Minggu, 20 Maret 2011

Paku

“Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya setiap orang mendapatkan sesuai apa yang diniatkan, barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang akan didapatkan atau wanita yang akan dinikahi maka hijrahnya sesuai dengan apa yang dia niatkan.”(HR. Bukhari Muslim)


Disebuah desa terdapat salah satu rumah yang cukup sederhana dirumah itu hanya ada ayah dan anak lelakinya. Kehidupan mereka agak berubah setelah meninggalnya sang isteri. Perubahan tampak cukup besar pada sifat anaknya yang sering melamun sendiri tapi yang paling membuat sang ayah prihatin adalah sifatnya yang begitu cepat marah dan berkata-kata kasar. Hal itu membuat hati sang ayah begitu terpukul tetapi sang ayah berusaha merubah sikap anaknya agar kembali seperti dulu kala. Hingga kemarahan ayahnya memuncak pada saat peristiwa disuatu pagi, pada saat itu anaknya  sedang melamun didepan rumah, dan pada saat itu ada seornag nenek yang bertanya kepada anaknya tentang sebuah alamat rumah.

Sang nenek bukannya mendapat jawaban dari anak itu tetapi yang didapat nenek adalah cacian dan kata-kata kasar. Sehingga menjadikan sang nenek begitu kelihatan sedih mendengar jawaban dari anak itu. Ayahnya yang melihat kejadian itu langsung menggelengkan kepala dan segera berusaha mencari cara untuk menyadarkan anaknya juga sekaligus hukuman atas apa yang telah ia perbuat. Maka pada keesokan harinya sang ayah memberikan sekantong paku dan menyuruh anaknya untuk mempaku pagar kayu yang ada didepan rumah dan semua pagar harus dipaku tidak boleh ada yang terlewatkan kata sang ayah. Pada awalnya anak itu tidak mau menuruti permintaan ayahnya tetapi karna terus didesak sang ayah akhirnya sang anak melakukannya walaupun dengan rasa terpaksa.

Hari pertama anak itu bekerja memaku pagar kayu yg ada didepan rumahnya pada hari itu dia mendapatkan ¼ pagar pada hari berikutnya mendapat ½ dan hari berikutnya mendapat ¾ dan hingga hari keempat semunya sudah selesai. Setelah selesai dia melaporkan pekerjaan nya kepada sang ayah bahwa pekerjaannya sudah selesai tetapi apa jawaban ayhanya. Ayahnya menyuruh mengambil lagi paku yang tertancap dipagar dan menyuruh agar pagar itu dikembalkan semula seperti sebelum di paku. Sekali lagi anak itu kesal dengan sikap ayahnya tetapi dia tetap mengerjakan perintah ayah nya seharian penuh ia mencabut paku dan menambal lubang paku yang ada dip agar dan setelah selesai semua ia melaporkan peerjaannya kepada ayahnya.

Ayahnya “berkata kenapa pagarnya tidak bisa seperti semula” sang anak menjawab” itu akan sulit ayah karna sudah banyak paku yang  tertancap dipagar dan paku itu mejadikan lubang dipagar walaupun aku menambalnya tetap saja pagar itu akan ada bekas paku itu” kata anaknya.

Ayahnyapun menjawab “ seperti itulah anakku gambaran perilakumu selama ini! Kamu mudah sekali membuat orang disekitarmu sakit hati karna ucapanmu yang kasar ‘ ucapanmu itu melukai perasaan orang lain dan meninggalkan bekasnya seperti paku yang meninggalkan bekasnya dipagar ,hingga kamu membuat orang itu sedih dan hati orang yang kamu sakiti itu tidak akan pernah sama lagi seperti sebelum kamu melukai hati orang itu tidak peduli berapa banyak  kamu meminta maaf tetapi hati orang yang kamu sakiti itu tidak akan pernah sama lagi seperti pagar itu walaupun pagar itu sudah kamu tambal tetap  juga tidak bisa tampak seperti semula”

Mendengar perkataan ayahnya sang anak hanya terdiam tertunduk dan mulai sejak itu anak itu melai berubah lebih baik sedikit demi sedikit.

******************************************************************

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau Mengadakan perdamaian di antara manusia. dan Barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, Maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (QS An-Nisa’ (4) ayat 114)

Teman Lisan ibarat senjata sejati bagi manusia seperti pada ayat tersebut pada prinsipnya agama islam tidak melarang seseorang untuk banyak berucap  hanya saja , ucapan yang keluar dari lisan hendaklah yang baik-baik saja. Perlu kita ketahui bahwa lidah adalah tak bertulang , namun ketajamannya dapat menembus hingga lubuk hati yang paling dalam. Luka yang diakibatkannya pun sering kali sulit untuk bisa dilupakan dalam waktu yang singkat. Maka rasulullah mensinyalir bahwasanya lisan dapat membawa kerusakan yang besar kalau kita tidak dapat menjaganya.

“ Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berucap yang baik atau diam.”  (HR Muslim)

Dengan kata lain menjaga lisan itu adalah halyang harus benar-benar kita perhatikan. Sehingga dimasukkan ke dalam salah satu cirri atau tanda keimanan kita pada Allah dan rasulnya. Dalam realita pun kita dapat melihat seberapa besar bahaya yang diakibatkan oleh kejahatan lisan itu sendiri. Persaudaraan, kekerabatan, pertemanan, perceraian, bahkan pertumpahan darah pun bisa terjadi karena bahaya  yang dihasilkan oleh lisan. Hal ini memperkuat betapa pentingnya memperhatikan lisan kita agar tidak melukai perasaan orang lain, terlebih sampai menimbulkan kemadhorotan yang lebih besar. Kita juga sering mendengar perkataan “ diam itu emas” dan itu memang sejalan dengan apa yang diajarkan oleh agama. Teman  satu lagi pelajaran penting dapat kita ambil pelajaran dan sebagai perbaikan kita untuk terus memperbaiki diri kita semoga bermanfaat.

Sumber : http://qolbussalam.wordpress.com/2010/12/28/paku/


Allah berfirman,
"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran." (QS.Al-Ashr: 1 – 3)

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan HIKMAH dan PELAJARAN yang BAIK dan BANTAHLAH mereka dengan CARA yang TERBAIK. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”  (QS An-Nahl ayat 125)

"….Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran." (QS az-zumar (39) ayat : 9)

"….Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS al-mujadillah (58) ayat 11)

"….Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah oraang-orang yang berilmu (ulama)…"   (QS fathir (35) ayat 28)

Nabi Muhammad SAW. bersabda,
"Barang siapa yang bertambah ilmunya namun tiada bertambah amalnya Tiada bertambah baginya dengan Allah kecuali bertambah jauh " (HR. Dailami dari Ali).

"Orang yang paling pedih siksaannya pada hari kiamat ialah seorang alim yang Allah menjadikan ilmunya tidak bermanfaat."  (HR. Al Baihaqi)


Wallahu a’lam bish-shawabi... (hanya Allah yang Mahatahu Kebenarannya)
Catatan ini kami tujukan untuk kami pada khususnya...
dan untuk semua pembaca pada umumnya...
Jika terjadi kesalahan dan kekurangan disana-sini dalam catatan ini...
Itu hanyalah dari kami...
dan kepada Allah SWT., kami mohon ampunan...

Semoga Allah SWT. memberi kekuatan untuk kita amalkan... Amin
Wassalam...

Semoga Bermanfaat dan bisa kita ambil hikmahnya... Amin
Silahkan COPY atau SHARE ke rekan anda jika menurut anda notes ini bermanfaat...

Catatan :
Lampirkan sumbernya ya... Syukron

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar