Minggu, 06 Maret 2011

Larangan Ghuluw dan Berlebih- lebihan dalam memuji Nabi SAW.

Larangan Ghuluw dan Berlebih- lebihan dalam memuji Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam

Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,
“Janganlah kalian berlebih- lebihan dalam memujiku, sebagaimana orang- orang Nasrani telah berlebih- lebihan memuji ‘Isa putera Maryam. Aku hanyalah hamba- Nya, maka katakanlah, “’Abdullaah Wa Rosuuluhu (hamba Alloh dan Rasul- Nya”. [HR. al- Bukhori No. 3445, at- Tirmidzi dalam Mukhtasharusy Syamaa-il al- Muhammadiyyah No. 284, Ahmad (I/ 23, 24, 47, 55), ad- Darimi (II/ 320) dan yang lainnya dari Shahabat ‘Umar bin al- Khaththab Radhialloohu 'Anhu].

Dengan kata lain JANGANLAH KALIAN MEMUJIKU SECARA BATHIL DAN JANGANLAH KALIAN BERLEBIH-LEBIHAN DALAM MEMUJIKU. Hal itu sebagaimana yang telah dilakukan oleh orang- orang Nasrani terhadap ‘Isa ‘Alaihis Salaam, sehingga mereka menganggapnya memiliki Sifat Ilahiyyah, karenanya “Sifatilah aku sebagaimana Rabb- ku memberi sifat kepadaku, maka katakanlah “Hamba Alloh dan Rasul (utusan)- Nya”. (‘Aqiidatut Tauhiid. Hal. 151)

‘Abdulloh bin asy- Syikhkhir Radhialloohu 'Anhu berkata,
“Ketika aku pergi bersama delegasi Bani ‘Amir untuk menemui Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam, kami berkata kepada beliau, “Engkau adalah SAYYID (penguasa) kami!” Spontan Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam menjawab,ASSAYYIDULLOOHU TABAAROKA WA TA’ALA”, “Sayyid (penguasa) kita adalah Alloh Tabaaroka Wa Ta’ala!” Lalu kami berkata, “Dan engkau adalah orang yang paling utama dan paling agung kebaikannya”. Serta merta beliau Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam mengatakan, “Katakanlah sesuai dengan apa yang biasa (wajar) kalian katakan, atau seperti sebagian ucapan kalian dan janganlah sampai kalian terseret oleh Syaithan.” [HR. Abu Dawud No. 4806, Ahmad (IV/ 24, 25), al- Bukhori dalam al- Adabul Mufrad No. 211/ Shahiihul Adabil Mufrad No. 155, an- Nasa-i dalam ‘Amalul Yaum Wal Lailah No. 247, 249, al- Hafizh Ibnu hajar al-‘Asqalani berkata, “Rawi- rawinya Shahih. Dishahihkan oleh para ulama (ahli hadits)”. (Fat- hul Baari V/ 179)].

Anas bin Malik Radhialloohu 'Anhu berkata, “Sebagian orang berkata kepada beliau Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam, “Wahai Rasululloh, wahai orang yang terbaik di antara kami dan putera orang yang terbaik di antara kami! Wahai Sayyid kami dan putera Sayyid kami!” Maka seketika itu juga Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,
“Wahai manusia, ucapkanlah dengan yang biasa (wajar) kalian ucapkan! Jangan kalian terbujuk oleh syaihtan, aku (tidak lebih) adalah Muhammad, hamba Alloh dan Rasul- Nya. Aku tidak suka kalian mengangkat (menyanjung)ku di atas (melebihi) kedudukan yang telah Alloh berikan kepadaku.” [HR. Ahmad (III/ 153, 241, 249), an- nasa-i dalam ‘Amalul Yaum Wal Lailah No. 249, 250, dan al- Lalika-i dalam Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah Wal Jamaa’ah No. 2675. Sanadnya Shahiih dari Shahabat Anas bin Malik Radhialloohu 'Anhu].

Beliau Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam membenci jika orang- orang memujinya dengan berbagai ungkapan seperti, “Engkau adalah Sayyid ku, engkau adalah orang yang terbaik di antara kami, engkau adalah orang yang paling utama di antara kami, engkau adalah orang yang paling agung di antara kami”, padahal sesungguhnya beliau adalah makhluk yang paling utama dan paling mulia secara mutlak. Meskipun demikian beliau melarang mereka agar menjauhkan mereka dari sikap melampaui batas dan berlebih- lebihan dalam menyanjung hak beliau Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam, juga untuk menjaga kemurnian Tauhid. Selanjutnya beliau Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam mengarahkan mereka agar menyifati beliau dengan dua sifat yang merupakan derajat paling tinggi bagi hamba yang di dalamnya tidak ada ghuluw serta tidak membahayakan’Aqidah, dua sifat itu adalah ‘Abdullooh Wa Rasuuluhu (Hamba dan Utusan Alloh).

Beliau Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam tidak suka disanjung melebihi dari apa yang Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berikan dan Alloh ridhoi. Tetapi banyak manusia yang melanggar larangan Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam tersebut sehingga mereka berdo’a kepadanya, meminta pertolongaan kepadanya, bersumpah dengan namanya serta meminta kepadanya sesuatu yang tidak boleh diminta kecuali hanya kepada Alloh Ta’ala. Hal itu sebagaimana yang mereka lakukan ketika peringatan MAULID NABI SHALLALLAAHU 'ALAIHI WA SALLAM, dalam KASIDAH, atau NASYID di mana mereka tidak membedakan antara HAK ALLOH TA’ALA dengan HAK RASULULLOH SHALLALLAAHU 'ALAIHI WA SALLAM.

Al- ‘Allamah Ibnu Qayyim al- Jauziyyah Rahimahulloh dalam kasidah Nuniyyah berkata,
“Alloh memiliki hak yang tidak dimiliiki selain- Nya, Bagi hamba pun ada hak, dan ia adalah dua hak yang berbeda, Jangan kalian jadikan dua hak itu menjadi satu hak, Tanpa memisahkan dan tanpa membedakannya.” (‘Aqiidatut Tauhiid Hal. 152. Oleh Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah al- Fauzan).

Ghuluw artinya melampaui batas, Dikatakan: jika ia melampaui bats dalam ukuran. Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
“Janganlah kalian melampaui batas dalam agamamu..” (QS. An- Nisaa’: 171)

Rasululloh Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,
“Jauhkan diri kalian dari Ghuluw (berlebih- lebihan) dalam agama karena sesungguhnya sikap Ghuluw dalam agama ini telah membinasakan orang- orang sebelum kalian”. [HR. Ahmad (I/ 215), an- Nasa-i (V/ 268), Ibnu Majah (No. 3029), Ibnu Khuzaimah (No. 2867) dan lainnya, dari Shahabat Ibnu ‘Abbas Radhialloohu 'Anhuma, sanad hadits ini Shahih menurut Syarat Muslim. Dishahihkan oleh Imam an- Nawawi dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah].


Sumber : http://buletindarulilmy.blogspot.com/2010/11/larangan-ghuluw-dan-berlebih-lebihan.html


PENYEBAB UTAMA KEKAFIRAN

PENYEBAB UTAMA KEKAFIRAN ADALAH BERLEBIH-LEBIHAN DALAM MENGAGUNGKAN ORANG-ORANG SHOLEH
Firman Allah Subhanahu wata’ala :
“Wahai orang-orang ahli kitab, janganlah kalian melampaui batas dalam agama kalian, dan janganlah kalian mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar.” (QS. An nisa’, 171).

Dalam shoheh Bukhori ada satu riwayat dari Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu yang menjelaskan tentang firman Allah Subhanahu wata’ala :
“Dan mereka (kaum Nabi Nuh) berkata : janganlah sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Tuhan-tuhan kamu, dan janganlah sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq maupun Nasr” (QS. Nuh, 23)

Beliau (Ibnu Abbas) mengatakan :  
“Ini adalah nama orang-orang sholeh dari kaum Nabi Nuh, ketika mereka meniggal dunia, syetan membisikan kepada kaum mereka agar membikin patung-patung mereka yang telah meninggal di tempat-tempat dimana disitu pernah diadakan pertemuan-pertemuan mereka, dan mereka disuruh memberikan nama-nama patung tersebut dengan nama-nama mereka, kemudian orang-orang tersebut menerima bisikan syetan, dan saat itu patung-patung yang mereka buat belum dijadikan sesembahan, baru setelah para pembuat patung itu meninggal, dan ilmu agama dilupakan, mulai saat itulah patung-patung tersebut mulai disembah”.

Ibnul Qoyyim berkata ([1]):
“banyak para ulama salaf mengatakan : “setelah mereka itu meninggal, banyak orang-orang yang berbondong-bondong mendatangi kuburan mereka, lalu mereka membikin patung-patung mereka, kemudian setelah waktu berjalan beberapa lama ahirnya patung-patung tersebut dijadikan sesembahan”.

Diriwayatkan dari Umar Radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
“Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku, sebagaimana orang-orang Nasrani berlebih-lebihan dalam memuji Isa bin Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah : Abdullah (hamba Allah) dan Rasulullah (Utusan Allah)” (HR. Bukhori dan Muslim).

Dan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
“Jauhilah oleh kalian sikap berlebih-lebihan, karena sesungguhnya sikap berlebihan itulah yang telah membinasakan orang-orang sebelum kalian” (HR. Ahmad, Turmudzi dan Ibnu majah dari Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu).

Dan dalam shoheh Muslim, Ibnu Mas’ud Radhiallahu’anhu berkata : bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: 
“Binasalah orang-orang yang bersikap berlebih-lebihan, Binasalah orang-orang yang bersikap berlebih-lebihan, Binasalah orang-orang yang bersikap berlebih-lebihan(diulanginya ucapan itu tiga kali).

Kandungan dalam bab ini :
Orang yang memahami bab ini dan kedua bab setelahnya, akan jelas baginya keterasingan Islam, dan ia akan melihat betapa kuasanya Allah itu untuk merubah hati manusia.

Mengetahui bahwa awal munculnya kemusyrikan di muka bumi ini adalah karena sikap berlebih-lebihan terhadap orang-orang sholeh.

Mengetahui apa yang pertama kali diperbuat oleh orang-orang sehingga ajaran para Nabi menjadi berubah, dan apa faktor penyebabnya ?, padahal mereka mengetahui bahwa para Nabi itu adalah utusan Allah.

Mengetahui sebab-sebab diterimanya bid’ah, padahal syari’ah dan fitrah manusia menolaknya.
Faktor yang menyebabkan terjadinya hal diatas adalah tercampur aduknya kebenaran dengan kebatilan ;
Adapun yang pertama ialah : Rasa cinta kepada orang-orang sholeh.
Sedang yang kedua ialah : tindakan yang dilakukan oleh orang orang ‘alim yang ahli dalam masalah agama, dengan maksud untuk suatu kebaikan, tetapi orang-orang yang hidup sesudah mereka menduga bahwa apa yang mereka maksudkan bukanlah hal itu.

Penjelasan tentang ayat yang terdapat dalam surat Nuh ([2]).
Mengetahui watak manusia bahwa kebenaran yang ada pada dirinya bisa berkurang, dan kebatilan malah bisa bertambah.

Bab ini mengandung suatu bukti tentang kebenaran pernyataan ulama salaf bahwa bid’ah adalah penyebab kekafiran.
Syetan mengetahui tentang dampak yang diakibatkan oleh bid’ah, walaupun maksud pelakunya baik.

Mengetahui kaidah umum, yaitu bahwa sikap berlebih-lebihan dalam agama itu dilarang, dan mengetahui pula dampak negatifnya.

Bahaya dari perbuatan sering mendatangi kuburan dengan niat untuk suatu amal shalih.

Larangan adanya patung-patung, dan hikmah dibalik perintah menghancurkannya (yaitu : untuk menjaga kemurnian tauhid dan mengikis kemusyrikan).

Besarnya kedudukan kisah kaum Nabi Nuh ini, dan manusia sangat memerlukan akan hal ini, walaupun banyak diantara mereka yang telah melupakannya.

Satu hal yang sangat mengherankan, bahwa mereka (para ahli bid’ah) telah membaca dan memahami kisah ini, baik lewat kitab-kitab tafsir maupun hadits, tapi Allah menutup hati mereka, sehingga mereka mempunyai keyakinan bahwa apa yang dilakukan oleh kaumnya Nabi Nuh adalah amal ibadah yang paling utama, dan merekapun beranggapan bahwa apa yang dilarang oleh Allah dan Rasulnya adalah kekafiran yang menghalalkan darah dan harta.

Dinyatakan bahwa mereka berlebih-lebihan terhadap orang-orang sholeh itu tiada lain karena mengharapkan syafaat mereka.

Mereka menduga bahwa orang-orang berilmu yang membikin patung itu bermaksud demikian.

Pernyataan yang sangat penting yang termuat dalam sabda Nabi : “Janganlah kalian memujiku dengan berlebih-lebihan, sebagaimana orang-orang Nasrani berlebih-lebihan dalam memuji Isa bin Maryam”. Semoga sholawat dan salam senantiasa dilimpahkan Allah kepada beliau yang telah menyampaikan risalah dengan sebenar benarnya.
Ketulusan hati beliau kepada kita dengan memberikan nasehat bahwa orang-orang yang berlebih-lebihan itu akan binasa.

Pernyataan bahwa patung-patung itu tidak disembah kecuali setelah ilmu [agama] dilupakan, dengan demikian dapat diketahui nilai keberadaan ilmu ini dan bahayanya jika hilang.

Penyebab hilangnya ilmu agama adalah meninggalnya para ulama.

Sumber : http://sabdaislam.wordpress.com/2009/12/16/bab-19-penyebab-utama-kekafiran/

Firman Allah Swt,
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik  bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (Al-Ahzab:21)

Jadikan diri mu (saudara-saudari) sebagai orang-orang yang beriman (percaya) dan bertaqwa (yaitu menjalankan perintahNya dan menjauhi larangan-Nya) hanya kepada Allah swt dan rasul-Nya.

Inginkah diri mu berkumpul dengan orang-orang yang engkau cintai di Syurga kelak?
Maka tirulah akhlaq beliau Rasulullah saw.

Rasulullah SAW pernah bersabda:
”Demi Dzat yang jiwaku berada di genggaman-Nya; Tidak sempurna iman salah seorang antara kalian sehingga ia mencintaiku (Muhammad) melebihi cintanya kepada orang tua dan anak-anaknya.” (HR. Bukhari).

Dari Anas r.a. berkata: Seorang Arab bertanya kepada Rasulullah saw,
"Bilakah hari kiamat?" Rasulullah saw menjawab, "Apakah bekalmu untuk menghadapinya?" Ia menjawabnya cinta kepada Allah dan Rasul-Nya maka Rasulullah saw bersabda, "Engkau akan berkumpul dengan orang yang engkau cintai." (HR. Bukhari-Muslim).

Tapi ingat ya... Jangan berlebih-lebihan karnanya (Muhammad), karena Rasulullah tidak menyukainya...

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
“Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku, sebagaimana orang-orang Nasrani berlebih-lebihan dalam memuji Isa bin Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah : Abdullah (hamba Allah) dan Rasulullah (Utusan Allah)” (HR. Bukhori dan Muslim).


Wallahu a’lam bish-shawabi... (hanya Allah yang Mahatahu Kebenarannya)
Jika terjadi kesalahan dan kekurangan disana-sini dalam catatan ini...
Itu hanyalah dari kami...
dan kepada Allah SWT., kami mohon ampunan...

Semoga Allah SWT. memberi kekuatan untuk kita amalkan.
Wassalam...

Semoga Bermanfaat dan bisa kita ambil hikmahnya... amin
Silahkan COPY atau SHARE ke rekan anda jika menurut anda notes ini bermanfaat...

Lampirkan Sumbernya ya... Syukron

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar