Minggu, 20 Maret 2011

Hujan

“Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya setiap orang mendapatkan sesuai apa yang diniatkan, barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang akan didapatkan atau wanita yang akan dinikahi maka hijrahnya sesuai dengan apa yang dia niatkan.”(HR. Bukhari Muslim)


Beberapa waktu lalu, di jalan menuju masjid untuk shalat Subuh berjamaah, saya berjumpa dengan seorang tetangga, orang Mesir. Ia juga bergegas menuju masjid. Di perjalanan, tiba-tiba hujan rintik-rintik berjatuhan. Dia langsung komentar sambil agak berlari, "Yasin, waktu turun hujan adalah waktu dikabulkan doa. Berdoalah..."

Saya yang selama ini menganggap turun hujan biasa saja, menjadi penasaran. Langsung buka-buka buku doa, ternyata memang ada hadis shahih dari Nabi yang mengungkap hal ini:

Artinya: Rasulullah Saw. bersabda,
"Carilah waktu dikabulkannya doa—di antaranya—ketika sedang berperang, ketika didirikannya shalat, dan ketika turun hujan."

Di Kairo, Mesir, hujan jarang sekali turun. Hanya beberapa kali saja dalam setahun. Tapi ketika hujan, banyak masyarakat Mesir tak lupa berdoa pada Allah. Mereka sangat gembira dan bersyukur pada Allah. Hal ini tampak di wajah mereka yang ceria. Tampak juga ketika selesai shalat Jumat kemarin (14/01/2011), imam masjid mengatakan, "Ini adalah nikmat Allah yang turun kepada kita."

Perkataan imam ini tak sekedar ekspresi kegembiraan. Karena dalam sebuah hadis Qudsi, termaktub dalam Shahih Bukhari, diriwayatkan oleh Zaid bin Khalid Al-Jahni, bahwa pada suatu hari Rasulullah Saw. shalat Subuh berjamaah di Hudaibiyah. Ketika itu Rasul memberitahukan kepada para sahabat, bahwa Allah telah memberitahukan, bahwa di pagi ini telah ada orang yang beriman dan kafir. Ada yang mengatakan bahwa kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah, maka ia telah beriman kepada Allah. Dan barang siapa yang menganggap hujan hanya sebatas proses alam, maka ia telah kafir kepada Allah.

Kekafiran dalam hadis Qudsi ini bukan berarti mengeluarkan seseorang dari agama Islam. Tapi kekafiran yang tergolong dalam al-rabithu al-’adiy. Al-rabithu al-’adiy ini adalah ushul keempat dari tujuh ushulul kufri wal bida' (sumber kekafiran dan bid'ah), sebagaimana tercantum dalam kitab Shughra Al-Shughra fi ‘Ilmi Tau<span>h</span>îd, karangan Abu Abdullah bin Yusuf Al-Sanusi Al-Hasani, pada halaman 33.

Isi dari al-rabithul al-adiy ini adalah, menganggap bahwa segala sesuatu terjadi karena ikatan antara sebab dan akibat, tanpa ada campur tangan Allah. Kaum naturalis terjerumus di jurang pemikiran ini. Misal salah satunya, menganggap hujan hanya karena proses alam; baik karena mendung, karena awan, karena angin, atau lainnya, yang tidak ada campur tangan Allah sama sekali.

Di samping hujan sebagai nikmat dan karunia Allah, terkadang hujan juga menyebabkan bencana banjir, seperti yang sering terjadi di Indonesia. Dan Allah telah menjelaskan, bahwa setiap bencana terjadi karena ulah manusia sendiri. Mulai dari penebangan liar, tidak mengantisipasi bencana, dan lainnya, sehingga Allah mengubah nikmat hujan menjadi bencana. Menjadi ibrah dan pelajaran bagi masyarakat yang ditimpanya.

Karena hujan juga berpotensi menjadi bencana, ketika hujan lebat mengguyur, Rasulullah mengajarkan doa pada seorang sahabat, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik r.a.:
Artinya: "Ya Allah, jadikanlah hujan ini di sekitar kami, dan tidak menjadi bencana bagi kami. Ya Allah, jadikanlah hujan ini diserap oleh gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah, dan tempat tumbuhnya pepohonan."

Oleh: Muhammad Yasin

Sumber :  http://www.hadielislam.com/indo/kolom/kisah-a-hikmah.html?start=4


Nabi Muhammad SAW. bersabda,
"Barang siapa yang bertambah ilmunya namun tiada bertambah amalnya Tiada bertambah baginya dengan Allah kecuali bertambah jauh " (HR. Dailami dari Ali).

Nabi Muhammad SAW. juga bersabda,
"Orang yang paling pedih siksaannya pada hari kiamat ialah seorang alim yang Allah menjadikan ilmunya tidak bermanfaat."  (HR. Al Baihaqi)


Wallahu a’lam bish-shawabi... (hanya Allah yang Mahatahu Kebenarannya)
Catatan ini kami tujukan untuk kami pada khususnya...
dan untuk semua pembaca pada umumnya...
Jika terjadi kesalahan dan kekurangan disana-sini dalam catatan ini...
Itu hanyalah dari kami...
dan kepada Allah SWT., kami mohon ampunan...

Semoga Allah SWT. memberi kekuatan untuk kita amalkan... Amin
Wassalam...

Semoga Bermanfaat dan bisa kita ambil hikmahnya... Amin
Silahkan COPY atau SHARE ke rekan anda jika menurut anda notes ini bermanfaat...

Catatan :
Lampirkan sumbernya ya... Syukron

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar