah kepada Allah, dan untuk kemakmuran ( Qs Hud/11:61). Bukan untuk hal-hal yang dilarang Alloh (Qs Al Qashash/28:77).

Dari pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa Al Quran dan Sains telah menjadi penggerak utama manusia untuk mengeksplorasi ilmu pengetahuan. Adapun pemberdayaan Iptek menurut Islam adalah bagaimana mewujudkan kemakmuran bagi umat manusia. Karena itu pemanfaatan Iptek tidak boleh dipisahkan dari agama. Bahkan harus sejalan dengan moralitas dan etika Islam.

Wallohua’lam bissowab...

Sumber : http://anti-islamlib.com/2009/10/ilmu-pengetahuan-dalam-perspektif-islam/


Wallahu a’lam bish-shawabi... (hanya Allah yang Mahatahu Kebenarannya)
Catatan ini kami tujukan untuk kami pada khususnya
dan untuk semua pembaca pada umumnya...
Jika terjadi kesalahan dan kekurangan disana-sini dalam catatan ini...
Itu hanyalah dari kami...
dan kepada Allah SWT., kami mohon ampunan...

Semoga Allah SWT. memberi kekuatan untuk kita amalkan... Amin
Wassalam...

Semoga Bermanfaat dan bisa kita ambil hikmahnya... Amin
Silahkan COPY atau SHARE ke rekan anda jika menurut anda notes ini bermanfaat...

Catatan :
Lampirkan sumbernya ya... Syukron

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar