Jumat, 25 Februari 2011

Untuk itu Kita Harus Luar Biasa

Ingat kawan perjalanan ini masih panjang dan perjuangan hidup kedepan itu lebih sulit dari pada hidup hari ini, itulah satu lagi jawaban yang aku temukan kawan, jawaban ketika aku bingung kenapa takdirku seperti ini. karena aku baru sadar hidup ini tak semudah kita tebak, seperti kita menebak jalan cerita seorang sutradara sinetron, karena sutradara hidup ini, adalah sutradara yang menyutradarai sutradara-sutradara didunia ini. jawaban yang cerah secerah matahari, tapi kenapa jawaban itu tak membuatku langsung bangkit merebut segala momentum yang ada, kenapa aku masih sempat berbaring ketika orang sedang berlari mengejar waktu, kenapa aku harus tidur ketika orang sibuk bermunajat, kenapa aku harus duduk ketika orang sibuk melapangkan jalan dakwah ini, dan kenapa aku seperti ini, kenapa…?!!!

Dulu, aku adalah orang yang percaya bahwa kekejaman pada diri sendiri, paksaan pada diri sendiri adalah awal dari kemenangan, sehingga aku bisa mengalahkan orang yang ingin aku kalahkan, dan sehingga aku bisa mencapai target yang ingin aku capai, walaupun target menggapai metahari tak tercapai, tapi Allah memberikan aku anugerah bisa menginjakkan kaki ke bulan, karena aku tahu kuantitas usahaku tak cukup untuk membuatku bisa mengapai matahari, dan kwalitasnnya kurang untuk aku mendapatkannya lebih. ketika aku sempat sombong dengan segala kemenangan yang aku capai, dan ketika aku sombong dengan sedikit kepintaran yang aku punya, maka hanya dengan hitungan detik Allah langsung menunjukkanku bahwa diatas langit yang kamu lihat ternyata masih banyak lapisan-lapisan langit yang lain. Bahkan Allah bukan saja menunjukkanku, Allah bukan saja memberikan gambaran kepadaku, tapi Allah langsung mengajari dan menuntunku untuk mengetahui dan merasakan perjuangn untuk melihat langit-langit  yang masih berlapis-lapis. seketika aku langung tersentak, keyakinanku hampir rubuh, prinsipku hampir luntur, mentalku ternyata belum siap untuk menerima bahwa diatas langit itu masih ada langit yang berlapi-lapis. seketika juga aku seperti orang linglung yang kehilangan arah, aku hanya tahu jalan untuk menuju sebuah langit tapi aku belum menyiapkan jalan unutk menuju  langit yang  lain, karena aku tak tahu, aku tak tahu bahwa diatas langit itu masih ada langit yang jauh lebih besar dan jauh lebih indah tantangan didalamnya.

Tanpa sebuah kesadaran yang hebat, tak alang aku hanyalah menjadi seorang yang kebingungan. tapi pada dasarnya, aku dapat sebuah kesimpulan, setiap lapisan langit punya kadar kelulusan yang semakin atas langit itu maka akan semakin tinggi tingkat kekejaman yang harus aku lakukan, jika tidak, jangan harap bisa tembus ke lapisan langit yang berikutnya, itu sudah harga mati. Dalam kata lain aku harus kembali kepada rumusku yang dulu, aku harus menemukan prinsipku yang dulu, dan tiada kata lain aku harus menemukan jati diri aku yang dulu. Aku harus menjadi diriku yang dulu. mencari jati diri yang hilang tak semudah mencari jarum yang jatuh dihalaman rumah ketika tidak ketemu kita bisa beli jarum yang baru dan mendapatkan hasil jahitan yang sama. tapi jati diri ini tak bisa diganti dengan jati diri yang lain, sedikit saja kita gantikan maka tunggulah hasil yang jauh berbeda dengan yang kita harapkan, untuk itu aku tak punya kata lagi kecuali temukan jati diri itu kembali. menemukan jati diri ini harus penuh dengan pejuangan yang keras sekeras aku menciptakannya, sekeras aku dulu menjaganya.

Aku sudah bosan menjadi orang lain, aku teringat pesan bang andrea hirata dalam lascar pelanginya, “jika kamu tidak menemukan jati dirimu, maka kamu akan menjadi orang lain”. kuncinya adalah salah satu kataku yang diawal tadi, aku takkan duduk karena aku tahu disana ada orang yang bejuang mati-matian membela agama Allah ini, aku tak bisa berbaring karena aku tahu disana diseberang sana, dijalan disana, dan di tempat entah berantah sana orang berlari-lari  untuk mengejar waktu yang terus berlalu, aku tak bisa tidur, karena aku tahu disana dikegelapan sana orang-orang meneteskan air mata sedang sibuk bermunajat pada Allah.

Semua keadaan itu : orang berlari mengejar waktu, orang-orang bermunajat pada Robb-nya, orang-orang mati-matian mencari kesuksesan, orang-orang ‘berkelahi’ berebut kesempatan, orang-orang nekat untuk bisa dan tetap hidup, dan orang-orang yang rela berkorban untuk jalan dakwah ini serta orang-orang pintar dengan segala inovasinya. Dengarlah kawan, kita bisa melebihi mereka, bisa, sekali lagi, kia bisa, kita harus punya satu rumus. pada dasarnya keadaan itu adalah keadaan biasa, dan usaha mereka mengkin usaha biasa untuk melebihi mereka kita hanya punya satu kunci. usaha kita harus luar biasa, pengorbanan kita harus luar biasa, dan kekejaman kita harus luar biasa. Kita hanya perlu sedikit ‘berbeda’ dengan mereka. Aku teringat pesan seorang ustadz waktuku masih duduk di kelas 1 SMP.

"BIASA-BIASA MAKA AKAN JADI BIASA. UNTUK ITU KITA HARUS LUAR BIASA, SEHINGGA KITA AKAN MENJADI LUAR BIASA."


Sumber : http://zhiddyminds.co.cc/?p=81#more-81


Wallahu a’lam bish-shawabi... (hanya Allah yang Mahatahu Kebenarannya)
Catatan ini kami tujukan untuk kami pada khususnya
dan untuk semua pembaca pada umumnya...
Jika terjadi kesalahan dan kekurangan disana-sini dalam catatan ini...
Itu hanyalah dari kami...
dan kepada Allah SWT., kami mohon ampunan...

Semoga Allah SWT. memberi kekuatan untuk kita amalkan... Amin
Wassalam...

Semoga Bermanfaat dan bisa kita ambil hikmahnya... Amin
Silahkan COPY atau SHARE ke rekan anda jika menurut anda notes ini bermanfaat...

Catatan :
Lampirkan sumbernya ya... Syukron

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar