Minggu, 20 Februari 2011

Renungan : "Keseriusan Terhadap Allah"

Keseriusan Terhadap Allah

Pernah Umar bin Khattab ra. ketika berziarah ke rumah Rasulullah saw, merasa terharu menyaksikan seorang kekasih Allah SWT sedang berbaring di atas tikar yang merupakan susunan pelepah-pelepah kurma. Nampak jelas bekas alur tikar ditubuhnya. Di dalam rumah baginda saw yang penuh barokah itu tidak terlihat peralatan lambang kemewahan, hanya ada lemari yang berisi segantang gandum kasar.

Kemudian Umar ra. menangis di hadapan Rasulullah. Rasulullah saw pun bertanya, "Apa yang menyebabkan Engkau menangis, wahai Umar?”. Umarpun menjawab.“Aku melihat para kaisar dan kisra serta raja-raja lain tidur di atas kasur mewah beralaskan sutera, tetapi aku di sini melihat engkau tidur beralaskan tikar seperti ini,”

“Wahai Umar, tidakkah engkau sependapat denganku. Kita lebih suka memilih kebahagiaan di akherat sedang mereka memilih dunia.”
***

Bukan hanya dalam keadaan susah tetapi dalam keadaan lapang dan kedudukannya yang tinggi sekalipun Rasulullah saw tetap merasakan kehambaannya. Perlambang keseriusan hati dengan Allah. Begitu serius menghambakan diri kepada-Nya. Serius mencari cinta dan ridha.

Sikap orang yang serius dengan Allah, dalam keadaan apapun, hati senantiasa cemas dan bimbang terhadap Allah. Kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan dirasakan belum berbuat. Kalaupun sukses dalam suatu usaha, dirasakan bukan hasil kerjanya, tapi milik Allah.“

Di dalam diri tertanam rasa kurang, rasa lemah, rasa tidak mampu; sehingga darinya lahirlah benih-benih cinta terhadap Allah. Dan sangat kedekatannya.“ Betapa kita... dalam kondisi terpuruk masih muncul ke'aku'annya.


SEKEJAP Mata Yang Melalaikan
Jabir bin Abdullah berkata: Pada suatu hari sewaktu saya bersama Rasullah saw, maka tiba-tiba datang seorang lelaki yang berwajah putih bersih, rambutnya sangat cantik dan memakai pakaian yang putih lalu menghampiri Rasulullah saw dengan berkata, "Assalamualaikum ya Rasulullah, apakah artinya dunia itu?"
Maka Rasulullah saw pun berkata: "Dunia adalah impian orang yang tidur."
Tanya orang itu lagi: "Apakah artinya akhirat itu, ya Rasulullah ?"
kata Rasulullah saw : "Satu kumpulan manusia yang berada dalam Surga dan satu kumpulan lain berada didalam Neraka Sa'ir."
Orang itu bertanya lagi: "Apakah Surga itu?"
Kata Beliau saw lagi, "Sebagai ganti dunia untuk mereka yang menjauhkan dunia, karena sesungguhnya harga Surga itu sama dengan menjauhkan Dunia ini."
Tanya orang itu lagi: "Apakah Jahannam itu ?"
Maka Rasulullah saw berkata: "Jahannam adalah sebagai ganti dunia bagi mereka yang mencarinya."
Tanya orang itu lagi: "Siapakah sebaik-baik umat ini?"
Jawab Rasulullah: "Sebaik-baik umat ini ialah yang taat kepada Allah SWT"
Orang itu bertanya lagi: "Bagaimana yang disebut orang yang taat itu?"
Kata Rasulullah saw: "Orang yang berusaha bersungguh-sungguh sebagaimana orang mencari kafilah."
Tanya orang itu lagi: "Berapa jarak, jauhnya dunia dengan akhirat itu?"
Jawab Rasulullah: "Hanya sekadar memejamkan mata saja."
Jabir melanjutkan ceritanya: "Setelah orang itu pergi kami tidak lagi melihat orang itu sesudah itu."
Rasulullah saw bersabda: "Orang lelaki yg datang tadi adalah malaikat Jibril, dia datang kepada kamu supaya kamu semua menjauhkan diri dari Dunia dan supaya kamu mencintai Akhirat."

Siapa Kita Di Sisi Allah
Ada orang yang disukai banyak orang, ada orang yang dibenci banyak orang, ada yang banyak orang kenal, ada yang tidak dikenali seorang pun. Ada yang selalu dipuji oleh orang banyak, ada yang selalu diumpat dan dicaci oleh orang banyak. Kita sedih apabila ada yang membenci diri kita, kita sedih apabila kita sendirian, tiada teman di sisi, kita girang bila banyak kawan di sisi kita, kita gembira bila dipuji dan disebut kebaikan.

Inikah manusia termasuk diri ini?
bergelimang dengan kelalaian dan kealpaan?
Pernahkah kita terfikir apa tanggapan Allah kepada kita?

ketika kita melengah lengahkan waktu solat, ketika kita terlambat sholat subuh, ketika kita melewatkan waktu sepertiga malam dengan perkara sia sia.

Bila kita terjepit kesulitan, kita mendesak Allah memperkenankan doa, dan ketika kita mendapat rezeki berlimpah ruah, tiada ucapan terima kasih dan syukur kepada-Nya.

Kita terlalu sensitif dan mengambil berat apa yang manusia lain nilai tentang diri kita, sedangkan penilaian Allah, kita abaikan dan sia-siakan.

Kita tahu, Walau bagaimana besar derajat di dunia ini, satu hari nanti pasti kembali ke perut bumi.
Kita tahu, Sebagaimana bermegah melakukan maksiat di bumi ini, satu hari nanti pasti di azab dalam perut bumi.
Kita tahu, Walau banyak manapun ketawa di muka bumi ini, satu hari nanti akan menangis di perut bumi.
Kita tahu, Sebagaimana bermegah dengan memakan dan meminum barang haram, satu hari nanti tubuh pasti akan menjadi makanan ulat.
Kita tahu, Walau bagaimana banyak sekalipun harta yang dikumpuklan, satu hari nanti akan musnah juga harta itu.
Kita tahu, Walau banyak sekali gunakan cahaya di muka bumi ini, satu hari nanti tetap akan hidup dalam gelap gulita di perut bumi.
Kita tahu, Walau bagaimanapun berlagak dan bertakabur diatas muka bumi ini, satu hari nanti akan tetap dihina di dalam perut bumi.
Kita tahu, Walau bagaimana banyaknya sahabat diatas muka bumi ini, satu hari nanti pasti akan sendirian dalam perut bumi.
Kita tahu, Walau sadar hati membaca tulisan ini... tak mudah untuk merubah diri.. Lalu, mari kita jawab; Siapa Kita Di Sisi Allah?


Kita Sebenarnya Lebih Suka Menuju Surga
Kita sebenarnya...... lebih gembira meyambut 1 Januari daripada 1 Muharram
Kita sebenarnya...... lebih tahu apa itu 14 Februari daripada 12 Rabiulawal
Kita sebenarnya...... lebih membesarkan hari Sabtu dan Ahad daripada hari Jum’at
Kita sebenarnya...... lebih khusyuk mendengar lagu daripada mendengar Adzan
Kita sebenarnya...... lebih suka lalai, tidur, tengok TV..dll daripada sembahyang dan mengaji
Kita sebenarnya...... lebih tahu tentang artis pujaan kita daripada nama nabi-nabi
Kita sebenarnya...... lebih suka menyebut hello! dan hi! daripada Assalamualaikum
Kita sebenarnya...... lebih suka menyanyi dangdut, rap, hip-hop...dll daripada berwirid atau bertahmid
Kita sebenarnya...... lebih suka memuji manusia daripada memuji Tuhan kita sendiri
Kita sebenarnya...... lebih suka membaca majalah hiburan daripada buku-buku agama
Kita sebenarnya...... lebih suka ke konser dan karaoke daripada ke ceramah agama
Kita sebenarnya...... lebih suka memaki, mengumpat orang daripada memuji mereka
Kita sebenarnya...... lebih suka misuh daripada menyebut MasyaAllah
Kita sebenarnya...... lebih suka kemungkaran daripada membuat kebaikan
Kita sebenarnya...... lebih bangga dengan kejahilan kita daripada bersyukur dengan keimanan kita
Kita sebenarnya...... lebih cintakan dunia daripada urusan akhirat

Tetapi bila orang tanya ke mana arah tujuan kita, kita pasti akan jawab bahwa...
KITA SEBENARNYA...... lebih suka menuju ke Syurga daripada ke Neraka.

SAHABAT...
Pada zaman Rasulullah, ada dua orang sahabat baik yang bekerja sebagai pengembala kambing. Pada suatu hari, sahabatnya yang pertama bertanya kepada sahabatnya yang kedua "Apakah benar engkau sahabatku yang sebenar-benar sahabat?”

Maka sahabatnya yang kedua menjawab, "Bukankah kita telah bersama semenjak masih kecil dan besar bersama-sama? Aku tidak pernah mengkhianati dirimu. Apa lagi yang mampu aku jadikan bukti bahwa aku benar-benar sahabatmu?"
Sahabat yang pertama tadi membentak "Sesungguhnya kamu lah manusia paling pendusta"

Sahabatnya kedua tadi keheranan dan bertanya apakah kesalahannya sehingga melakukan seperti itu. Sahabat pertama tadi menjawab "Pulanglah kau ke rumah, carilah jawabannya, dan esok datanglah kau berjumpa aku."

Sehari-harian, sahabat kedua tadi mencari sebab dia dimarahi oleh sahabatnya. Sedangkan sahabatnya itu tidak pernah berkelakuan seperti itu sebelumnya. Keesokan harinya, pergilah dia bertemu dengan sahabatnya itu. "Wahai sahabat. Puas sudah aku mencari jawaban untuk pertanyaanmu tapi tidak juga kutemui." katanya sambil menangis. "Katakanlah wahai sahabat, apa kesalahanku?"

Sahabat yang pertama merenungi wajah sahabat kedua. "Pernahkah kau mengingatkan aku supaya mengucapkan dua kalimah syahadah, atau bersholawat atas junjungan Nabi SAW ketika kita beristirahat dari lelah bekerja sambil ngobrol?", Sahabatnya menggeleng.

"Pernahkah kau mengingatkan aku supaya segera sholat dan kebaikan segera bersholat ketika adzan dikumandangkan?" Sahabatnya menggelengkan kepala.

"Pernahkah kau menasehati aku supaya berpuasa setiap hari pada bulan ramadhan? Sahabatnya menggeleng lagi.
"Pernah jugakah kau mengingatkan aku mengenai tanggungjawabku supaya berzakat?" Sahabatnya menggeleng lagi seraya menangis.

Namun sahabat pertama tadi meneruskan pertanyaannya.
"Dan pertanyaanku yang terakhir. Pernahkah kau mengajak aku menunaikan haji setiap kali kita dikurniakan kelebihan rezeki?" Sahabat
kedua mendiamkan diri sambil menangis terisak-isak.
"Tidak pernah bukan? Layakkah engkau bergelar sahabat padaku. Engkau tidak pernah membantu aku melarikan diri dari neraka jahanam”.


BERSAHABATLAH Hingga Ke Surga
Mari lewati lorong waktu, menyusuri jalan-jalan dunia yang penuh tipu daya, dengan kebersamaan. Tapaki pergantian pagi, siang, petang dan

malam, yang penuh liku, dengan persahabatan dalam keimanan.
Kita tak mungkin selamat mengarungi bahtera kehidupan yang sangat luas dengan ancaman badai fitnah ini, seorang diri. Kita tak dapat lolos

dari ancaman fitnahnya dengan hanya mengandalkan kemampuan sendiri. Karena, kita diciptakan sebagai makhluk yang penuh kelemahan

dan mudah terpedaya. “Dan diciptakan manusia itu dalam keadaan lemah.” (QS. An Nisa : 28)
Kebersamaan dan pertemanan di jalan Allah lah yang akan mengantarkan kita menyelesaikan hidup dengan kebaikan. Persaudaraan,

kebersamaan dan persahabatan di jalan Allah lah yang juga akan mengiringi kita pada kebahagiaan akhirat. Allah SWT memberitakan bahwa

hanya pertemanan atas dasar iman dan takwalah yang abadi.
“Teman-teman akrab pada hari itu (hari kiamat) sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.”  (QS. Az Zukhruf : 67).

Ibnu Katsir mengatakan, “Seluruh pertemanan dan persahabatan yang tidak dilandasi karena Allah pada hari kiamat akan berubah menjadi permusuhan.” Begitu juga pesan Rasul SAW dalam haditsnya, yang menyebutkan bahwa kita akan dibangkitkan di hari kiamat bersama orang yang kita cintai.

Siapa orang yang kita cintai?
Siapa orang-orang yang paling dekat dengan kita dalam menelusuri hidup ini?
Siapa orang yang paling menghiasi ingatan kita?
Siapa yang menemani langkah- langkah hidup kita?
Orang shalehkah dia?
Mengajak pada kebaikan dan keridhaan Allah kah dia?

Duhai indahnya. Pertemuan yang sangat mengesankan dan penuh kegembiraan. Mari kita mulai dari sekarang. Bersahabat dengan orang-orang yang mendekatkan kita pada redha-Nya..”


KEINSYAFAN Musafir Nan Malang
Terkadang kan, kita merasa kita ini jahat sekali ... banyak dengan dosa. Kita terasa amat payah untuk bertaubat. Kita merasa kalau kita

bertaubat, orang lain akan berkata macam-macam kepada kita ... kita merasa kita sudah jauh dari kebenaran... kita merasa seolah-olah kita memang sudah tiada harapan lagi... Tapi .. renunglah kembali wahai diri... kita sudah merasa akan dosa kita... kita sudah tak bangga lagi dengan dosa kita... kita sudah menyadari akan kejahatan kita ... mungkinkah itu tandanya Dia akan tunjukkan sesuatu kepada kita?... mungkinkah itu tandanya Dia inginkan kita kembali kepada-Nya .. dan kembali ke jalan-Nya? ... dan mungkinkah itu tandanya Dia sayang kepada kita? ... sebab bila Dia sayang kepada seseorang hamba, Dia akan kurniakan hamba itu ... kefahaman terhadap agama.

Benar. Jadi jangan tunggu untuk berubah. Kita tak tahu bila kita akan mati. Kita tak tahu apa yang akan berlaku semenit lagi. Masih ingatkah

kita peristiwa-peristiwa hidup kita yang berlaku dalam sekelip mata?. Amat mudah bagi Dia untuk berbuat demikian jika itu dikehendaki oleh-Nya!

Renungilah wahai diri. Lebih baik kita bertaubat sekarang daripada tak sempat bertaubat lagi. Usah risaukan kutukan orang. Usah risaukan umpatan orang. Karena mereka tak akan mengumpat dan mengutuk kita andai mereka ketahui apa yang ada selepas mati!

Imam Bukhari R.A pernah menguntaikan bait bait sajak
"Di kala malam yang sunyi sepi Bani insan tengah tenggelam dalam tidur dan mimpi, musafir yang malang ini tersentak bangun pergi membasuh diri untuk datang menghadap-Mu. Lemah lututku berdiri di hadapan-Mu sedu sedan tangisku keharuan, hamba yang lemah serta hina ini Engkau terima jua mendekat bersimpuh di bawah Duli Kebesaran-Mu. Ya Allah, Hamba tidak tahu pasti bagaimana penerimaan-Mu di kala mendengar pengaduan hamba yang penuh dosa dan noda ini. Dalam wahyu yang Engkau nuzulkan, Engkau berjanji untuk menerima pengaduan dan sudi memberi keampunan. Dan Muhammad Rasul-Mu yang mulia itu mengatakan: Ampunan-Mu Allah lebih besar dari kesalahan insan, hamba percaya pada tutur kepastian itu, sebab itu hamba datang Ya Allah bukan tidak redha dengan ujian cuma hendak mengadu pada-Mu tempat hamba kembali nanti."

Memohon sakinah, maghfirah dan mutmainnah...

Sumber : http://ibnusabil1.blogspot.com/2010_10_01_archive.html


Wallahu a’lam bish-shawabi... (hanya Allah yang Mahatahu Kebenarannya)

Jika terjadi kesalahan dan kekurangan disana-sini dalam catatan ini...
Itu hanyalah dari kami...
dan kepada Allah SWT., kami mohon ampunan...

Semoga Allah SWT. memberi kekuatan untuk kita amalkan... Amin
Wassalam...

Semoga Bermanfaat dan bisa kita ambil hikmahnya... Amin
Silahkan COPY atau SHARE ke rekan anda jika menurut anda notes ini bermanfaat...

Catatan :
Lampirkan Sumbernya ya... Syukron

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar