Minggu, 20 Maret 2011

Mengapa Kita Menjadi Bengis?

“Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya setiap orang mendapatkan sesuai apa yang diniatkan, barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang akan didapatkan atau wanita yang akan dinikahi maka hijrahnya sesuai dengan apa yang dia niatkan.” (HR. Bukhari Muslim)

Mengapa Kita Menjadi Bangsa yang Suka Memaki?

Dulu kita dikenal sebagai bangsa yang ramah. Kata ‘dulu’ ini sebenarnya belum terlalu lama berselang. Kata orang setelah masa reformasi, kita sebagai bangsa banyak berubah. Seperti mendapatkan orang terdekat dalam keluarga kita yang tiba-tiba berubah, kita terkejut. Kita bertanya apa yang salah dan siapa yang salah. Mungkin judul lagu Peterpan “Ada Apa Denganmu ?” bisa mewakili rasa kegundahan kita ini.

Dalam kehidupan, kita sering menemui sahabat,orang dekat atau bahkan anggota keluarga kita sendiri yang tiba-tiba berubah. Anak yang begitu manis dan menyenangkan tiba-tiba bisa menjadi pemberontak dan penuh dengan kemarahan setelah dia memasuki masa akil baliqnya. Atau seseorang yang mendapat serangan stroke atau dinyatakan oleh dokter menderita kanker ganas sekonyong-konyong mengalami perubahan sikap yang amat drastis. Ini sesuatu yang hampir-hampir tidak mungkin dihindarkan. Kita tidak mungkin memberi ’nasehat’ agar yang bersangkutan kembali ke jalan yang benar, karena pasti akan sia-sia. Bahkan nasehat kita ini bisa menjadi pemicu untuk lebih mengobarkan amarahnya.

Analogi ini barangkali yang bisa kita pakai melihat ’perubahan sikap’ kita sebagai bangsa. Amarah (yang bukan sekedar ’marah’ biasa, tetapi disebutnya rage dalam bahasa Inggris) meletup di mana-mana. Dia ada di jalan pada wajah-wajah bengis para demonstran, dia ada di gedung parlemen pada air muka wakil-wakil rakyat, dia bahkan ada di pergaulan kita sehari-hari di dalam masyarakat yang menampakkan wajah yang tidak bersahabat.

Kata orang sikap suka marah-marah ini adalah manifestasi dari rasa tidak bahagia. Pernah saya baca didalam suatu tulisan yang mengatakan bahwa bangsa Skandinavia adalah salah satu bangsa yang merasa dirinya bahagia. Barangkali kita terus bertanya apa ya kira-kira resepnya agar bisa menjadi bangsa yang bahagia. Namun sekali lagi tidak ada resep yang ’cespleng’ untuk itu. Seperti juga manusia secara individu, bangsa di dalam perjalanan hidupnya pasti akan mengalami perubahan. Harapan kita semua, perubahan ini mudah-mudahan seperti anak yang memasuki masa pubertas. Dia menjadi pemarah, pemberontak, penentang segala hal, penghujat namun hanya untuk sementara waktu. Dan dalam tempo tidak terlalu lama, dia akan kembali menemukan jati dirinya dan juga rasionalitasnya.

Jadi terhadap pertanyaan pada judul tulisan ini Mengapa Kita Menjadi Bangsa Yang Suka Memaki barangkali kita perlu bersabar karena di ujung ’terowongan waktu’ nanti kita akan kembali menjadi pribadi yang sesungguhnya yaitu bangsa yang murah senyum, bangsa yang ramah dan bangsa yang menyenangkan.

Sumber :   http://sosbud.kompasiana.com/2010/02/12/mengapa-kita-menjadi-bangsa-yang-suka-memaki/


Nabi Muhammad SAW. bersabda,
"Barang siapa yang bertambah ilmunya namun tiada bertambah amalnya Tiada bertambah baginya dengan Allah kecuali bertambah jauh " (HR. Dailami dari Ali).

Wallahu a’lam bish-shawabi... (hanya Allah yang Mahatahu Kebenarannya)
Catatan ini kami tujukan untuk kami pada khususnya
dan untuk semua pembaca pada umumnya...
Jika terjadi kesalahan dan kekurangan disana-sini dalam catatan ini...
Itu hanyalah dari kami...
dan kepada Allah SWT., kami mohon ampunan...

Semoga Allah SWT. memberi kekuatan untuk kita amalkan... Amin
Wassalam...

Semoga Bermanfaat dan bisa kita ambil hikmahnya... Amin
Silahkan COPY atau SHARE ke rekan anda jika menurut anda notes ini bermanfaat...

Catatan :
Lampirkan sumbernya ya... Syukron

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar