Jumat, 25 Februari 2011

Bagaimana Menyikapi Tahun Baru Masehi?

Oleh: Mishad Khoiri

Tahun baru 2011 M (edit pen) sudah di penghujung mata. Walaupun tiap tahun kita menjumpai tahun baru, namun tahun baru masehi kali ini agak lain. Mengapa? Sebab tahun baru 2011 M (edit pen) ini beriringan dengan tahun baru Hijriyah (edit pen). Dengan datangnya beberapa tahun baru tersebut, beragam cara masyarakat untuk menyambutnya. Fakta membuktikan masyarakat dunia begitu antusias menyambut tahun baru, terutama tahun baru masehi.

Diantara kebiasaan orang dalam memasuki tahun baru masehi di berbagai belahan dunia adalah dengan merayakannya, seperti begadang semalam suntuk, pesta kembang api, tiup terompet pada detik-detik memasuki tahun baru, wayang semalam suntuk, dan lain-lain. Sebenarnya bagaimana bagaimana sejarah tentang tahun baru masehi dan bagaimana Islam memandang perayaan tahun baru masehi?


Sejarah Tahun Baru MasehiTahun baru masehi itu sebenarnya berhubungan dengan keyakinan agama Nasrani. Masehi adalah nama lain dari Isa Almasih dalam keyakinan Nasrani. Menurut catatan di Encarta Reference Library Premium 2005, orang pertama yang membuat penanggalan kalender (penanggalan matahari) adalah seorang kaisar Romawi yang terkenal bernama Gaisus Julius Caesar. Itu dibuat pada tahun 45 SM jika mengunakan standar tahun yang dihitung mundur dari kelahiran Yesus Kristus.

Tapi pada perkembangannya, ada seorang pendeta Nasrani yang bernama Dionisius yang kemudian memanfaatkan penemuan kalender dari Julius Caesar ini untuk diadopsi sebagai penanggalan yang didasarkan pada tahun kelahiran Yesus Kristus. Itu sebabnya, penanggalan tahun setelah kelahiran Yesus Kristus diberi tanda AD (bahasa Latin: Anno Domini yang berarti: in the year of our lord) alias Masehi. Sementara untuk jaman prasejarahnya disematkan BC (Before Christ) alias SM (Sebelum Masehi)

Pope (Paus) Gregory III kemudian memoles kalender yang sebelumnya dengan beberapa modifikasi dan kemudian mengukuhkannya sebagai sistem penanggalan yang harus digunakan oleh seluruh bangsa Eropa, bahkan kini di seluruh negara di dunia dan berlaku umum bagi siapa saja. Kalender Gregorian yang kita kenal sebagai kalender masehi dibuat berdasarkan kelahiran Yesus Kristus dalam keyakinan Nasrani. “The Gregorian calendar is also called the Christian calendar because it uses the birth of Jesus Christ as a starting date.”, demikian keterangan dalam Encarta.

Di zaman Romawi, pesta tahun baru adalah untuk menghormati Dewa Janus (Dewa yang digambarkan bermuka dua-ini bukan munafik maksudnya, tapi merupakan Dewa pintu dan semua permulaan. Jadi mukanya dua: depan dan belakan, depan bisa belakang bisa. Kemudian perayaan ini terus dilestarikan dan menyebar ke Eropa (abad permulaan Masehi). Seiring muncul dan berkembangnya agama Nasrani, akhirnya perayaan ini diwajibkan oleh para pemimpin gereja sebagai satu perayaan “suci” sepaket dengan Natal. Itulah sebabnya mengapa kalo ucapan Natal dan Tahun baru dijadikan satu: Merry Christmas and Happy New Year.


Hukum Merayakan Tahun Baru Masehi
Berdasarkan kaidah fiqih dalam ajaran agama kita, bahwa hukum asal suatu perbuatan adalah terikat dengan hukum syara (syariat Islam). Itu sebabnya, sebelum melakukan suatu perbuatan kita harus tahu apakah perbuatan tersebut dihukumi sebagai perbuatan yang dibolehkan, diwajibkan, disunnahkan, diharamkan atau dihukumi sebagai makruh.
Dari sejarah tahun baru masehi di atas diketahui, bahwa merayakan tahun baru masehi adalah bukan berasal dari budaya kita, kaum muslimin. Tapi sangat erat dengan keyakinan dan ibadah kaum Nasrani. Jadi melakukan sebuah perbuatan yang diniatkan untuk merayakan tahun baru masehi dihukumi haram oleh sebagian besar ulama.
Di antara ayat yang menyebutkan secara khusus larangan menyerupai hari-hari besar mereka adalah firman Allah SWT dalam surat Al Furqan: 72.:
"Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya."

Ayat ini berkaitan dengan salah satu sifat para hamba Allah yang beriman. Ulama-ulama Salaf seperti Ibnu Sirin, Mujahid dan ar-Rabi’ bin Anas menafsirkan kata “az-Zuura” (di dalam ayat tersebut) sebagai hari-hari besar orang kafir. Itu artinya, kalau sampai seorang muslim merayakan tahun baru masehi berarti melakukan persaksian palsu terhadap hari-hari besar orang kafir. Naudzubillahi min dzalik. Padahal, kita sudah punya hari raya sendiri, sebagaimana dalam hadits yang shahih dari Anas bin Malik ra, dia berkata,
"Saat Rasulullah Saw. datang ke Madinah, mereka memiliki dua hari besar ('Ied) untuk bermain-main. Lalu beliau bertanya, "Dua hari untuk apa ini?" Mereka menjawab, "Dua hari di mana kami sering bermain-main di masa jahiliyyah". Lantas beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah telah menggantikan bagi kalian untuk keduanya dua hari yang lebih baik dari keduanya: Iedul Adha dan Iedul Fithri" (Dikeluarkan oleh Imam Ahmad di dalam Musnadnya, No. 11595, 13058, 13210)

Umar Ibn Khathab berkata:
"Janganlah kalian mengunjungi kaum musyrikin di gereja-gereja (rumah-rumah ibadah) mereka pada hari besar mereka karena sesungguhnya kemurkaan Allah akan turun atas mereka" (Dikeluarkan oleh Imam al-Baihaqy No. 18640)

Umar ra. berkata lagi,
"Hindarilah musuh-musuh Allah pada momentum hari-hari besar mereka"  (ibid, No. 18641)

Dalam keterangan lain, seperti dari Abdullah bin Amr bin al-Ash ra, dia berkata,
"Barangsiapa yang berdiam di negeri-negeri orang asing, lalu membuat tahun baru dan festival seperti mereka serta menyerupai mereka hingga dia mati dalam kondisi demikian, maka kelak dia akan dikumpulkan pada hari kiamat bersama mereka" ('Aun al-Ma'bud Syarh Sunan Abi Daud, Syarh hadits no. 3512)

Berkaitan dengan larangan menyerupai suatu kaum (baik ibadahnya, adat-istiadatnya, juga gaya hidupnya), Rasulullah SAW. bersabda:
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka” (HR Imam Ahmad dalam Musnad-nya jilid II, hlm. 50)

At-Tasyabbuh secara bahasa diambil dari kata al-musyabahah yang berarti meniru atau mencontoh, menjalin atau mengaitkan diri, dan mengikuti. At-Tasybih berarti peniruan. Dan mutasyabihah berarti mutamatsilat (serupa). Dikatakan artinya serupa dengannya, meniru dan mengikutinya. Tasyabbuh yang dilarang dalam al-Quran dan as-Sunnah secara syar’i adalah menyerupai orang-orang kafir dalam segala bentuk dan sifatnya, baik dalam aqidah, peribadatan, kebudayaan, atau dalam pola tingkah laku yang menunjukkan ciri khas mereka. Termasuk perilaku mereka dalam merayakan tahun baru masehi.


Evaluasi Diri di Tahun Baru
Sebenarnya awal tahun baru lebih cocok digunakan untuk ber-muhasabah (mengevaluasi diri). Dalam pandangan Islam, untuk mengevaluasi diri selama ini sudah ada tuntunannya dalam al-Quran, sebagaimana firman Allah SWT:
“Demi Waktu. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran”  (QS al-Ashr [103] 1-3)

Rasulullah SAW. bersabda:
“Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang diberi panjang umur dan baik amalannya, dan sejelek-jeleknya manusia adalah orang yang diberi panjang umur dan jelek amalannya.” (HR Ahmad)

Orang yang pasti beruntung adalah orang yang mencari kebenaran, orang yang mengamalkan kebenaran, orang yang mendakwahkan kebenaran dan orang yang sabar dalam menegakkan kebenaran. Mengatur waktu dengan baik agar tidak sia-sia adalah dengan mengetahui dan memetakan, mana yang wajib, sunah, haram, mana yang makruh, dan mana yang mubah.

Itu artinya perubahan waktu ini harusnya kita jadikan momentum (saat yang tepat) untuk mengevaluasi diri. Jangan malah hura-hura bergelimang kesenangan di malam tahun baru masehi. Itu sebabnya, Rasulullah SAW. mengingatkan tentang dua hal yang menjadikan manusia lupa diri. Sabda beliau SAW.:
“Ada dua nikmat, dimana manusia banyak tertipu di dalamnya; kesehatan dan kesempatan.” (HR Bukhari)

Sebab, kita tidak akan diberi kesempatan ulang untuk berbuat baik atau bertobat, bila kita sudah meninggalkan dunia ini. Firman Allah SWT.:
"Maka pada hari itu tidak bermanfaat (lagi) bagi orang-orang yang zalim permintaan uzur mereka, dan tidak pula mereka diberi kesempatan bertaubat lagi". (Ar Rum: 57)

Di tahun baru ini selayaknya, kita sebagai muslim yang taat, mengintrospeksi diri dengan semua apa-apa yang telah kita perbuat. Dan memilih semua bentuk amalan yang baik untuk tetap kita pertahankan dan kita tingkatkan porsi amalan yang baik untuk kita kerjakan. Dan meninggalakan semua perbuatan yang tidak bermanfaat, baik untuk diri kita ataupun orang sekitar kita.

Di tahun baru ini, ada baiknya kita senantiasa berusaha untuk menjadi hamba Allah SWT yang taat akan perintahnya, dengan menjalankan semua kewajiban dan menjauhi segala larangannya. Allah SWT telah berfirman bahwa manusia adalah hambanya yang memiliki tugas untuk beribadah. Kalaulah di tahun-tahun lalu kita masih sering melakukan berbagai kekurangan, maka marilah kita kejar kekurangan-kekurangan itu dengan semangat memperbaiki diri menuju kesempurnaan, baik itu dalam beribadah maupun bekerja.

Jika di masa-masa lalu masih banyak berbagai kemaksiatan yang kita lakukan, maka marilah kita ganti kemaksiatan itu dengan semangat memperbanyak amalan-amalan saleh. Kapan lagi kita memperbaiki diri, kalau bukan dimulai dari sekarang? Allah SWT tidak menjadikan kehidupan didunia ini abadi, firmannya dalam alqur’an, Artinya :
"Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu Muhammad, maka jika kalau kamu mati, apakah mereka akan kekal? Tiap-tiap bernyawa akan merasakan mati, kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kepada kamilah kamu sekalian dikembalikan." (Surat al-Anbiya 34-35)

Ayat diatas sungguh sangat jelas menerangkan, bahwa kehidupan di dunia ini tidak kekal, dan semua yang bernyawa pasti akan merasakan kematian.

Jika demikian untuk apalagi kita berlama-lama dalam kubangan kemaksiatan, dan untuk apalagi kita menunggu hari esok untuk berbuat amalan soleh. Dan bukankah kita sudah tahu bahwa ajal manusia adalah rahasia Allah SWT semata. Firmannya dalam al-Qur’an menyatakan, Artinya :
"Tiap-tiap umat memiliki batasan waktu, maka apabila telah datang waktunya mereka tidak akan mengundurkannya barang sesaatpun, dan tidak dapat pula memajukannya."

Dengan ayat ini kita dapat memahami bahwa umur kita akan terus berjalan seiring jarum jam berputar, dan kesempatan tidak akan pernah mengiringi putaran jarum jam, dan yang pasti kesempatan itu? tidak akan pernah ada untuk kedua kalinya. Ini berarti umur kita bukannya semakin bertambah, tetapi sebaliknya dari tahun ketahun umur kita semakin berkurang.

Oleh sebab itu marilah kita isi hidup kta ini dengan memperbanyak amalan soleh, belajar dengan giat, bekerja dengan ikhlas, dan beribadah dengan hanya mengharap ridho Allah SWT semata. Sekarang kita masih hidup, tetapi siapa tahu beso pagi kita akan mati. Sekarang kita masih dapat menikmati tahun baru hijriah, tetapi siapa tahu tahun depan kita akan mati.

Adalah satu riwayat yang menceritakan tentang anak Umar bin khatab r.a, kembali pulang dari sekolahnya sambil menghitung tambalan-tambalan yang melekat dibajunya yang sudah usang dan jelek. Dengan rasa kasihan umar sang Amirul mu’minin sebagai ayahnya mengirim sepucuk surat kepada bendaharawan negara, yang isinya minta agar beliau diberi pinjaman uang sebanyak 4 dirham, dengan jaminan gajinya bulan depan supaya dipotong. Kemudian bendaharawan itu mengirim surat balasan kepada umar, yang isinya demikian : wahai umar adakah engkau telah dapat memastikan bahwa engkau akan hidup sampai bulan depan?, Bagaimana kalau engkau mati sebelum melunasi hutangmu? Membaca surat bendaharawan itu, maka seketika itu juga umar tersungkur menangis, lalu beliau menasehati anakanya dan berkata :Wahai anaku, berangkatlah kesekolah dengan baju usangmu itu sebagaimana biasanya, karna akau tidak dapat memperhatikan umurku walaupun untuk satu jam. Sungguh, batasan umur manusia tidak ada yang mengetahuinya, kecuali hanya Allah SWT semata.

Oleh karna keterbatasan tersebut, dan karena rahasia Allah SWT semata, maka marilah kita pergunakan kesempatan hidup ini dengan meningkatkan taqwa kita kepadanya dan menambah semangat beramal ibadah yang lebih besar lagi. Kembali kepada masalah introspeksi diri dalam menyambut tahun baru hijriah, adalah sangat-sangat perlu bagi kita untuk berkaca diri, menilai dan menimbang amalan-amalan yang telah kita perbuat, penilaian dan penimbangan ini bukan hanya untuk mengetahui seberapa besar perbuatan kita. Tapi itu semua dilakukan untuk mengendalikan semua bentuk amalan perbuatan yang hendak kita lakukan dengan penuh pikiran, pertimbangan, dan pertanggungjawaban. Sebab dan terkadang manusia yang tidak pernah bercermin diri bagaikan binatang liar yang terlepas dari jeratan, ia akan berlari dengan sekencang-kencangnya dan melompat dengan sekuat tenaga tanpa menghiraukan kalau itu akan mebahayakannya kembali. Manusia yang demikian akan berbuat sekehendak hatinya, tanpa berpikir dan pertimbangan, yang pada akhirnya ia akan terjatuh di tempat yang sama dan meratapi perbuatannya dengan berulang-lang kali, sungguh malang nasibnya jika setiap tahun ia harus terjatuh dan terjatuh lagi di tempat yang sama.

Ada satu sabda nabi yang mengutarakan tentang perbuatan yang tercela, adalah sebagai berikut:
”Tanda kecelakaan itu ada empat, yaitu pertama, tidak mengingat ingat dosa yang telah lalu, padahal dosa-dosa itu tersimpan disisi Allah SWT. Kedua, menyebut nyebut segala kebaikan yang telah diperbuat padahal siapa pun tidak tahu apakah kebaikan kebaikan itu diterima atau ditolak. Ketiga, memandang orang yang lebih unggul dalam soal duniawi. Keempat, memandang orang yang lebih rendah dalam hal agama”.

Allah SWT berfirman,
"Aku menghendaki dia sedang dia tidak menghendaki diri-Ku, maka dia Aku tinggalkan?".
Sungguh sangat malang dan tiada ungkapan bagi manusia yang ditinggalkan sang Kholiq.
Akan tetapi Allah SWT, maha bijaksana, sehingga Ia tidak menghendaki hamba-hambanya terjerumus dalan kehancuran. Akan tetapi Allah SWT memberikan tuntunan hidup yang berupa agama Islam, yang di dalamnya terdapat ajaran-ajaran yang menuju kepada kebahagiaan dan keselamatan dunia dan akhirat.

Oleh sebab itu berbahagialah bagi mereka yang memperoleh nikmat umur yang panjang dan mengisinya dengan amalan-amalan yang baik dan perbuatan-perbuatan yang bijak. Rasulullah SAW bersabda : Artinya :
"Sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalannya". (HR Ahmad).

Suatu tindakan yang bijak, jika manusia berbuat salah kemudian ia sadar dan memperbaiki kesalahannya dengan berbuat amalan yang baik dengan komitmen tidak akan mengulangi kesalahannya itu.

Dapat kita simpulkan bahwa sebagai muslim yamg taat dengan ajaran tuhannya, hendaklah kita menyambut tahun baru ini dengan berbuat dan memperbaiki amalan-amalan kita di tahun lalu. Hidup manusia semakin hari semakin berkurang, maka layaknya manusia yang taat pada Tuhannya haruslah ia mempergunakan kesempatan hidupnya di dunia ini dengan sebaik mungkin. Karena memang ajal manusia rahasia Allah, dan jarum jam tidak akan pernah berbalik arah sudah sepantasnya manusia itu memperbaiki dirinya. Mudah-mudahan di tahun 2009 ini kita senantiasa dapat menjalaninya dengan baik dan amalan kita lebih meningkat dari tahun kemarin.

Amiin Ya Rabbal Alamiin...
Wallahua’lam...

Sumber : http://mishadonline.blogspot.com/2008/12/menyongsong-tahun-baru.html


Menyikapi Tahun Baru Masehi

Bagaimana kita Menyikpi Tahun Baru Masehi?
Sebagian besar manusia memiliki sebuah kebiasaan yang dianggap sebuah tradisi dunia dalam memasuki tahun baru di berbagai belahan dunia adalah dengan merayakannya, seperti begadang semalam suntuk, pesta kembang api, tiup terompet pada detik-detik memasuki tahun baru, wayang semalam suntuk bahkan tidak ketinggalan dan sudah mulai ngetrend di beberapa tempat diadakan dzikir berjama’ah menyongsong tahun baru. Namun apakah kita pernah mengetahui bagaimana Syariat Islam dalam hal ini ?

Bolehkah Merayakannya?
Tahun baru tidak termasuk salah satu hari raya Islam sebagaimana ‘Iedul Fitri, ‘Iedul Adha ataupun hari Jum’at. Bahkan hari tersebut tergolong rangkaian kegiatan hari raya orang-orang kafir yang tidak boleh diperingati oleh seorang muslim.

Suatu ketika seorang lelaki datang kepada Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam untuk meminta fatwa karena ia telah bernadzar memotong hewan di Buwanah (nama sebuah tempat), maka Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam menanyakan kepadanya:
“Apakah disana ada berhala sesembahan orang Jahiliyah?” Dia menjawab, “Tidak”. Beliau bertanya, “Apakah di sana tempat dirayakannya hari raya mereka?” Dia menjawab, “Tidak”. Maka Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Tunaikan nadzarmu, karena sesungguhnya tidak boleh melaksanakan nadzar dalam maksiat terhadap Alloh dan dalam hal yang tidak dimiliki oleh anak Adam”. (HR: Abu Daud dengan sanad yang sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan terlarangnya menyembelih untuk Alloh di tempat yang bertepatan dengan tempat yang digunakan untuk menyembelih kepada selain Alloh, atau di tempat orang-orang kafir merayakan pesta atau hari raya. Sebab itu berarti mengikuti mereka dan menolong mereka di dalam mengagungkan syi’ar-syi’ar kekufuran. Perbuatan ini juga menyerupai perbuatan mereka dan menjadi sarana yang mengantarkan kepada syirik. Apalagi ikut merayakan hari raya mereka, maka di dalamnya terdapat wala’ (loyalitas) dan dukungan dalam menghidupkan syi’ar-syi’ar kekufuran. Akibat paling berbahaya yang timbul karena berwala’ terhadap orang kafir adalah tumbuhnya rasa cinta dan ikatan batin kepada orang-orang kafir sehingga dapat menghapuskan keimanan.

Keburukan Yang Ditimbulkan

Seorang muslim yang ikut-ikutan merayakan tahun baru akan tertimpa banyak keburukan, diantaranya:
  • Merupakan salah satu bentuk tasyabbuh (menyerupai) dengan orang-orang kafir yang telah dilarang oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam.
  • Melakukan amal ketaatan seperti dzikir, membaca Al Qur’an, dan sebagainya yang dikhususkan menyambut malam tahun baru adalah pebuatan bid’ah yang menyesatkan.
  • Ikhtilath (campur baur) antara pria dan wanita seperti yang kita lihat pada hampir seluruh perayaan malam tahun baru bahkan sampai terjerumus pada perbuatan zina, Na’udzubillahi min dzaalika…
  • Pemborosan harta kaum muslimin, karena uang yang mereka keluarkan untuk merayakannya (membeli makanan, bagi-bagi kado, meniup terompet dan lain sebagainya) adalah sia-sia di sisi Alloh subhanahu wa ta’ala. Serta masih banyak keburukan lainnya baik berupa kemaksiatan bahkan kesyirikan kepada Alloh. Wallahu a’lam

Bagaimana kita menyikapi saat malam tahun baru tiba?
  1. Anggap saja hari itu seperti hari hari biasa.
  2. Ketimbang kita mengisi malam itu dengan kembang api atau bakar ayam, dll, lebih baik kita isi dengan memperbanyak baca alquran atau qiyamulail.
  3. Ada diri anda silahkan ada tanya hati anda!.

Sumber : http://kapmi-jakbar.blogspot.com/2009/12/menyikapi-tahun-baru-masehi.html


MENYONGSONG TAHUN BARU HIJRIYAH & MASEHI
Makna pergantian tahun.
Bagi seorang muslim, tahun baru adalah anugerah sekaligus ujian dari Allah Swt. Kita bersyukur masih diberi kesempatan untuk menyiapkan diri meraih sukses dunia akhirat di tahun baru ini.

Tahun baru adalah lembaran kosong yang harus diisi, apakah dengan tinta emas atau dengan tinta merah, diisi dengan amalan saleh atau dengan amalan salah. Oleh karena itu seyogianya pergantian tahun ini hendaknya dapat dimaknai suatu pergantian atau perpindahan menuju kondisi yang lebih baik, seperti perpindahan (hijrah) dari ”kebatilan” kepada ”kebenaran/haq” (yang disebut hijrah spiritual). Perubahan/perpindahan itu harus tetap dijiwai oleh kalimat tauhid, tetap meng-esakan Allah.

Dalam konteks kekinian, makna hijrah lebih kepada melakukan perubahan gaya hidup seperti perubahan perilaku, cara bertindak, perubahan cara berpikir dan perubahan qalbu/ hati. Dari perilaku yang kurang baik (kurang Islami) ke perilaku yang lebih baik (lebih Islami), dari perilaku kurang beribadah menjadi lebih beribadah. Untuk melakukan perubahan itu perlu dilakukan perenungan, introspeksi diri (tafakur), mawas diri, melihat apa yang sudah dilakukan dan menetapkan rencana perbaikan ditahun berikutnya agar menjadi pribadi yang selalu lebih baik dan lebih bermakna. Misalnya mencoba mengevaluasi dari aktivitas shalat, puasa, zakat dan lainnya. Dengan cara ini, maka kita akan mengetahui kelemahan/kekurangan yang ada.

Introspeksi.
Seperti diuraikan di atas, bahwa untuk melangkah ke depan yang lebih baik, kita perlu introspeksi, baru selanjutnya kita susun langkah-langkah strategis dimana kita hindari yang keliru dan salah. Bagi amalan-amalan yang telah baik, lebih kita tingkatkan lagi agar kita menjadi orang yang beruntung. Firman Allah Swt:
”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaknya setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan” . (QS.Al-Hasyr [59] :18).

Ayat ini mengisyaratkan agar kita melakukan evaluasi dan introspeksi terhadap perjalanan hidup yang telah kita lakukan, meneliti amalan yang telah lalu, menilai ketakwaan kita untuk mempersiapkan hari esok (akhirat).

Suatu ketika nabi Muhammad Saw kedatangan seorang laki-laki dan berkata kepada beliau agar memberikan wasiat kepadanya: ”Ya Rasulullah, berilah aku wasiat. ”Beliau bersabda: ”Kalau kamu ingin melakukan sesuatu, maka lihatlah akibatnya, kalau benar kerjakanlah, tetapi jikalau salah tinggalkanlah”.

Sementara itu, Khalifah Umar bin Khattab senantiasa berpesan :
”Perhitungkanlah dirimu sebelum engkau diperhitungkan orang”.

Waktu bertobat.
Analog dengan perjalanan hidup kita ialah perjalanan suatu bisnis dimana saat ini telah tiba waktunya untuk tutup buku dan menghitung laba rugi selama satu tahun. Bila laba, itu memang sudah sesuai dengan goal setting atau tujuan kita, namun bila rugi maka perlu diteliti, direnungi mengapa terjadi rugi, dicari sebab-sebabnya, apakah karena kesalahan, atau amalan jelek yang mendominasi atau karena sebab lain.

Marilah kita segera bertobat dan mengganti amalan jelek kita dengan amalan saleh/baik yang bermanfaat. Mulai kapan bertobat?. Mulai saat ini juga, karena kita tidak tahu kapan saatnya ajal menjemput kita. Ingatlah bahwa Allah tidak menjadikan kehidupan di dunia ini bersifat abadi, sebagaimana firman Allah di Al-Qur’an:
”Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun”. (QS. Al A’raf [7] : 34)

Sekarang kita masih hidup, tetapi siapa tahu kalau besok pagi kita mati. Sekarang kita masih dapat menikmati tahun baru, tetapi siapa tahu kalau tahun depan kita sudah berada di dalam kubur.

Apa saja yang kita lakukan di dunia ini, semuanya pasti akan diperhitungkan dan dimintai pertanggung jawaban dihadapan Allah Swt. Perhatikan firman Allah dalam surat Luqman [31] ayat 33 yang artinya:
”Wahai manusia!. Bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutlah pada hari yang (ketika itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya, dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikit pun. Sungguh, janji Allah pasti benar, maka janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kehidupan dunia, dan janganlah sampai kamu terperdaya oleh penipu dalam (mentaati) Allah”.

Kalau sekiranya pada tahun ini, kita telah terlanjur banyak melakukan kesalahan dan dosa, marilah kita segera memperbanyak istighfar, memohon ampunan kepada Allah dan berusaha sekuat tenaga untuk tidak menjerumuskan diri pada kesalahan yang sama di hari mendatang. Firman Allah di surat An-Nahl ayat 119:
”Kemudian, sesungguhnya Tuhanmu (mengampuni) orang yang mengerjakan kesalahan karena kebodohannya, kemudian mereka bertobat setelah itu dan memperbaiki (dirinya), sungguh, Tuhanmu setelah itu benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang”. (QS. An-Nahl [16] :119).

Pentingnya waktu.
Sementara kebaikan yang pernah kita lakukan hendaknya terus kita pelihara dan dikembangkan serta memohon kepada-Nya agar diberikan pertolongan dan kekuatan untuk bisa melakukan aktivitas kesalehan secara istiqamah dan lebih baik yang berdimensi ibadah ritual maupun ibadah sosial. Kita manfaatkan waktu sebaik-baiknya agar kita tidak tergolong orang-orang yang merugi. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
”Demi waktu. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran”. (QS. Al-Ashr [103])

By (the Token of) Time (through the Ages). Verity Man is in loss. Except such as have Faith, and do righteous deeds, and )join together) in the mutual teaching of Truth, and of Pattence and Constancy.

Ayat di atas mengidentifikasikan bahwa waktu adalah modal utama manusia. Apabila tidak diisi dengan kegiatan yang positif (amal saleh), maka ia akan berlalu begitu saja. Ia akan hilang dan ketika itu jangankan keuntungan diperoleh, modal pun telah hilang. Sayyidina Ali ra pernah berkata, yang artinya:
”Rezeki yang tidak diperoleh hari ini masih dapat diharapkan lebih dari itu diperoleh besok. Tetapi waktu yang berlalu, hari ini tidak mungkin dapat diharapkan kembali esok”.

Ayat selanjutnya merupakan perkecualian, yaitu bagi mereka yang melakukan empat kegiatan pokok, yaitu:
”Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh, yakni yang bermanfaat serta saling berwasiat tentang kebenaran dan saling berwasiat tentang kesabaran dan ketabahan”.

Iman adalah pembenaran hati atas apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Saw, intinya dapat disimpulkan dalam rukun iman yang enam itu.

Secara keseluruhan pesan terkandung dalam surat Al-Ashr ini : agar seseorang tidak hanya mengandalkan imannya saja tetapi juga amal solehnya, bahkan amal saleh pun bersama-sama iman belum cukup.

Iman dan amal soleh tanpa ilmu belum juga cukup.. Memang, ilmu memberi kekuatan yang menerangi jalan kita dan iman menumbuhkan harapan dan dorongan bagi jiwa kita. Ilmu menciptakan alat-alat produksi dan kelengkapannya, sedang iman menetapkan haluan yang dituju serta memelihara kehendak Allah Yang Suci.

Menurut surat Al-Ashr di atas, iman, amal saleh dan ilmu pun masih belum memadai. Memang ada orang cukup dan puas dengan ketiganya, tetapi ia tidak sadar bahwa kepuasan itu dapat menjerumuskannya atau menjemukan. Oleh karena itu, ia perlu selalu menerima nasihat agar lebih tabah, sabar sambil terus bertahan bahkan meningkatkan iman, amal dan pengetahuannya. Berkenaan di atas, Nabi Muhammad Saw bersabda:
”Sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang umurnya dan bagus amal perbuatannya. Dan seja-hat-jahatnya manusia ialah orang yang panjang umurnya dan jahat perbuatannya”. (HR Iman Ahmad).

Oleh karena itu, berbahagialah mereka yang memperoleh nikmat umur yang panjang dan mengisinya dengan amalan saleh, baik amaliyah yang berhubungan langsung dengan Maha Pencipta, maupun mu’asyarah/sosial antara sesama makhluk Allah, dan peningkatan ketakwaan. Sebaliknya celakalah mereka yang memperoleh nikmat umur panjang namun hanya dipergunakan untuk berbuat kejahatan dan perbuatan terlarang.

Menyikapi.
Menyadari betapa kecilnya kita bila dibandingkan dengan Pencipta Alam Semesta itu sendiri (rabb al-alamien), maka sudah selayaknya kita menyikapinya dengan sikap berserah diri, tunduk kepada-Nya. Betapa hal itu ditunjukkan Khalil Allah, kekasih Allah Swt, Nabi Ibrahim as, empat ribu tahun silam. Karena pengorbannya begitu besar kepada Allah, Nabi Ibrahim pun kemudian dijadikan Allah Swt sebagai teladan bagi umat yang datang kemudian. Namanya diabadikan begitu indah. Tidak ada orang dan nabi lain yang namanya begitu banyak disebut umat selain Nabi Muhammad Saw kecuali Nabi Ibrahim as.

Karenanya, memasuki tahun baru ini sikap yang bijak adalah selain memperbanyak amal saleh, juga menyingkirkan sifat kebinatangan seperti tamak, rakus dan sebagainya dan diganti dengan peningkatan tawakal, sebagaimana firman Allah ta’ala dalam Al-Qur’an:
“Barangsiapa yang mengerjakan kebajikan/amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” . (QS. An Nahl [16] : 97).

Husnul Khatimah.
Para arif bijaksana sepakat berpendapat bahwa ”hari ini ada dalam kemarin dan besok ada dalam hari ini”. Ungkapan ini mengandung makna bahwa yang kita dapatkan pada masa sekarang adalah sebagai buah dari apa yang kita lakukan di masa lalu. Dan apa-apa yang kita lakukan pada masa sekarang akan membuahkan hasil dimasa-masa yang akan datang. Dalam bahasa Jawa dan Inggris sering disebutkan:
"Abot entheng saka panggawene dhewe. Berat ringan itu akibat perbuatan sendiri. A hard or easy life is the result of one’s owns doing."
"Ngundhuh wohing pakarti. Memetik hasil perbuatannya. One receives the fruits of one’s own deeds."

Karenanya beruntunglah orang yang keadaannya pada masa sekarang lebih baik dari pada masa yang lalu.
Dan bodohlah orang yang kehidupannya di masa kini sama saja dengan di masa-masa yang lalu.
Dan celakalah orang yang kehidupannya pada hari ini lebih buruk atau lebih jelek dari pada masa silam.

Hasil tanaman amal shaleh tersebut di atas, dapat dipetik dan didapatkan, di hari tua kita ataupun kita temukan di akhirat kelak. Bila pada akhir hayat, kita temukan kehidupan yang baik, lebih dari pada di masa-masa muda kita atau di akhirat kita dapatkan nasib lebih baik dari pada yang kita dapatkan selama hidup di dunia, maka itulah disebut ”Husnul Khatimah”. Tapi sebaliknya, bila hari tua kita, keadaannya lebih menderita dari pada di masa muda kita atau di akhirat kita lebih sengsara dari pada kita hidup di dunia, maka itulah yang disebut ”Su’ul Khatimah”. Allah Swt berfirman dalam Al-Qur’an surat An-Najam sebagai berikut:
“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna (sesuai dengan perbuatannya)”. (QS. An-Najm [53] : 39-41)

Tips : resep untuk mencapai kesuksesan hidup.
Pertama, mengagungkan Allah swt sebagai sifat khas manusia dan memilih urusan Allah Swt di atas urusan lain. Kedua ketulusan dalam menjalankan setiap sisi kehidupan sebagai bagian dari pengabdian pada-Nya. Ketiga kesediaan untuk berbagi kebahagiaan kepada sesama, peduli pada lingkungannya, berani berkorban untuk orang lain.

Dalam suatu doa, Nabi Muhammad Saw mengatakan ;
”Ya Allah tak adalah kehidupan yang sebenar-benarnya selain kehidupan di akhirat”. (HR. Iman Bukhari).

Pemanfaatan hidup.
Menurut Nabi Saw, kehidupan di dunia yang sementara ini hanyalah sekedar tempat untuk mengumpulkan bekal untuk kehidupan di akhirat nanti. Karenanya Rasulullah Saw bersabda:
”Bekerjalah kamu untuk di duniamu seolah-olah kamu akan hidup selama-lamanya dan bekerjalah kamu untuk akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok pagi”. (HR Imam Ibnu Assakir).

Nabi Saw pun menganjurkan agar kita memanfaatkan saat kita sehat sebelum kita sakit.. Orang bisa melakukan pekerjaan yang berat sekalipun, bila ia dalam keadaan sehat. Saat sehat hendaklah kita penuhi dengan kegiatan yang bermanfaat terhadap masyarakat, agar kita tidak menyesal disaat jatuh sakit nanti karena sesal kemudian tidak berguna. Senada dengan hal di atas adalah menggunakan masa lapang sebelum datang kesibukan. Selanjutnya Nabi Saw menganjurkan agar memanfaatkan masa muda sebelum datang masa tua renta. Begitupun memanfaatkan kekayaan kita yang ada sebelum kita jatuh miskin.

Dalam hadits diriwayatkan oleh Iman Muslim dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda :
”Bergegaslah kamu melakukan amal yang saleh. Sebab akan datang berbagai macam fitnah bagaikan potongan malam gulita. Seseorang di pagi hari beriman tetapi sorenya berubah menjadi kafir. Atau sorenya ia beriman ketika pagi hari ia pun kafir. Karena orang tersebut sampai hati menjual agamanya dengan harta kekayaan dunia”.

Pegangan hidup.
Ada beberapa hal penting sebagai pegangan dalam menapaki kehidupan lembaran tahun baru yang semakin banyak tantangan, cobaan dan semakin ketatnya persaingan dalam kehidupan diera globalisasi ini, antaranya.
1. Memperteguh komitmen keimanan dan memaknai kehidupan ini dengan penuh nuasa ibadah kepada Allah. Perhatikan firman Allah Swt dalam Al-Qur’an yang artinya sebagai berikut:
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ”Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembirah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu”. (QS. Fushshilat [41] : 30).

2. Bekerja dan berusaha dengan baik. Perhatikan ayat surat At-Taubah dan sabda Rasulullah Saw,
”Dan katakanlah, ”Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS. Al-Taubah [9] :105).

Sementara itu, Nabi Muhammad Saw bersabda, artinya:
“Bekerjalah untuk kehidupan kamu di dunia, seakan-akan kamu akan hidup selama-lamanya dan beramallah untuk akhiratmu, seakan-akan kamu akan mati esok hari”

3. Memandang ke depan dengan percaya diri dan penuh optimisme, tanpa mengenal putus asa akan rahmat Allah. Firman Allah Swt, yang artinya :
”Dan rahmad-Ku meliputi segala sesuatu, maka akan Aku tetapkan rahmatku untuk orang-orang yang bertakwa yg menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat-Ku”. (Al-A’raf [7] :155).

”Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah hanyalah orang-orang yang kafir”. (QS. Yusuf [12] : 87).

4. Berdoa, setelah usaha secara lahiriah telah kita lakukan dengan baik, maka kita tidak boleh mengesampingkan usaha batin dengan jalan berdoa kepada-Nya. Firman-Nya :
”Dan Tuhanmu berfirman, ”Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan aku perkenankan bagimu”. (QS.Al-Muk’min [40] : 60)

5. Tawakal dan bersabar. Firman Allah Swt dalam Al-Qur’an yang artinya,
“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya). Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu” (QS. At-Thalaq [65] : 3).

Harapan tahun baru.
Pada tahun 2011 (edit pen) hendaknya lebih memahami dan lebih mengamalkan sepenuhnya ajaran Allah Swt dalam Al-Qur’an beserta contoh keteladanan Nabi Muhammad Saw, meningkatkan amalan-amalan saleh dan lebih bersyukur atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah, dengan cara ikut meramaikan pengajian, shalat berjamaah di masjid, senantiasa mengedepankan sifat-sifat sosial kebersamaan hidup dalam masyarakat yang plural, dan peduli pada lingkungan dimana kita tinggal dan sebagainya.

Masih banyak saudara-saudara kita yang kini menderita/kesulitan hidup ditambah adanya bencana alam, akibat krisis global. Oleh karena itu, marilah kita memohon pertolongan-Nya. Supaya pertolongan Allah datang, kuncinya adalah keimanan, kerja keras, kesungguhan, kejujuran, amanah , keikhlasan, ketakwaan dan saling tolong menolong. Firman Allah di dalam Al-Qur’an:
”Dan orang-orang yg berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”. (QS. Al-Ankabut [29] : 69).

Allah berfirman dalam Al-Qur’an pada surat Al Maidah [5] : 2 yang artinya,
"Dan tolong menolonglah kalian dalam mengerjakan kebaikan dan takwa. Dan jangan tolong menolong dalam perbuatan dosa dan pelanggaran dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksanya."

Untuk melaksanakan amal saleh, banyak penghalangnya seperti rasa enggan, rasa ego. Mari kita libas semua penghalang tersebut, yakni berhala di berbagai bentuknya, seperti ego, nafsu tak terkendali, cinta kekuasaan, cinta harta benda yang berlebihan. Juga kita singkirkan, kita sembelih penyakit hati seperti sombong, angkuh, riya, rasa iri, dengki, ghibah dan sejenisnya. Di samping itu, mari tingkatkan rasa malu bila bergantung pada yang lain. Tekadkan untuk tidak pernah lagi punya ”tangan di bawah”. Ingatlah, bahwa tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah. Tingkatkan wujud dari kesalehan sosial kita, kebersamaan kita, persaudaraan kita dengan semangatnya dalam berkurban untuk orang lain.

Marilah kita bekerja lebih keras lagi untuk berusaha mengembalikan predikat ”Gemah ripah loh jinawi, tata tenteram kerta rahaja” dan mengembalikan menjadi negara yang hidup bak ”untaian zamrud di khatulistiwa” sebagai ”qith ’atun min al-jannah” bagai bongkahan syurgawi, dengan salah satu wujudnya : Kita ciptakan lingkungan tempat tinggal kita yang lebih indah, aman, lebih nyaman dengan kepedulian lingkungan seperti kebersihan, keindahan, keamanan dan kenyamanan yang berkensinambungan. Peningkatan kondisi lingkungan ini dapat dimulai dari diri sendiri, lingkungan keluarga dan selanjutnya masyarakat luas.

Marilah kita sambut tahun baru ini dengan rasa syukur serta mengharap taufiq, hidayah serta inayah dari Allah, agar perjalanan kita senantiasa tetap sesuai dengan tuntunan yang diridhai Allah Swt. Semoga Allah lebih banyak lagi mencurahkan rahmat dan hidayahnya kepada kita semua.

Do’a akhir tahun.
Bismillaahir rahmaanir rahiim...
Wa shallallahu’alaa sayyidina Muhammadin wa’alaa aalihii wa shahbihii wa sallam.
Allahumma maa miltu fii haadzihissanati mimmaa nahaitanii ’anhu falam atub minhu walam tardhahuu walam tansahuu wa halimta ’alayya ba’da qudratika ’alaa ’uquubatii wa da ’autanii ilat taubati minhu ba’da jiraa atii ’alaa ma’shiyatika fa innii as taghfiruka fagfir lii bifadhlika wa maa ’amiltuhu fii haa mimmaa tardhaahu wa wa’adtanii’alaihits tsawaab. Wa as alkallahumma yaa kariimu ya dzal jalaali wal ikraam an taqabbalahuu minnii wa laa taqtha’ rajaa ii minka yaa kariim. Wa shallalaahu ’alaa sayyidina Muhammadin wa’alaa aalihii wa shahbihii wa sallam.
Artinya :
”Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.
”Shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Ya Allah, apa yang telah kami perbuat sepanjang tahun ini berupa perbuatan-perbuatan yang Engkau larang kami melakukannya, sedang kami belum bertobat dari padanya, dan Engkau tidak meridhainya dan tidak melupakannya, dan Engkau pun telah menyayangi kami setelah Engkau pun kuasa untuk menyiksa kami, kemudian Engkau menyeru kami untuk bertobat dari padanya setelah kami bermaksiat pada-Mu. Karena itu, kami memohon ampun kepada-Mu. Maka ampunilah kami dengan anugerah-Mu. Dan apa yang telah kami kerjakan di tahun ini adalah berupa perbuatan yang Engkau ridhai dan Engkau janjikan pahala atasnya.
Dan kami memohon kepada-Mu. Ya Allah, Dzat Yang Mulia yang memiliki keagungan dan karunia, agar Engkau terima amal kami itu, dan jangan hendaknya Engkau putuskan harapan kami dari pada-Mu, Ya Allah Tuhan Yang Maha Pemurah. Semoga shalawat dan salam tetap dilimpahkan atas Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya”. Amien.

Akhirnya, tiada gading yang tak retak. Kebenaran tulisan ini datangnya dari Allah Swt, namun bila terdapat kesalahan atau kekeliruan itu dikarenakan kesalahan dan/kebodohan saya semata, mohon dituangkan maaf.

Motto : Anda pasti bisa kalau Anda pikir bisa

Hari ini lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini.

Selamat tahun baru 2011 M dan 1 Muharram 1432 H

Dengan semangat kebersamaan, marilah kita ciptakan suasana hunian kita
yang lebih : aman, nyaman, indah, bersih dan bersahabat.

Semoga tulisan ini akan menambah wacana, wawasan dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah ta’ala bagi kita semua. Terima kasih atas perhatiannya.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Tangerang, 23 Desember 2008
H.Mudjiono
Waega PJMI, Tangerang

Catatan.
Perbedaan tahun Masehi dan tahun Hijriyah.
Kalau tahun Masehi perhitungannya berdasarkan peredaran matahari (solar system), sedangkan tahun baru Hijriyah berdasarkan peredaran bulan (lunar system). Bulan-bulan Masehi hitungan harinya setiap bulan tetap kecuali Februari yg berubah setiap 4 (empat) tahun sekali (tahun kabisat). Sedangkan tahun Hijriyah tetap yaitu tiap bulan hanya terdiri 30 atau 29 hari.
Dalam Al Qur’an disebutkan jumlah bulan dalam satu tahun ada 12 bulan, sebagaimana bunyi ayat pada surat At Taubah 36 :
”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah 12 bulan dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya ada empat bulan yg haram. Itulah ketetapan agama yg lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri dalam bulan yang empat itu itu”.

Sedangkan yang dimaksud dengan bulan-bulan haram/mulia ialah bulan Muharram, Rajab, Zulqa’idah dan Zulhijjah, selain Ramadhan sendiri.

Sumber : http://pjmibintaro.blogspot.com/


Wallahu a’lam bish-shawabi... (hanya Allah yang Mahatahu Kebenarannya)
Catatan ini kami tujukan untuk kami pada khususnya
dan untuk semua pembaca pada umumnya...
Jika terjadi kesalahan dan kekurangan disana-sini dalam catatan ini...
Itu hanyalah dari kami...
dan kepada Allah SWT., kami mohon ampunan...

Semoga Allah SWT. memberi kekuatan untuk kita amalkan... Amin
Wassalam...

Semoga Bermanfaat dan bisa kita ambil hikmahnya... Amin
Silahkan COPY atau SHARE ke rekan anda jika menurut anda notes ini bermanfaat...

Catatan :
Lampirkan sumbernya ya... Syukron

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar