Minggu, 20 Maret 2011

Belajar Dari Pohon Kelapa

Belajar dari ‘pohon kelapa’...

Ada apa dengan pohon kelapa?
Ya, ada apa... ya?
Subhanallah... saya ingin menulis tentang pohon kelapa, karena tadi saya melihat gambar pohon kelapa yang ada di sajadah.

Ia begitu banyak memberi manfaat, mulai dari akar, batang, daun, bunga dan buahnya... wah, tak bisa saya sebutkan apa saja manfaatnya, karena hal ini sudah banyak yang mengetahui.
Lha, yang mo saya tulis itu mengenai apa, tho?

Ya, saya jadi banyak melihat diri saya sendiri. Sudahkah saya demikian adanya?
Telinga saya bermanfaat untuk mendengar yang baik-baik saja...
Mulut saya bermanfaat untuk berkata yang baik-baik saja...
Mata saya bermanfaat untuk melihat yang baik-baik saja...
Tangan dan kaki saya dan yang lainnya...

Duh, saya jadi merinding mengingat hal ini semua...
Mungkin saja ‘kan bahwa saya masih melakukan hal-hal yang tidak baik. Karena setiap waktu yang terlewati, kesalahan itu selalu bertambah, kesalahan yang disengaja maupun tidak – meski sedikit atau banyak, tetaplah ada...

Alangkah sedihnya jika catatan kehidupan saya lebih banyak yang tidak baik dan tidak bermanfaat...
Dan memang tiada lain, bahwa diri harus terus melakukan perbaikan dari waktu ke waktu.

Sebatang pohon kelapa saja begitu berarti, padahal ia tidak mempunyai akal untuk berpikir dan tidak bisa berteriak jika disakiti manusia – tapi pengorbanannya tulus ikhlas, sungguh tanpa pamrih dan balasan untuk memberi manfaat bagi manusia, dan atau marah karena melihat dan merasakan ulah manusia di sekitarnya.

Meski mungkin ia sering diabaikan dan juga tidak begitu diperhatikan...

Bisa saja jika ia bisa berbicara maka ia pun mulai mereka-reka, “Wah, manusia ini rakus sekali memakai diriku... bahkan tak pernah puas dengan apa yang ada”, lho saya juga jadi dibicarakan tho sama pohon kelapa, hehe...

Ini hanya catatan untuk diri saya sendiri...
Bahwa tak ada waktu untuk berdiam diri dan bermain-main. Bahwa semua akan menjadi persaksian di istana-Nya kelak.

Tuhan dosaku menggunung tinggi
Tapi rahmat-Mu melangit luas
Harga selautan syukurku
Hanyalah setitis nikmat-Mu di bumi...

Sumber : http://muslima10.multiply.com/journal/item/16


(Sebuah Refleksi dari Perilaku Organisasi Seorang Pegawai)

“Belajar dari pohon kelapa” sebuah tema sederhana yang menjadi bahasan pertemuan pekanan kami di salah satu selasar Masjid Baitul Maal sekitar tiga tahun silam, menjelang prosesi wisuda dan pengumuman penempatan instansi kerja.

Sebagai calon abdi Negara ketika itu, kami dihadapkan pada sebuah transformasi antara dunia kampus ke dunia kerja yang masih asing dan penuh teka-teki. Doktrin yang sering dihembuskan ketika itu adalah,”PNS harus siap ditempatkan dimana saja”. Hingga pada akhirnya ketika kemampuan memilih unit eselon I tidak lagi menjadi privilege angkatan kami, kami pun menyiapkan mental untuk siap ditempatkan dimana saja.

Pohon kelapa adalah spesies tumbuhan yang unik, karena kita dapat menemukan habitatnya sejak dari tepi pantai nan terik, sampai ke daerah perbukitan nan sejuk. Kalau sejenak kita mentadaburkannya setidaknya kita akan menyimpulkan bahwa tumbuhan ini memiliki kemampuan adaptif yang tinggi untuk tumbuh dan berkembang di tempat tumbuh yang memiliki karakteristik berbeda-beda.

Keunikan lain dari tumbuhan ini adalah kemanfaatan yang dapat diambil manusia padanya sangat banyak dan beragam. Selain buah dan airnya, manusia pun dapat mengambil manfaat dari daunnya, batoknya, sabutnya, bahkan batangnya. Subhanallah.

Sampai di sini jelas pelajaran yang dapat kita ambil ada dua, mampu ditempatkan dimana saja dengan kemampuan adaptasi yang baik dan berikanlah kemanfaatan yang sebesar-besarnya dimana pun kita berada. Karena bukankah Rasulullah saw mengatakan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Sebuah Anomali
Yang namanya manusia memang banyak maunya, meminjam istilah Adam Smith “unlimited wants” (keinginan manusia tak terbatas). Terkadang kita sendiri dibuat pening kalau memikirkannya. Contoh kecil ketika kuliah dulu saya sangat ingin sekali cepat lulus biar segera bekerja, punya penghasilan sendiri dan berhenti total dari minta uang ke orang tua. Ternyata ketika awal masa kerja, saya malah kepingin sekali kembali ke bangku kuliah, “dunia kuliah ternyata lebih menyenangkan daripada dunia kerja” pikiran pragmatis saya ketika itu.

Anomali terbesar yang pernah saya alami justru sejak awal memasuki dunia kerja dimana saya ditempatkan saya mengatakan kepada teman-teman ketika itu, “saya ingin pindah, saya tidak cocok berada di sini.” Gubbraaakkk… benar-benar sebuah anomali dari proses tadabbur terhadap pohon kelapa yang telah saya ketahui sebelumnya.

Nasihat seorang kawan
“Jika kamu tidak mencintai pekerjaan-mu, maka cintailah orang-orang di lingkungan kerjamu, jika kamu tidak mampu mencintai orang-orang di lingkungan kerja, maka cintailah gedung kantormu, barang-barangnya, dan suasananya. Jika tidak bisa juga maka cintailah perjalanan menuju kantormu. Jika masih tidak bisa, maka cintailah apapun yang mampu membuatmu mencintai pekerjaanmu.”

Kira-kira begitu nasihat teman saya kepada saya, namun entah mengapa justru keinginan saya untuk pindah pekerjaan semakin membesar setelah mendengarnya. Gubbraaakkk…

Beruntung saya masih mengingat dengan baik konsep tadabbur pohon kelapa di atas. Sehingga walaupun saya belum mendapatkan kepuasan kerja (job satisfaction) namun setidaknya saya masih bisa memenuhi apa yang dikatakan Stephen P. Robbins dan Timothy A. Judge dalam buku Organizational Behavior sebagai dependent variable dalam sebuah perilaku organisasi. Misalnya produktivitas yang dipandang baik oleh atasan, dan tingkat absenteeism (ketidak hadiran) yang rendah.

Sebab ternyata salah satu faktor yang sangat rentan dilakoni oleh orang yang tidak mendapatkan kepuasan kerja adalah absenteeism. Sebuah survey di Amerika mengungkapkan bahwa rata-rata kerugian langsung bagi para pemberi kerja AS dari ketidak hadiran tanpa izin adalah $789 dalam satu tahun per karyawan. Sedangkan di Inggris kira-kira $694 per tahun untuk satu orang karyawan. Di Swedia, rata-rata 10% angkatan kerjanya mengambil cuti sakit pada waktu tertentu.

Jawabannya adalah “Muyyul”
Sebuah antiklimaks yang indah manakala akhirnya Allah SWT memberikan jawaban atas anomali-anomali tersebut. Yup… jawabannya adalah kecenderungan individu ( “Muyyul” ). Artinya memang betul kita harus mau dan mampu ditempatkan dimana saja, akan tetapi bukankah Allah SWT sendiri telah menggariskan bahwa setiap manusia akan terlahir dengan memiliki kecenderungan-kecenderungan, bakat, dan potensi yang berbeda-beda.


Ada sebuah penilitian yang dilakukan oleh John Holland dimana dia mengembangkan sebuah kuesioner Vocational Preference Inventory yang memuat 160 jenis pekerjaan. Responden memberi tahu pekerjaan yang mereka sukai atau tidak, dan jawaban-jawaban tersebut digunakan untuk membentuk profil kepribadian. Alhasil lahirlah teori “Kesesuaian Kepribadian – Pekerjaan” (Personality – job fit theory).

Holland menghadirkan 6 tipe kepribadian dan kesesuaian bidang pekerjaannya sbb:
1. Jenis pribadi realistis: lebih menyukai aktivitas fisik yang membutuhkan ketrampilan, kekuatan, dan koordinasi. Jenis pekerjaan yang kongruen adalah mekanik, operator, pekerja lini perakitan, dan petani.
2. Jenis pribadi investigatif: lebih menyukai aktivitas yang melibatkan proses berpikir, berorganisasi, dan memahami. Jenis pekerjaan yang kongruen adalah ahli eksakta, ahli ekonomi, dan pembawa berita.
3. Jenis pribadi Sosial: lebih menyukai aktivitas-aktivitas sosial. Jenis pekerjaan yang kongruen adalah pekerja sosial, guru, konselor, psikolog klinis.
4. Jenis pribadi konvensional: lebih menyukai aktivitas yang diatur oleh peraturan rapih dan tidak ambigu. Jenis pekerjaan yang kongruen adalah AKuntan, Manjer Perusahaan, Kasir Bank, juru tulis.
5. Jenis pribadi giat: lebih menyukai aktivitas verbal di mana terdapat banyak peluang untuk memengaruhi orang lain dan memperleh kekuasaan. Jenis pekerjaan yang kongruen adalah Pengacara, agen real estate, humas, manajer bisnis kecil (UKM).
6. Jenis pribadi artistik: lebih menyukai aktivitas ambigu dan tidak sistematis, memungkinkan ekspresi yang kreatif. Jenis pekerjaan yang kongruen adalah Pelukis, Musisi, Penulis, desainer interior.
Termasuk pribadi yang manakah anda?

Satu hal lagi sebelum kelupaan, kemampuan manusia yang membedakannya dengan makhluk Allah yang lain adalah kemampuan untuk membuat pilihan. Dan kelak kemampuan memilih ini lah yang juga akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah. Apakah kita akan cenderung untuk memilih jalan taqwa atau sebaliknya lebih cenderung untuk memilih jalan sesat (Istilah ALqur’annya Fujuroha wa taqwaha).

Untuk itu sebelum membuat pilihan-pilihan mintalah petunjuk-Nya, karena apa yang kita anggap baik belum tentu baik menurut Allah.

Sumber : http://kangpandoe.wordpress.com/2010/12/27/belajar-dari-pohon-kelapa/


Wallahu a’lam bish-shawabi... (hanya Allah yang Mahatahu Kebenarannya)
Catatan ini kami tujukan untuk kami pada khususnya
dan untuk semua pembaca pada umumnya...
Jika terjadi kesalahan dan kekurangan disana-sini dalam catatan ini...
Itu hanyalah dari kami...
dan kepada Allah SWT., kami mohon ampunan...

Semoga Allah SWT. memberi kekuatan untuk kita amalkan... Amin
Wassalam...

Semoga Bermanfaat dan bisa kita ambil hikmahnya... Amin
Silahkan COPY atau SHARE ke rekan anda jika menurut anda notes ini bermanfaat...

Catatan :
Lampirkan sumbernya ya... Syukron

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar