Minggu, 20 Maret 2011

Belajar pada Lelaki Pendayung

“Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya setiap orang mendapatkan sesuai apa yang diniatkan, barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang akan didapatkan atau wanita yang akan dinikahi maka hijrahnya sesuai dengan apa yang dia niatkan.”(HR. Bukhari Muslim)


Tersebutlah seorang anak muda yang sangat cerdas yang karena kecerdasannya ia diangkat menjadi penasihat istana. Setiap hari ia mendulang pengetahuan dengan bergelut dengan buku. Rasa-rasanya hanya bukulah satu-satunya sahabat bagi pemuda itu. Setiap perkara yang menimpa kerajaan, penasihatlah yang akan mengurainya. Begitu terus keadaannya. Selalu ada ide-ide cemerlang yang diungkapkannya. Hingga suatu saat pada anak-anak muda yang ingin belajar padanya ia mengatakan, “Kalian tidak salah pilih guru. Akulah guru yang tepat bagi kalian. sudah terbukti bahwa akulah yang paling pinter di kerajaan ini.”

Mendengar tuturan sang penasihat itu, anak-anak muda itu hanya menganggukkan kepala. dalam hati mereka mengagumi sang penasihat.

Pada suatu senja yang dingin oleh rintik hujan, sang penasihat bermaksud mengarungi sungai yang melingkari istana. Akhirnya, ia berangkat bersama seorang lelaki tua pendayung perahu. Selama perjalanan bermula keduanya saling diam. Pembicaraan baru terjadi ketika sang penasihat mulai melukis. Rupa-rupanya ia bermaksud unjuk kemampuan di hadapan pak tua. “Pak, dapatkah kamu melukis seperti yang aku lakukan?”

“Tuan, mohon maaf. Pekerjaan saya hanya mendayung perahu, saya tidak terbiasa menggoreskan kuas,” jawab lelaki itu.

“Sungguh malang benar nasibmu Pak Tua. Melukis menjadikan hatimu menjadi lebih terasah. Jika kamu tidak menguasainya sama artinya kamu kehilangan 2/5 hidupmu,” kata sang penasihat dengan angkuh. Lelaki pendayung itu hanya terdiam. Wajahnya menunjukkan kesedihan.

Beberapa saat kemudian sang penasihat memperlihatkan kemampuannya berhitung. Lelaki pendayung itu berdecak kagum. “Pak Tua, bisakah kamu berhitung seperti aku?” Lelaki itu hanya menggelengkan kepala.

“Sungguh malang benar nasibmu Pak Tua. Berhitung menjadikan akalmu menjadi lebih tajam. Jika kamu tidak menguasainya sama artinya kamu kehilangan 3/5 hidupmu,” kata sang penasihat sambil menyunggingkan senyum menghina.

Kembali sang penasihat menunjukkan kemampuannya. Kali ini ia menyebutkan setiap nama tanaman berserta kasiatnya yang tertanam di tepian sungai. “Tolong dekatkan dengan daratan dan akan aku sebutkan nama-nama tanaman beserta kasiatnya yang lebih banyak lagi!”

Lagi-lagi lelaki pendayung itu berdecak kagum. “apakah kau memiliki kemampuan tentang tanaman seperti yang aku miliki?” Untuk kesekian kali lelaki itu hanya terdiam sambil menggelengkan kepala. “Tidak Tuan, saya sangat awam tentang itu.”

“Sungguh malang benar nasibmu Pak Tua.  Jika kamu tidak menguasainya sama artinya kamu kehilangan 4/5 hidupmu,” kata sang penasihat. Suara tawanya terdengar menghina. Tiba-tiba ada sebuat batang kayu yang melintang di depan perahu. Lelaki pendayung itu terperanjat, tapi terlambat. Perahu itu menabraknya, oleng, dan sebuah lubang menganga di perahu. Air mulai masuk ke dalam perahu. Lelaki Tua itu segera melombat dan berenang ke tepian. Tiba-tiba wajah sang penasihat berubah pias.

“Tuan, dapatkah Anda berenang?” tanya Lelaki Tua itu.

“Tidak. Aku tidak bisa berenang,” kata sang penasihat, “Tapi aku sangat tahu apa yang menyebabkan perahu ini menjadi oleng dan bocor. Ini semua karena ulahmu yang tidak mampu menguasai perahu.”

“Sungguh malang benar nasibmu Tuan. Saya tidak memiliki kemampuan Tuan sehingga saya kehilangan 4/5 hidup saya. Tapi kali ini saya memiliki sisa 1/5 yang mampu menyelamatkan diri saya. Dan, hanya karena Tuan tidak menguasai yang 1/5 milik saya, saya tidak tahu pasti akan nasib hidup Tuan selanjutnya.”

Sumber : http://matahati01.wordpress.com/2010/09/23/belajar-pada-lelaki-pendayung/


Nabi Muhammad SAW. bersabda,
"Barang siapa yang bertambah ilmunya namun tiada bertambah amalnya Tiada bertambah baginya dengan Allah kecuali bertambah jauh " (HR. Dailami dari Ali).

Nabi Muhammad SAW. juga bersabda,
"Orang yang paling pedih siksaannya pada hari kiamat ialah seorang alim yang Allah menjadikan ilmunya tidak bermanfaat."  (HR. Al Baihaqi)


Wallahu a’lam bish-shawabi... (hanya Allah yang Mahatahu Kebenarannya)
Catatan ini kami tujukan untuk kami pada khususnya...
dan untuk semua pembaca pada umumnya...
Jika terjadi kesalahan dan kekurangan disana-sini dalam catatan ini...
Itu hanyalah dari kami...
dan kepada Allah SWT., kami mohon ampunan...

Semoga Allah SWT. memberi kekuatan untuk kita amalkan... Amin
Wassalam...

Semoga Bermanfaat dan bisa kita ambil hikmahnya... Amin
Silahkan COPY atau SHARE ke rekan anda jika menurut anda notes ini bermanfaat...

Catatan :
Lampirkan sumbernya ya... Syukron

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar