Selasa, 01 Maret 2011

Tegar Di Tengah Badai


"Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum maka tidak ada yang dapat menolaknya dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia." (Ar-Ra’d: 11)

Ini adalah perjalanan yang mewarnai gubahan gubahan perasaan, dari lukisan jiwa yang berharap terkaan bisa memberi kepastian. Namun seringnya ada hal – hal yang tak terduga yang terjadi, saat dimana jalan keluar yang datang justru tidak sesuai rencana dan terkaan kita. Sungguh saat – saat seperti itu selalu saja memberikan pencerahan. Karena pada akhirnya nalar memang takkan pernah seratus persen bisa menembus rahasia dari lapisan langit.

Ketika nafas melangkah dalam beragam warna, dan seringkali akalpun masih sulit menerka mana hikmah dan mana kebutaan jiwa. Karena banyak juga kebodohan terlihat bukan karena kita tidak tahu, namun karena kita tidak berani jujur bahwa kita tidak tahu.

Untuk mereka yang terasing dalam pengeroyokan pembenaran. Tak ada kesaksian hakiki selain nurani sejati yang selalu merasa tak berharga jika dia berjalan tak sesuai denyut kompas kejujuran jiwanya. Karena ucapan baginya sebuah pedang, yang ketajamannya terletak pada penerapan kata katanya. Itulah hakikat perlawanan. Ia bertarung antara kejujuran dan ketidakpastian, ia berkata antara kemampuan dan fatamorgana, ia bergelut diantara kesetiaan dan pembangkangan, ia mengasah taring jati dirinya diantara konsekuensi ideologis atau hanya sebuah maha karya utopis.

Ia terasing dalam begitu banyak kemungkinan antara berkata tidak atau iya pada kondisi dimana ia harus menaruh senjata, dan lehernya diatas kenyakinan pilihan hidupnya. Karena jatidiri adalah bahan bakar perlawanan, ia bukan euphoria resistensi yang hanya mampu bergumam dalam kata kata tapi ia juga bicara penerapan yang nyata.

Sloganisme adalah keniscayaan, karena itulah salah satu bagian dari seni berpropaganda. Namun sloganisme juga merupakan kebodohan selanjutnya, ketika ia berkata tanpa bisa mengenal dirinya sendiri. Ia berguman dalam secangkir kopi dan rokok yang ia nyalakan tak perduli berapa kali matahari dan bulan bergiliran menukar jam kerjanya, sedangkan ia masih sibuk merakit stagnasi sambil mengunyah gundah dan keresahan yang ia tutupi karena tidak mampu menindak lanjuti ideologi ke fase penerapan, yang semua itu dikarenakan frekuensi nuraninya terlanjur dipenuhi ironi matahati yang ingin menebak isi matahari dengan mikroskop harga diri, yang ia sendiri tidak bisa membedakan mana gengsi mana kejujuran hati.

Maka lawanlah keterbatasan ini, namun jika kau kalah yakinlah itu bukanlah hari final untuk menyerah. Begitu juga ketika kau menang, jangan biarkan bangga menjadi sombong, lalu kita terlalu lemah untuk melepaskan diri dari belenggu hati yang kian kropos dirayapi riya, yang seringkali rayap ini jauh lebih licin mengelabui kita dalam membunuh ruang keikhlasan.

Percayalah hidup hanya di mobilisasi oleh dua hal yaitu doa dan ikhtiar. Kedua hal itu terjaga dalam iman dan kenyakinan. Iman dan kenyakinan kitalah yang membentuk aturan aturan hidup kita, dari aturan itu kelak akan ada pembeda antara yang benar dan yang salah. Walau pada sisi yang lain salah dan benar juga merupakan bagian dari apa yang kita sebut kenyakinan. Tinggal masalahnya anda yakin pada apa atau siapa? Mengapa? Karena apa? Untuk apa? Dan lusinan pertanyaan yang mendarat dalam nurani kita.

Ada sebuah kisah nyata tentang seorang akhwat yang begitu militan dalam berjuang di jalan dakwah ini. Ia bukan hanya akhwat, tapi ia juga memiliki cukup binaan untuk disebut Ustadzah. Dalam perjalanannya ia menikah dengan seorang Ikhwan yang cukup ‘mapan’ dilihat dari penghasilan Ikhwan itu bekerja disuatu perusahaan.
Pernikahan mereka begitu wah bukan sekedar karena biaya besarnya, namun juga dikarenakan pernikahan mereka juga menjadi bahan pembicaraan, mungkin…pada saat itu banyak yang iri karena kedua pasangan dianggap punya kelas tersendiri di komunitasnya.

Hingga tiba disuatu masa, sang suami harus berhenti dari pekerjaan karena suatu alasan. Goyanglah pondasi ekonomi rumah tangga. Suasana rumah yang biasanya begitu mesra nan romantis berubah menjadi sensitif.

Dihari dimana saya harus bertahan diantara keterbatasan hidup saya, saya bertemu dengan ikhwan tersebut. Saya lihat raut wajah yang berbeda, saya seperti kehilangan keceriaan yang biasa saya lihat dari dirinya. Sepulang dari silahturahmi itu, ikhwan tersebut berdiri dipintu rumah sambil menatap saya, lalu ia berkata :
“doain ya akh.. pernikahan ana sudah di ujung tanduk”

Serentak seluruh badan saya kaget mata saya menatap terkejut. Singkatnya sudah tidak ada kecocokan. Bahkan yang lebih extreme lagi sang Mujahidah itu enggan untuk melayani sang suami sebelum si suami itu punya penghasilan minimal 1 juta perbulan.

Dan saat itu pula saya tertunduk haru, gundah, sedih berkecamuk menjadi satu. Kadang kita merasa bahwa kita adalah orang yang paling susah di dunia ini, namun kita juga sering lupa dibelahan bumi ada begitu banyak saudara kita yang mungkin tidak bisa menikmati sholat subuh setenang kita yang masih memiliki begitu banyak kesempatan, untuk beranjak menuju masjid. Bahkan karena begitu longgarnya suasana tidak sedikit dari kita yang terbiasa melaksanakan subuh di rumah saja, karena lelap telah menenggelamkan kita dalam kelalaian untuk tidak berjamaah di Masjid.

Padahal pada saat yang sama ada cerita tentang mortir dan peluru yang melubangi lusinan tanah dan tubuh di belahan bumi jihad di sisi lain dunia ini. Ada lusinan anak kecil yang kehilangan orang tuanya karena tirani fasisme dari topeng demokrasi, yang justru anak anak itu mampu menghafalkan Al Quran jauh lebih banyak dari kita, terutama diri saya ini.

Di kereta itu saya melamun panjang, memikirkan diri saya, istri saya, teman- teman saya dan saudara saudara seiman diantara ragam fenomena pergolakan gerakan Islam. Tentang kisah daun – daun yang berguguran, entah gugur karena lelah, atau berkhianat bahkan ada yang tidak sadar ia sudah gugur dalam baju pejabat parlemen berlabel partai islam dalam bingkai kompromi thagut dan nostalgia pembenaran, yang makin rutin memupuk pembenaran atas nama agama dan kemaslahatan. Yang pada akhirnya hanya mengeluarkan jawaban yang sama kalau tidak mau dibilang kehabisan dalil tapi mau banyak berdalih menutupi keterbatasan. Menjadikan fitnah sebagai argument, namun mengelakan fakta demi nama baik jamaah.

Untuk setiap keterasingan saya menulis ini, karena dalam keterasingan saya belajar tentang ketangguhan. Ketika begitu banyak orang terjebak dalam kegalauan antara kontradiksi mungkin dan tidak mungkin. Namun keterasingan telah membuat kelemahan bisa menemukan potensinya untuk berdiri menantang badai. Keterasingan bukanlah suatu hal yang buruk, jika kita tahu bahwa Islam juga dimulai dari sebuah keterasingan.

Saya yakin berjamaah bukan sekedar sebuah masalah administrasi ketika anda hendak bergabung dengan sebuah organisasi Islam, namun lebih dari itu, ia adalah kemampuan berbagi bukan hanya pada saat kepentingan memilih dalam sebuah panggung politik praktis, bukan pula dalam kepentingan mengumpulkan massa dalam sebuah rencana demonstrasi. Tapi lebih daripada itu berjamaah adalah sebuah kekuatan yang hidup dari kekuatan aqidah. Dari kesadaran aqidah lahir tanggung jawab ukhuwah. Itulah inti dari persatuan umat Islam. Ia tidak digagas dalam permasalahan bendera organisasi, tapi lebih daripada itu ia adalah kemampuan berbagi, mengisi dan saling menguatkan dari dasar Aqidah tanpa memandang latar belakang golongan, ras atau suku bangsa juga organisasi Islam.

Seperti semua permasalahan hidup yang ada, begitulah keterasingan ternyata harus tetap kita syukuri. Karena dari keterasingan ada pesan ‘Iqro’ yang disampaikan Malaikat Jibril kepada lelaki mulia itu di gua Hira. Maka bacalah dengan kesyukuran jiwamu, dan jika kau peka dalam keterasingan ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil menjadi bekal menuju kehidupan asing yang mengabadikan kebahagiaan di tempat termulia yang Pemiliknya juga selalu dianggap asing oleh mereka yang hatinya penuh dengan dusta dan kebutaan jiwa.

Maka tak usah kau sedih jika ada yang mengasingkan dirimu hanya karena pemikiranmu, idealisme atau semangat yang hidup bersama konsistensi komitmenmu pada keilmuan. Selama kau yakin bahwa kau tidak sedang menodai Al Quran dan As Sunnah, selama kau tidak berniat memecah belah umat, selama kau ingin melawan keopportunisan dunia dengan lusinan kapitalisme dengan atau tanpa baju syariah, Selama engkau memiliki jiwa untuk tidak beramal dengan ketaklitan. Percayalah keterasinganmu adalah anugerah, karena engkau terpilih menjadi bagian dari sejarah sejarah tersembunyi, dan hanya bisa dinikmati oleh mereka yang bisa melihat dari kejelian tanpa penyakit hati dan dengki.

Karena pada saat itu keterasinganmu telah memberikan engkau ruang besar untuk menggagas rencana besar tentang ilmu dan amal, tentang masa depan, tentang cita cita yang tidak terbatasi dogmatis dan pragmatisme tradisi berlabel norma dan agama. Dan jika ada aturan yang tidak bisa kau lawan, maka pilihannya cuma dua kafir atau menjadi muslim tak kenal kompromi.

Maka pekerjaan keterasingan berbuah dalam sikap yang apa adanya. Maksimal sesuai kemampuannya, ketika selesai ia akan berpikir inovasi lain untuk mendobrak kejenuhan dari variable gerakan untuk menemukan gagasan gagasan baru mengerahkan invasi keruang ruang baru yang selalu dianggap tak bisa ditembus oleh lelucon pragmatisme yang terlanjur menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal demi apa yang mereka sebut strategi dakwah.

Dan disitu pula keterasingan tidak pernah mengajarkan kita melaporkan kebaikan kita pada media jika hanya untuk dipamerkan pada segumpal rongsokan bernama Dunia. Maka kerjakanlah dalam keterasinganmu, apa yang bisa kau kerjakan bagi umat ini. Walau ada dinding keterbatasan yang menghalangi, yang perlu kau lakukan hanyalah yakin. Bahwa tak ada kisah satupun orang beriman yang mati sia sia kecuali mereka beranjak dalam kemuliaan. Semulia Hidupnya atau Semulia kesyahidannya.

Percayalah selalu ada “air zam zam” untukmu, jika kau mau belajar untuk yakin dalam doa dan keistiqomahan ikhtiarmu, dan Siti Hajar sudah merasakan itu ketika ia harus mengikhlaskan kepergian Nabi Ibrahim As untuk menunaikan tugas dakwahnya. Karena sejatinya jika kau memang beriman, maka tak ada keterasingan dalam dirimu selain engkau selalu ditemani oleh sesuatu yang kau yakin bahwa tidak ada tuhan lain selain Allah Swt dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Maka yakinlah tak ada badai yang selamanya…

Allah tidak membebani melainkan sesuai dengan kesanggupannya…” Al Baqoroh : 286

Sumber :http://chabarullah.multiply.com/journal/item/6/Tegar_Di_Tengah_Badai_


Wallahu a’lam bish-shawabi... (hanya Allah yang Mahatahu Kebenarannya)
Catatan ini kami tujukan untuk kami pada khususnya
dan untuk semua pembaca pada umumnya...
Jika terjadi kesalahan dan kekurangan disana-sini dalam catatan ini...
Itu hanyalah dari kami...
dan kepada Allah SWT., kami mohon ampunan...

Semoga Allah SWT. memberi kekuatan untuk kita amalkan... Amin
Wassalam...

Semoga Bermanfaat...
Silahkan COPY atau SHARE ke rekan anda jika menurut Anda note ini bermanfaat...

Lampirkan sumbernya ya... Syukron

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar